Buyat, tak cuma terkenal dengan bukit damai nya yang menenangkan hati, atau teluk Buyatnya yang sering disebut orang “little Senggigi” saja.
Di tempat ini, saya menelusuri areal Pantai yang saat ini mulai berkembang menjadi ikon wisata di Minahasa Tenggara. Mungkin perlu kita berterimakasih kepada perusahaan Newmont Minahasa Raya (NMR) yang pernah beroperasi disini sehingga memungkinkan pembangunan pantai ini terlaksana.

Dari pantai yang suram, Lakban menjadi pantai wisata baru yang akan dikembangkan Pemerintah setempat. Pesona pantai ini dipercantik dengan adanya spot tempat penumbukan/penggilingan bijih besi di masa penjajahan belanda. Dulu, mesin ini suram dan berlumut, namun sekarang sudah dicat dengan warna merah ngejreng.


Selain itu, tempat duduk seperti teater kolam menghiasi pantai ini. Dibangun oleh NMR beberapa tahun lampau. Pantai Lakban juga sudah dibuka untuk umum, menjadi tempat perhelatan pesta rakyat yang digelar pada saat pantai dibuka.

Hanya, sayangnya, peran pemerintah harus lebih besar. Dari penelusuran saya di pantai yang indah ini, sudah banyak fasilitas yang agak terbengkalai. Walaupun memandang ke arah laut masih menjadi sensasi tersendiri di tempat ini.




Seharusnya jika dirawat, maka aktivitas ekonomi meningkat seiring pariwisata di pantai. Warung tak ada, koloseum sepertinya tak banyak digunakan. Situs penumbukan biji besi yang menarik memang masih terawat, tapi disepanjang pantai, pengunjung sulit menemukan tempat untuk bersantai misal kursi bangku dan minuman kelapa dan sejenisnya.


Mungkin dengan tutupnya NMR, maka dana operasional Pemda setempat tak cukup banyak. Untuk itu, Pantai yang sudah terlanjur merekat di hati masyarakat ini harus dibenahi kembali dan dijadikan tempat wisata yang indah kembali. Mari!