Rumah Puisi dan “Penipuan” Penerbitan Puisi

https://www.unggulcenter.org/rumah-puisi-dan-penipuan-penerbitan-puisi/

Membaca (kembali) mengenai kasus penerbit Self Publishing yang lumayan heboh di blognya MT, saya jadi ingin turut berkontribusi mengungkap juga perasaan galau yang kadang, sempat hilang dengan niat “ya sudahlah..” tapi kemudian muncul kembali dengan harapan agar tak terjadi lagi. Itu aja. Gak perlu banyak pembelaan, karena kalau “berniat” pasti ada jalan.. udah ampir dua tahun (hingga tulisan ini dibuat).

Awal tahun 2013 ini, saya kembali teringat –akibat baca blog MT hehe– dan pas banget momennya. Tepat Dua tahun lalu, di Desember 2010 saya adalah anggota grup di facebook, namanya Rumah Puisi grup ini masih ada, yaitu disini. Namun sayang, karena tokoh utama nya kabur, maka grup ini terbengkalai. Anggota yang kecewa tak dapat komplain karena tidak bisa post berita baru, hanya bisa komentar di post status yang ada.

Awalnya, asik juga membaca-baca puisi disana. Banyak informasi menarik juga. Akhir tahun 2010 itu juga, saya menemukan informasi lomba puisi disana. Lazim, lomba puisi akan mengumpulkan yang terbaik dan diterbitkan. Sounds familiar kan? Lomba itu namanya Kado Untuk Indonesia. Informasinya memang sudah dihapus oleh Ady Azzumar, nama pena Supriadi, S.Pd I (Sarjana Pendidikan Islam) asal Muara Enim, Sumsel.  Si Penggagas lomba sekaligus “creator Rumah Puisi”. Itu title memang selalu dia pasang dimana-mana, disetiap identitas publik yang beliau ini post, jadi bukan maksud saya “melecehkan”.

Tapi paling tidak, saya masih menemukan jejaknya, walaupun cuma sebatas pengumuman lomba dan pengumuman pemenang disini dan pernah dimuat oleh salah satu pemenang disini , disini dan  disini . Dan yang paling lengkap, Alhamdulillah dikumpulkan semua oleh pemilik blog –sekaligus salah satu pemenang. Sehingga post2 yang dihapus oleh Supriadi Sarjana Pendidikan Islam ini tetap ada disini.

Mohon maaf, karena pengumumannya terlalu panjang dan mendayu-dayu, saya hanya kutip sedikit penggalannya, salah satunya :

..di ujung deadline ternyata antusias peserta yang sampai target 100, membludak mencapai 200 lebih. maka harapan saya pada pihak yang TIDAK SETUJU denga lomba ini baik melalui SMS, EMAIL, dan komentar di FB, kiranya “JANGAN ikut lomba saya, TAPI doakan agar saya bisa berjalan lancar”

Screenshot at 2013-01-03 06:39:13

oke.. lebih dari 200 peserta berarti lebih dari 5 JUTA RUPIAH kan? Untuk biaya apa? Dan memang, sejak awal, sudah banyak yang protes sih, tapi dia tetap dengan proyeknya, mengumpulkan Pendaftaran..

“dari awal saya bilang, lomba ini kenapa harus memakai uang 25.000,- ? saya buat Nb. di info lomba bahwa uang itu untuk modal biaya penerbitan. hingga akhirnya saya dibuat haru, saya ditawarkan oleh mas Bayu Angora, dia siap menjadi Cover buku itu tanpa harus dibayar, karena ini adalah sebuah Kado untuk Indonesia, lalu .. “

Oke.. jadinya “gak kepake” buat bayar cover, terus, buat penerbitan? Hmm.. saya pernah menerbitkan buku via self-publishing seperti yang bung Ady ini mau lakukan. Yang jadi biaya itu adalah biaya cover, lay out dst. Yang paling2 Rp 500rb. Disalah satu penerbit self-publishing, saya pernah menerbitkan Rp 1 juta, sudah bersih saya cuma kirim naskah, semua hingga ISBN di urus dan saya juga dapat 20 eksemplar buku.

Hadiahnya tak seberapa, sehingga itu mungkin yang membuat teman-teman (setelah capek menunggu) membiarkan (tapi tak akan mengikhlaskan!) uang yang dikirim utk pendaftaran. Tapi, yang penting bagi kami adalah Puisi tersebut yang janjinya dibukukan dengan judul Kado Untuk Indonesia!

Uniknya, atau boleh dibilang Ironis, Ady Azzumar sebelumnya memberikan info seperti ini :

 Nb: inginnya gratisan, karena tidak ada sponsor, maka ada biaya uang 25.000,- dipergunakan untuk biaya penerbitan buku dan biaya ongkos kirim ke 100 puisi terbaik nanti. dan uang tunai itu adalah uang pribadi. karena dalam ilmu fiqih di larang uang peserta lomba di hadiahkan.

Lomba ini menjanjikan 100 puisi akan dibukukan. Dengan jumlah peserta, anggap saja “hanya” pas dua kalinya, karena dia sendiri bilang lebih dari 200 peserta,  beliau ini bisa mengumpulkan lebih dari 5 juta rupiah dari biaya pendaftaran.

Ini adalah  foto cover “sementara” dari buku tersebut  yang sempat diupload oleh Supriadi Ady Azzumar yang pernah pula mengganti nama jadi Ady Azzumar Maher Zain sebelum akhirnya dia hapus :

kado

Grup ini memakai nama Ady Azzumar, digagas oleh orang yang sama. Di awal-awal, beliau ini sering nongol, mencerahkan kita semua. Dan berinteraksi dengan semua penulis puisi di wall. Profilnya.. coba tengok sedikit “Mengenai Saya” yang terpampang di blog beliau ini :

adyprofil

Setelah menunggu dan menunggu.. kami belum menerima kabar lagi, selain kabar Pengumuman pemenang. Saya sempat kirim email dan di jawab, “sudah di penerbit, saya sudah berikan semua jadi sudah tidak disaya lagi”. What? Jadi bagaimana kelanjutannya? Tidak ada. Entah, apa bung Ady ini merasa ditipu, tertipu, atau dia yang penipu. Semua tak jelas. Tak ada kata-kata apapun dari mulutnya, yang biasanya indah mendayu-dayu sebentuk puisi. Sekarang bungkam.

Dan aksi selanjutnya, menghilang dari peredaran. Menghapus akun, mengganti dengan akun baru, berlenggak lenggok ditempat lain tanpa rasa bersalah!

Saya sempat menyindir di wall grup pada bulan Juli 2011 ketika tak jua ada kabar.. Di wall tersebut juga masih ramai, ramai dengan anggota yang mempost puisi seperti biasa. Dan diselingi dengan informasi Lomba lain, yaitu Kado Untuk Guru (yang juga KASUS) ada info nya di Annida online dan berbagai blog kepenulisan. Tapi ini saya malah tak ketemu siapa pemenangnya…

Juga, di grup tersebut, sedang pendataan Peminat Kaos Rumah Puisi yang digagas oleh user bernama Dianna Firefly. Yang bersangkutan juga sudah tidak digrup lagi, walaupun masih menggunakan akun sama di facebook, berbeda dengan Ady Azzumar yang hapus akunnya. Si Dianna ini juga tak menuliskan apa-apa lagi, tinggallah yang sudah transfer dan berharap panjang seperti saya dan tiba pada kesimpulan, “duitku dilarikan”..

Ya, Kasus Rumah Puisi Ternyata Lebih Heboh!

Setelah saya tadinya merasa hanya masalah Kado Untuk Indonesia yang tak jelas rimbanya. Namun belakangan satu dua berkomentar di grup tersebut mengenai proyek-proyek lain yang juga tak jelas juntrungannya. Ketika ada akun yang bertanya, saya coba bertanya balik, apa kah “tertipu” seperti saya? (akun itu) bilang ya.. bahkan lebih besar jumlah duitnya, tak hanya 25rb seperti saya. Tapi saya tak tanya lebih lanjut, karena memang concern saya hanya Kado Untuk Indonesia yang tak kunjung terbit, boro-boro dikirim sesuai JANJI

Saya lihat, ternyata grup Rumah Puisi (yang dimana-mana si Supriadi ini sering tulis bahwa beliau founder grup Rumah Puisi, bahkan grup ini pakai url nama dia)  dan inilah daftar “modus” (kata salah seorang anggota) Rumah Puisi yaitu :

1. Puisi untuk Dibukukan, Jilid I. Rencananya dengan deadline hingga 14 Februari 2011, akan dibukukan. Setiap hari banyak yang nge-post untuk dibukukan. Tentu tak gratis, saya yakin, karena salah satu korban sempat bilang tertipu, duitnya ilang.

2. Puisi dibukukan Jilid II. Yang pertama belum kelar, yang kedua ini lebih parah.

3. Kado Untuk Guru. Belum selesai dari Kado Untuk Indonesia, beliau ini bikin lagi sayembara, Kado Untuk Guru. Untuk yang ini, infonya salah satu nya ada di Annida Online ini.

4. Puisi Kartini. Entah seperti apa kelanjutannya.

5. Kaos Rumah Puisi. Nah, ini saya juga gak ikutan, tapi menurut kabar yang saya terima di wall grup, sampai sekarang belum kelar. Dan yang mempunyai project, dengan nama akun Dianna Firefly sudah keluar dari grup. Entah apa hubungan dia dengan Ady Azzumar yang bahkan menghapus akunnya sehingga tak bisa dihubungi. Bagi yang mau penjelasan orang ini, silakan cek saja di facebook, sebelum ikut-ikutan si Supriadi Ady Azzumar yang ganti akun.

Screenshot at 2013-01-03 02:22:08

Untuk 1-5 ini, Alhamdulillah saya tak terlibat dan tak menjadi korban. Saya juga tak bisa menceritakan lebih jauh, jadi saya bisa saja salah, karena saya hanya pengalaman dengan kasus 6. Kado Untuk Indonesia yang tak kunjung terbit. Saya hanya dapat menelusuri dari post-post secara mundur hingga ke January 2011. Capek abiss meng-scroll nya hehe.. dan semua komentar Ady Azzumar semua hilang, karena akun yang dia pakai utk komentar dihapus.  Jadi Anda dijamin tak bakal menemukan komentar beliau ini disana. Kalau gak percaya, silakan liat grup Rumah Puisi dan scroll down sampe DUA TAHUN kebelakang seperti saya hihi..

Silakan lihat saja komentar-komentar dibawah ini yang saya ambil dari grup tersebut. Saya tak mau bilang “menipu” itu, tapi apakah tidak ada cara untuk sekedar mengklarifikasi, apapun itu, jika memang Ady tidak bersalah? Merasa mampukah dia menahan beban sumpah serapah orang yang dirugikan?

Screenshot at 2013-01-03 00:09:42

Screenshot at 2013-01-03 01:16:51

Screenshot at 2013-01-03 01:17:27

Screenshot at 2013-01-03 01:20:10

Screenshot at 2013-01-03 01:32:20

Screenshot at 2013-01-03 01:39:05

Screenshot at 2013-01-03 01:52:51

Screenshot at 2013-01-03 01:59:04

pengumuman mulai produksi.. tapi.. nyatanya? hehe..
pengumuman mulai produksi.. tapi.. nyatanya? hehe..

Hasil “obrolan” terakhir saya dengan beberapa anggota Rumah Puisi. Sengaja saya capture, agar kalau tiba-tiba Grup ini DIHAPUS, masih ada bukti. Dan biarlah ini jadi obrolan terakhir, yang penting tahun 2013 ini, tepat 2 tahun, saya sudah menyampaikan keluh kesah, mewakili ratusan orang yang merasa ditipu (merasa loh ya, saya nggak bilang kamu penipu, tapi tentu hilang tak berbekas tanpa kabar apakah itu namanya?)

Screenshot at 2013-01-03 16:55:21Screenshot at 2013-01-03 16:52:50

Screenshot at 2013-01-03 22:49:00

Secara materi, saya hanya “rugi” Rp25rb sebenarnya. Mungkin teman-teman lain kira-kira 100rb keatas (puisi jilid 1 dan jilid 2, kaos)  Bayangkan, 100 orang saja, dia bisa kumpulin 10 juta per-“proyek”.. –terlepas nanti apa ditipu orang lain lagi dst– tapi bukan begini caranya, ada Etika adan Usaha ada Tanggungjawab, ada “bisnis”. Dan kerugian imateri lebih dari itu. Dia telah menyalahgunakan kepercayaan orang, para anggota dan para penulis puisi dan peng-order baju kaos. Pernah satu kali dia menjawab kalau penerbitan sudah dia serahkan ke seseorang (saya lupa) dan dia lepas tangan. Dia nggak bilang tertipu, juga tidak bilang maaf. Tak bertanggungjawab. Setelah itu, akun dia hapus, bahkan email dimana saya mengirim naskah untuk dilombakan dulu juga dihapus! Saya lampirkan email yang bounce back karena dihapus akun email ini. Silakan coba kirim ke : indonesiaku2011@yahoo.co.id bagi yang ingin membuktikan.

Screenshot at 2013-01-03 02:32:37

Sepertinya dia ingin memulai hidup baru, cuci tangan dan menjadi pemuda alim seperti biasanya. Akun baru dia buat lagi di Facebook yaitu INI dan INI. Juga membuat akun di Kompasiana, dan Twitter dengan bangganya menunjukkan karya-karyanya di biografi/profilnya. Dia juga membuat blog di blogspot baru di SINI pada tahun 2012, seakan-akan baru saja muncul di dunia maya taun itu.. padahal, blogspot nya yang lama masih ada di SINI .

Uniknya, dia juga merasa ditipu sama penerbit yang ditulis di blog nya MT,  yaitu Inzpirazone. Namun ditolak mentah-mentah sama Akhi Dirman, bos penerbitan yang bermasalah tersebut dengan menyatakan kalau si Ady ini sudah dikirim royaltinya, dan memfitnah dia.  Bingung kan siapa yang nipu? siapa yang benar? atau.. dua-duanya? Silakan cek blog ini ada bung Ady ini komplain tentang penipuan dari penerbit Inzpirazone..  Sekarang coba klik nama Ady Azzumar Maher Zein.. akan menuju facebook dan profil nya sudah dihapus (akun dihapus). Akhi Dirman atas nama Inzpirazone juga membantah Ady dan menuduh Ady memfitnah. Ah, pusing kan kalau benar begitu!

tulisan Supriadi Ady Azzumar komplain dan menelisik rekening penerbit
tulisan Supriadi Ady Azzumar komplain dan menelisik rekening penerbit
Bantahan Akhi Dirman..
Bantahan Akhi Dirman..

Kalau memang Anda merasa ditipu orang lain, misalnya si Akhi Dirman, Sudirman, Sudarmin atau apapun siapapun, tak pantas juga Anda berdiam diri dan lepas tangan. Tak ada klarifikasi, pergi dan menghapus akun. Inikah pelajaran dari pendidikan Islam yang beliau amalkan melalui perbuatan? Hmm.. saya muak, kalau ada oknum-oknum seperti ini. Padahal pada bulan OKTOBER 2011 Akun Addy Azzumar Maher Zain masih aktif, terbukti di SINI ketika yg bersangkutan message-message penerbit Inzpirazone. But wait, itu bukan masalah Kado Untuk Indonesia, tapi buku lain. Hehe.. selama berbulan-bulan gak dikabari kami-kami ini.. 🙂

Etiskah, atau berakhlak kah? ketika ada masalah (jika benar), Anda kabur, membawa lari uang orang, memulai hidup baru tanpa dosa? Tidak ada usaha untuk sekedar menginformasikan kepada kami? Apa iya berbulan-bulan, Dia nggak bisa mencari SATU cara pun untuk menghubungi kami dan menyatakan yang sesungguhnya? Dan malah menghapus akun, menghapus komentar-komentar di Rumah Puisi, notes-notes tentang buku-buku puisi dan lombanya yang menjanjikan hadiah, membuat akun baru, dan seakan-akan tak pernah ada kasus, dan paling parah, SEAKAN TAK PERNAH ADA RUMAH PUISI!

Saya baru paham kenapa kami ga bisa nge-post di wall grup Rumah Puisi. Karena adminnya sudah tutup akun. Kalau memang gak bisa login, find a way to inform. As simple as that. Atau, bikin aja sekalian Rumah Puisi baru. Toh yg pertama punya url nya, Ady Azzumar bukan Rumah Puisi dsj. Ini kabur aja. Jadi, saya sebenarnya mengingatkan ke sesama Muslim. Jika Anda kabur (oke lah, menghilang) Anda dihujat dan diprasangka buruk. Can you live with that?

Yang menyakitkan, beliau ini adalah Mantan Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Sumsel, sama dengan Akhi Dirman (empunya) Inzpirazone,  penerbit bermasalah yang FLP Bima. Sama-sama mencantumkan data diri sebagai ketua organisasi kepenulisan yang Islami. Saya mendukung aktivitas FLP karena mencerahkan, islami dan banyak alumnusnya sukses, layak jadi panutan penulis muda dan pembaca seperti kami yang rindu ruh keislaman dari sisi karya sastra. Tapi oknum seperti ini bisa merusak nama FLP, jadi mungkin FLP perlu cross-check ke yang bersangkutan. Kalau, saya, boro-boro tabayyun, akunnya dihapus, email dihapus, dan tak berjawaban… Innalillah..

Jadi, saya ingin tantang saudara Supriadi ini, kalau memang bukan menipu kami, apa pembelaan Anda. Dan sebagai seorang yang kelihatan shalih, Anda tentu tahu, apa itu Jujur, Amanah, dan tidak Men-zolimi orang lain dimata Agama.. bukan menghilang.  Bung Supriadi, kalau ada yang mau disampaikan, hubungi akun twitter saya @unggulcenter dan segera klarifikasi di BLOG ini! Minta Maaf kalau Anda salah, dan berikan SOLUSI!

Sindiran saya melalui puisi juga di wall grup Rumah Puisi.. berbulan-bulan tak ada kabar
Sindiran saya melalui puisi juga di wall grup Rumah Puisi.. berbulan-bulan tak ada kabar

Sebagai penutup, mungkin inilah kelemahan dalam dunia internet. Melakukan penipuan hal yang gampang, apalagi jika tak ada hitam diatas putih, hanya berbasis kepercayaan. Ini yang membuat dunia maya masih sangat kelam. Dan selalu dan selalu ada yang menipu dan tertipu. Semua penipu bisa berkilah ikut ditipu, lupa, sudah melakukan tugasnya namun tak sampai ke pembeli dan seterusnya. Bagi konsumen/klien, kadang karena nilai uang yang hilang “tak seberapa” akan juga diam. Padahal, jika didiamkan, akan lebih banyak korban. Inilah etika dan kejujuran tak bisa serta merta menjadi satu koin yang bolak balik. Bahkan identitas pun bisa dipalsukan.

Bagaimana, apakah ada pendapat dari teman-teman? Saya juga mengundang teman-teman RUMAH PUISI yang tertipu (maaf saya tak bermaksud menuduh menipu tapi fakta menunjukkan seperti itu. Silakan klarifikasi) untuk berbicara di blog saya ini, agar Keadilan, paling tidak diwujudkan di ranah sosial media dan pengadilan masyarakat yang mengadili pelaku,  kebijakan masyarakat yang dapat mengucilkan pelaku. Hanya itu saja yang bisa kami lakukan. Dan kalau setelah ini ada tanggapan dari dia, saya mau bilang “Masbro.. Dua Tahun masbro.. kemane aje, ke planet Mars? Kalo gak ditulis oleh saya, ampe kiamat ente nggak muncul kayaknya.. betul nggak? Gak bisa buka fesbuk, berusaha apa kek ngasih tau peserta kejadian sebenarnya ya? Atau.. memang.. isi sendiri deh..”

PS :

(1) Rumah Puisi dalam tulisan ini adalah Rumah Puisi group yang ada di Facebook dengan alamat : https://www.facebook.com/groups/AdyAzzumar/  mohon maaf apabila ada kesamaan dengan kata generik rumah puisi yang lain.

(2) Supriadi aka Ady Azzumar Maher Zain aka Ady Azzumar dalam tulisan ini beralamat (entah kalau sudah pindah) di : Jln. Ir. H. Djuanda. No 21 Kel. PS III Muara Enim, SUMSEL (31314) CP: 0852 6755 7556. Email & FB: Ady_Az_zumar@yahoo.co.id

UPDATE : Masih berbaik hati, saya sampaikan Kepada Supriadi jika memang punya niat baik silakan lapor ke Facebook akun Anda yang “katanya” Dibajak sampe hampir dua tahun itu di http://facebook.com/hacked/  jika Anda beralasan lagi, hmm.. saya gak bisa ngomong apa lagi deh.

UPDATE 7 JANUARI 2013 : Akhir Dirman Inbox Facebook saya, dan menegaskan kalau Ady Azzumar berbohong dan memfitnah dia. Menarik, karena menurut beliau, Ady Azzumar Supriadi ini “demi duit” Sampai TIDAK MENGAKUI Nomer Rekening nya sendiri yang sudah ditransfer duit (menurut versi Akhi Dirman). Nah, Saya tidak mau berkomentar banyak, hanya membalas saya akan berusaha “netral” dalam hal ini, karena saya refer Link dari teman blogger, yaitu Blog MT dan juga satu sisi dari @kangbugi dan beberapa blogger lain. Sumber saya itu, dan salah satunya Kang Achoey yang dari salah satu sisi lain. Silakan saya baca infromasi dia dibawah ini, atau, link ke Komentar dia yang saya Post di Komentar Post ini DISINI.

Tanggapan Akhi Dirman atas Tulisan saya yang menyinggung Kasus Ady Azzumar vs Inzpirazone
Tanggapan Akhi Dirman atas Tulisan saya yang menyinggung Kasus Ady Azzumar vs Inzpirazone

About the Author: unggulcenter

Pengelola UC - Review Pengalaman Produk dan Perjalanan

You might like

26 Comments

  1. Miris juga membaca banyak penipuan self publisher. Mudah-mudahan lain kali bisa lebih selektif lagi memilih self publisher. Banyak kan penerbit indie yang sudah lama berdiri dan punya reputasi yang baik?

  2. salam semuanya…
    sebelumnya perlu saya informasikan, alhamdulillah masalah saya (tahun 2011 yang lalu) sebenarnya sudah diselesaikan dengan baik. Intinya saya (selaku pihak yg dianggap sebagai penipu) dan saudara saya Ady Azzumar dan naqiyyah Syam (selaku pelapor) menyerahkan bukti2 berkas yang kami punya ke FLP Pusat. Kemudian dua bukti itu ditelaah dan jika ada ketidak cocokan dibicarakan antara pihak FLP pusat dengan Saya dan Ady + Naqiiyah.
    Apakah yang terjadi? Alhamdulillah saya dibebaskan dari tuduhan, karena mmg saya mempunyai :
    1. Bukti transfer ke Ady
    2. Bukti kirim buku ke pemesan (yang kata Ady + Naqiyyah tdk saya kirimkan ke pemesan, padahal setelah dicekcross buku2 itu mmg sudah lama dikirim dan sampai ke pemesan)
    3. Saya akui, masalah saya yg agak ‘ribet’ syaitu dengan pak Bugi Sumirat dan saudara saya MT. Pada dasarnya pak Bugi memesan dengan biaya kirim yang hanya cukup untuk biaya prangko, salahkah ketika kami mengirimnya juga dengan prangko? Dan mungkin mmg lagi sial, buku itu TIDAK SAMPAI KE PAK BUGI
    4. Menyikapi masalah yg ketiga ini, kami sudah mengirim buku yg sama sesuai pesanan ke pak Bugi (melalui MT). yang kami janjikan kirim tgl 26, kami percepat dengan mengirim tangan 22 dan sampai tanggal 23 januari dengan jasa kilat khusus tercatat.

    Demikian penjelasan dari saya. Mohon maaf atas ketidaknyamanan pak Bugi dkk

    salam takzim

  3. Tanggapan Akhi Dirman dari Inzpirazone, Penerbit yang Gulung tikar karena banyak masalah. Menurut dia, Ady Azzumar berbohong dan memfitnah. Silakan pembaca cermati sendiri :

    Akhi Dirman Al-Amin II

    aswrwb mas unggul
    saya sdh membaca tulisan mas ttg Rumah puisi. saya sngat menghargai itu
    Tapi mohon maaf mas, saya menyesalkan tulisan mas ttg saya. saya akui bbrp ada benarnya, misalnya ttg kekhilafan saya mengirtimkan buku yg ternyata blm sampai ke alamat pak bugi, meskipun sy janjikan untuk dikirim ulangh ke alamat beliau
    ttg saya dgn ady, sungguh, sy tdk ingin membuka luka lama. dl saya hanya korban fitnah mas. semua royalti penulis sdh dibayar, termasuk ady adzumar. meskipun pas disidang flp pusat dia tdk mau mengakui, bahkan tdk mengakui nmr rekeningnya sendiri, tp alhmd sy mempunyai bukti transfer yg mematahkan tuduhan dia.dan flp pusat memenangkan sy. bahkan Achoey Mi Janda membantu sy menyelesaikan masalah ini.
    krn masalah ini dulu, saya minta mundur dr flp mas. tp tdk direstui sama flp pusat, krn mmg sy tdk bersalah.
    demikian dr saya mas. mhn maaf telah menyita waktu mas. wasalam

  4. aslm

    saya selaku ketua flp sumsel yang aktif saat ini mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang merasa dirugikan oleh anggota kami.

    walau demikian ane akan coba menjelaskan duduk persoalannya, yang ane tahu bahwa memang saudara adi memang pernah mengadakan pengumpulan naskah dan akan menerbitkan kumpulan naskah tersebut bersama dengan beberapa anggota lain dari flp luar sumsel. akan tetapi penerbit yang menangani masalah ini mengalami kebangkrutan. masalah ini sudah sampai ke pusat dan sudah diselesaikan di pusat.

    ane minta maaf jika ternyata masalah ini masih belum selesai dengan pihak peserta yang mengikuti antologi buku tersebut. perlu diketahui bahwa ketika antologi itu diterbitkan saudara adi az zumar sudah tidak lagi duduk sebagai ketua flp dan sudah tidak lagi aktif di flp, flp sumsel khususnya. beliau sudah pulang ke muara enim dan bermukim disana, kami di flp sumsel khususnya merasa tidak pernah terlibat dalam pembuatan antologi buku tersebut karena para anggota flp tersebut membuat proyek tersebut secara pribadi.

    ini nomor kontak adi azzumar yang saya punya terkahir kali 088274019486/088274029030/085267156694/085267557556

    sekali lagi kami keluarga besar flp sumsel mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas masalah ini.

    ketum flp sumsel

    acep kusmana

    1. Wa’alaikumsalam..

      Terimakasih Kang Acep Kusmana atas penjelasannya.

      Bagi kami (saya), tak penting menghubungi yang bersangkutan, tapi kalau kebetulan berada di daerah palembang atau muara enim, silakan.. hubungi.

      Karena seharusnya yang bersangkutan melakukan USAHA untuk menghubungi, menjelaskan dan seterusnya kepada peserta. Dalam hal ini, saya, khusus untuk Kado Untuk Indonesia (KUI) bukan yang lain. Entah kalau yang lain.

      Saya pribadi menerima permohonan Maaf dari FLP Sumsel dan menjadikan ini pelajaran. Walaupun sebenarnya karena menyangkut FLP, setidaknya FLP Sumsel bisa menjadi jembatan bagi kami ke yang bersangkutan, bukan hanya menunjukkan no telepon dan kalau Ady sudah “pulang kampung” apakah dengan demikian FLP menganggap dia bukan bagian lagi? sehingga tak mau menjembatani? 🙂 Toh mau ngga mau, nama FLP nyangkut disini. Ya atau gapapa lah biar terkenal mungkin? 🙂

      Saya sebagai blogger, hanya bisa nge-blog dan memang saya maunya ya cuma itu, bikin tulisan di blog saja. Untuk pengingatan kedepannya. Nggak nuntut macem2, tapi memberikan ruang untuk klarifikasi dan solusi di kolom Komentar ini. Walau saya ngga jamin saya akan turunkan berita ini krn ini based on pengalaman saya pribadi.

      Saya sendiri ngga mau ambil pusing. Kalau Supriadi berniat baik, saya tunggu BUKU tersebut dirumah saya di Bogor. Masalah selesai. Untuk kasus dengan teman-teman lain, silakan bagaimana yang terbaik.

      Wassalamu’alaikum Wr Wb

  5. Miris ya mas..makanya saya gak begitu tertarik lg ikutan nerbitin buku klo gak sama temen2 yg dikenal. hehe.

    Atau jgn2 ady azuma itu sama dg akhi dirman (1 org)

  6. waw.. ternyata samapai seheboh ini ya..
    mim baru tauu loh *telat* hehehe..

    semoga bang ady diberikan pencerahan untuk bisa muncul lagi dan memberikan penjelasan didunia maya yang sudah ditinggalkannya begitu saja ^^

  7. Kenapa harus FLP, kenapa?? Bukankah FLP itu organisasi kepenulisan bernafaskan islam? Apakah segelintir oknum semacam azzumar atau pun sudarmin memakai kalimat2 thoyyibah dan terkesan nyantri hanya untuk kedok penipuan mereka? Terlalu.

  8. Beruntung gw bukan penipu dan yang kena tipu, 🙂 Saya memang gak tertarik dengan lomba-lomba penulisan yang gak jelas dengan uang pendaftaran sekian dan iming-iming hadiah. FLP harus mengklarifikasi masalah ini supaya kepercayaan orang awam terhadap organisasi kumpulan penulis ini hilang. Lha, piye tho, ” karena dalam ilmu fiqih di larang uang peserta lomba di hadiahkan.” wkwkwkwk…. kemana lu Supriadi aka Ady Azzumar Maher Zain aka Ady Azzumar?

  9. saya ikut juga..KADO UNTUK INDONESIA..DAN RUMAH PUISI JILID 1.mungkinkah saya juga jadi korban…ternyata ata hati saya udah diulas panjang lebar diatas…gmn bang ady azzumarr tANGGAPAN ANTUM?

    1. betul mas, saya juga nggak pengen nulis kata “penipu” juga masih punya hati seperti mas yg masih tetap bilang “mungkin”… “mungkinkah saya juga jadi korban” .. tapi memang kita tunggu saja klarifikasi Ady Azzumar ini..

  10. 1. beginilah jika Kang Unggul (blogger) dikecewakan, menuliskannya di blog untuk mencari kejelasan dan solusi.
    2. kasus spt ini dan yg tertulis di beberapa blog, tentu berdampak buruk thd citra FLP sbg organisasi kepenulisan yg “bernapaskan” agama. FLP dipandang perlu menyampaikan klarifikasi untuk memperbaiki citranya.
    3. di tengah semangat blogger/facebooker menulis (buku) ternyata ada saja org yg memanfaatkan untuk mencari duit dg cara yg kurang terpuji. terlebih, dg membawa embel-embel islami. memuakkan!
    4. kita sama-sama belajar bahwa penting sekali memahami etika berinternet dan UU-ITE agar bisa lebih bijaksana dan melek hukum dalam berinteraksi di internet. apa yg kita perbuat dlm konteks internet memang bersifat maya, tetapi sesungguhnya merupakan realitas nyata.
    5. apa yg tertulis di sini mesti ditindaklanjuti di ranah social media untuk mendapatkan saling pemahaman dan solusi. spt kasus yg kami angkat di blog saya dan diperbincangkan via twitter, yg sementara menunggu pembuktian pada 26/01/2013. jika pd tanggal tsb tak sesuai kesepakatan, akan dilanjutkan ke tahap yg lebih pasti.

    1. Ya, saya juga menunggu klarifikasi, karena ini ternyata sudah banyak dikonfirmasi oleh teman-teman lain.. dan saya masih berkhusnuzon si Ady ini akan memberikan klarifikasi, walau mungkin, kalau tanpa Solusi, kami tak bisa mengikhlaskannya…

    2. salam semuanya…
      sebelumnya perlu saya informasikan, alhamdulillah masalah saya (tahun 2011 yang lalu) sebenarnya sudah diselesaikan dengan baik. Intinya saya (selaku pihak yg dianggap sebagai penipu) dan saudara saya Ady Azzumar dan naqiyyah Syam (selaku pelapor) menyerahkan bukti2 berkas yang kami punya ke FLP Pusat. Kemudian dua bukti itu ditelaah dan jika ada ketidak cocokan dibicarakan antara pihak FLP pusat dengan Saya dan Ady + Naqiiyah.
      Apakah yang terjadi? Alhamdulillah saya dibebaskan dari tuduhan, karena mmg saya mempunyai :
      1. Bukti transfer ke Ady
      2. Bukti kirim buku ke pemesan (yang kata Ady + Naqiyyah tdk saya kirimkan ke pemesan, padahal setelah dicekcross buku2 itu mmg sudah lama dikirim dan sampai ke pemesan)
      3. Saya akui, masalah saya yg agak ‘ribet’ syaitu dengan pak Bugi Sumirat dan saudara saya MT. Pada dasarnya pak Bugi memesan dengan biaya kirim yang hanya cukup untuk biaya prangko, salahkah ketika kami mengirimnya juga dengan prangko? Dan mungkin mmg lagi sial, buku itu TIDAK SAMPAI KE PAK BUGI
      4. Menyikapi masalah yg ketiga ini, kami sudah mengirim buku yg sama sesuai pesanan ke pak Bugi (melalui MT). yang kami janjikan kirim tgl 26, kami percepat dengan mengirim tangan 22 dan sampai tanggal 23 januari dengan jasa kilat khusus tercatat.

      Demikian penjelasan dari saya. Mohon maaf atas ketidaknyamanan pak Bugi dkk

      salam takzim

  11. Ketua FLP Sumsel? Saya ingin dengar komentar dari pihak FLP Pusat. Diakui tidak tuh si Ady sebagai ketua. Atau akan dijawab ini urusan internal organisasi? 😉

    Salam persahablogan,
    @wkf2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.