Masih ingat berita heboh sebelumnya mengenai Bocah 8 tahun Jenius IT yang “nyuekin” Microsoft yang dimuat di UC beberapa waktu yang lalu disini yang merupakan versi agak bercanda, dan versi seriusnya, UC postkan di media online kabar indonesia yang sudah informatif, to the point, dan menariknya, sudah ada Foto Marco loh!
Lalu, lebih menarik lagi, ternyata ada beberapa anak jenius bersertifikasi Microsoft usia muda sebelumnya. Tercatat tahun 2005, bocah perempuan asal Pakistan, Arfa Karim Randhawa, berumur 10 tahun, menjadi insinyur microsoft termuda. Rekor Arfa dipecahkan awal tahun ini juga, tidak lama setelahnya dipecahkan kembali oleh Marco, yaitu oleh Gadis cilik asal India, yaitu M. Lavinashree. Yang baru berusia 9 tahun!
Dua gadis cilik ini, selain beroleh sertifikasi Microsoft tersebut, tanpa berpuas diri, sudah menargetkan sertifikasi microsoft berikutnya. Masing-masing, Arfa mengincar Microsoft Certified Solution Developer, sedangkan Lavinashree sangat menginginkan Microsoft Certified System Engineer. Demikian juga Marco, yang malah lebih jauh pemikirannya, ingin membuat sistem operasi sendiri!
Pelajaran yang dipetik, selain “profesional IT” yang dilihat dari certified tidaknya, bukan dari pendidikan formal, alih-alih umur! Kedua, kalau kita telusuri, bocah-bocah jenius ini sudah meminta kepada orangtuanya komputer sejak umur 2 tahun!
Kabarnya, ketiga bocah ini sudah “di-ijon” oleh Microsoft untuk bekerja disana ketika umur 20 tahun. Seperti yang dikemukakan oleh Arfa, 10 tahun asal Pakistan yang ingin cepat bekerja dan bertanya langsung ke Bill Gates, kok perempuan sedikit yang bekerja di IT.
Pertanyaan menggelitik diakhir cerita, kalau sertifikasi IT selain Microsoft, siapa pemegang rekor termuda ya?? Adakah seorang bocah diluar sana, pemegang RHCE, LPIC atau lainnya?? Jangan-jangan, memang menjadi Insinyur Microsoft, ikut tes itu, lebih gampang –bahkan seorang bocah, walau kita akui sangat pintar– pun, dapat lulus dengan gemilang. UC memang belum riset, jadi belum mengetahuinya. Sebab, ada banyak sertifikasi IT lain yang non-vendor misalnya Certified Ethical Hacker (CEH), atau vendor networking semisal CCNA dst. Namun, yang pasti, oleh sebab sifat proprietary produk Microsoft yang tentunya hanya diketahui oleh insinyur-insinyur nya sendiri. Kalau sertifikasi sistem operasi lain, berbasis Free & Open Source, yang kode sumber nya terbuka dan bisa dimodifikasi sedemikian rupa, mungkin tidak “segampang” itu. Atau.. sebaliknya, memang sangat gampang sehingga tidak menjadi hal yang patut dibanggakan bagi pemecah rekornya?