Tak Hanya Hindari Razia

https://www.unggulcenter.org/tak-hanya-hindari-razia/

Aduh!

Begitulah waktu itu ekspresi reflek saya saat nggak sengaja kepala kejedot (menabrak) meja. Ulah bayi mungil, Kaka, yang melempar-lempar berbagai mainan ke sana kemari membuat saya terpaksa jadi tukang pungut sampah dadakan.

Akhir pekan memang keluarga prioritas utama. Tak jarang kami hanya seharian dirumah. Saya, istri dan anak semata wayang yang belum genap satu tahun ini. Bermain-main, bergelut, nonton televisi.

Anak ini pintar. Cepat sekali meniru. Entah darimana dia meniru lempar-lemparan ini. Mungkin dari televisi. Bola mainan saja sudah ditendang2 olehnya karena ikutan ayah bundanya nonton Piala AFF (dulu Piala Tiger) yang sedang heboh saat ini karena “kebangkitan timnas”. Karena belum bisa jalan, Kaka dipegangi oleh saya atau Bundanya.

Nah kali ini banyak mainan dilempar ke bawah meja tamu. Disitulah tragedi kepala nyangkut di bawah meja yang menimbulkan teriakan diatas.

Kaka malah ketawa-ketawa. Mungkin dikiranya ayah bercanda. Lucu sekali, sampai terbahak-bahak dia. Selanjutnya, bisa ditebak, makin banyak mainan dia lempar. Sekarang ke berbagai penjuru rumah, sejauh yang dia bisa. Dasar bayi.

Duakk!

Kali ini bukan kepala saya. Tapi kepala Kaka. Belum bisa berjalan, dia mencoba berdiri dengan menggapai-gapai. Ujung taplak meja yang dijadikan pegangan tentu saja tak kuat. Tertarik, kemudian kepalanya beradu di ujung meja. Aduh. Untung saja, ujung meja tumpul.

Huaaa.. huaaa.. huaaa..

Akhirnya menangis. Tanpa jeda, langsung saya gapai dan rangkul di pangkuan. Tak lupa ditiup-tiup keningnya. Dia berhenti menangis, ketawa-ketawa lagi. Mungkin geli karena ditiup-tiup angin sepoi-sepoi. Angin ini bau lagi, maklum, di minggu pagi, belum mandi hehe..

Kejadian ini di ruang tamu. Saya sapu pandangan ke penjuru ruangan.

Di pojok di dekat tempat sepatu, berjejer beberapa helm. Dari helm “SNI”, helm “catok”, helm “buluk” hingga helm yang tak jelas itu bisa disebut helm atau bukan. Hmm..  jadi teringat masalah antara kepala, helm dan polisi…

——

Kepala, Otak, Helm dan Polisi

Sejak peraturan helm motor yang harus SNI, maka saya tak lagi pakai helm “biasa-biasa”. Helm sekarang pun sebenarnya tak SNI. Tapi SNT (Standard Nasional Thailand) hehe.. lupa tulisannya apa, yang pasti sudah “terakreditasi” di negeri gajah putih tersebut. Sebab helm ini entah didapat Adik saya darimana, tau-tau sudah ada dirumah. Katanya sih beli seken.

Ingat helm, pasti kita ingat mengenai berkendara yang aman. Bahasa umumnya “Safety Riding”. Namun pada praktiknya, menurut saya kadang salah penerapan, dalam artian, digunakan hanya untuk menghindari razia semata. Ya, ngaku deh, begitu kan?

Kecuali para bikers yang setau saya sangat disiplin masalah aman berkendara ini, masyarakat umumnya dalam berkendaraan tak begitu peduli. Apalagi kalau tak ada polisi. Lebih-lebih kalau sudah tahu, posisi strategis pak polisi. Di Kota Bogor, tempat saya tinggal, biasanya sih paling banyak di sekitar Tugu Kujang hehe.. juga perempatan warung jambu dan sekitar Bogor Trade Mall (BTM) dan Pintu Utama Kebun Raya Bogor (halah jadi ngomongin ini).

Saya jadi kebayang. Gimana ya kita menghargai “otak” kita, apabila di jalanan saja, di kendaraan kita tak memakai helm. Banyak orang yang acuh, tak memakai helm hanya karena itu tadi, kalau tak ada polisi.

Heran juga, pengalaman saya, banyak kaum perempuan “bonceng-ers” yang tak mau memakai helm karena alasan merusak rambut, tatanan jilbab, atau bahkan karena helm yang bau. Sadarilah, memakai helm tak hanya untuk hindari razia polisi. Itu demi sesuatu yang kau tak akan bisa hidup, kau akan menjadi ZOMBIE selamanya kalau itu tak ada. Untuk otak dan kepalamu!

Pernah suatu pagi, saya mengantar istri ke terminal. Sekitar pukul setengah enam pagi. Nah karena masih “sepi” istri males pakai helm. Ngotot. Akhirnya sebagai suami yang baik dan pengertian serta tidak sombong (ehm) saya mengalah. Namun dengan persyaratan saya nggak mau nganter lewat “depan” alias jalan raya. Akhirnya kami naik motor lewat “belakang” alias jalan-jalan perumahan atau jalan kecil, yang ujung-ujungnya tembus ke belakang IPB Baranangsiang.

Pas mau ke jalan raya, eh ternyata ramai polisi. Entah razia atau apa. Otomatis motor saya hentikan, istri disuruh jalan. Hehehe.. dan jalan kaki yang lumayan jauh juga menuju terminal. Tapi bagi saya, “daripada-daripada” nih. Lagian, jalan kaki sehat mencegah osteoporosis loh. Yach sebuah kejadian.

Kalau menurut saya, lebih baik lengkapi semua kondisi kendaraan. Kaca spion, plat motor semua lengkap. Helm dipakai yang SNI. Jangan lupa SIM dan STNK jika sewaktu2 kena razia.  Semua nya tercantum kok di UU No 22 Tahun 2009. Kalau semua lengkap tentu perjalanan tak was was. Setuju kan?

Ya nggak perlu juga memaksakan diri “berdandan” seperti bikers itu yang berjaket kulit, motor besar dan sepatu-sepatu ala militer.  Pokoke minimal sudah sesuai standard keamanan sudah cukup. Safety riding juga bukan hanya perlengkapan semua ada sih, tapi juga CARA kita berkendara. Setuju? Tapi ulasan tentang itu biar teman-teman lain deh yang bahas. Saya mau fokus ke masalah “helm” saja dulu. Karena ingetnya yang basic ya itu!

Biar tau apa saja yang perlu diperhatikan (dan dendanya berapa hehe..) berikut ini poster nya :

Perlindungan Otak dan Kepala

Pembaca, saya tidak punya gagasan lain selain bahwa berpikir, bertindak, bahkan saat tidurpun kita memerlukan aktivitas otak. Misalnya mimpi. Nah, apalagi hanya mengetik tulisan ini.

Lalu, apabila kita tidak berhelm, maaf-maaf, kalau terjadi kecelakaan apa sanggup kita menerima bahwa ada something wrong dengan kepala kita? Gegar otak, atau “bocor” kata orang-orang. Bukan sekali dua kali gambar-gambar tetesan darah mengalir dari telinga orang yang kecelakaan lalu-lintas. Ini berbahaya.

Kalau Anda gemar berolahraga motor atau sepeda, tentu perlu pelindung kaki, tangan, siku dan lutut ya kan? Nah, untuk kegiatan ‘sehari-hari’ helm adalah perlindungan paling vital dan ‘pertahanan’ paling terakhir dari kondisi diri. Kecelakaan lalu-lintas mana yang paling parah? pasti yang korban tak memakai helm, atau memakai helm asal-asalan, atau memakai helm dengan benar tapi helmnya yang tidak benar!

Sekarang, kalau luka di kaki dan di tangan tentu bisa disembuhkan. Bahkan patah dan amputasi pun Anda masih bisa “berkarya”. Banyak orang yang cacat fisik tapi punya prestasi gemilang. Karena otaknya dia jaga. Tidak “bergeser”, “salah arah”, atau sudah “tak sempurna”. Tapi kalau sudah urusan kepala, gegar otak, Anda mungkin hidupnya tak akan sempurna lagi. Amit-amit deh mikirinnya.

Jadi, saya pikir, perlindungan kepala ini sangat penting. Lah tanpa berkendara pun kita perlu perlindungan. Misalnya, tidur dengan bantal hehe.. Contoh lain, menyundul pun pake kening dan bagian kepala yang keras. Bukan belakang bawah kepala yang merupakan tempat nongkrong otak kecil (serebelum) . Otak yang menjadi navigator keseimbangan (ekuilibrium).

Mampukah kita melihat, orang-orang yang kita sayangi, fisiknya sempurna, tapi jiwanya labil, tak seimbang, intelektualitasnya berkurang, gairah hidupnya turun, hanya karena tak melindungi pusat dari segala aktivitas, yaitu Kepala?

Jadi, lindungi kepala kita, otak kita. Melindungi otak ya dengan otak. Mikir dong hehe.. ya pakai Helm. Bukan sekedar helm. Sebab helm itu melindungi kepala kita dan otak kita, bukan melindungi kita dari “inceran pak polisi”.

Jadi, sepakat sekali, bahwa helm cetok, non-SNI (tidak standard) itu jangan dipakai. Tak perlu peraturan, kalau Anda peduli dengan masa depan, lindungi bagian vital dengan yang terbaik.

Pernah nggak kita tiba-tiba tidak jadi membeli barang karena tidak yakin akan kemampuan barang itu? Misalnya untuk melindungi kemaluan dalam bertanding tinju ada yang bermerk ada yang nggak. Nah, pilih mana? Hehe.. risikonya terlalu besar man, kalau pakai “pelindung kemaluan” tanpa merk hihi.. bisa madesu. Masa depan suram.

Kalau barangnya meragukan, apalagi track recordnya jelek tentu tak dipakai. Bukan juga sekali dua kali kita lihat kecelakaan lalu-lintas, si pengendara terkapar dengan helm yang pecah. Yang terguling-guling di jalanan. Tentu itu bukan helm SNI yang sudah distandardisasi untuk keselamatan, bukan sekedar “penutup kepala”.

Kecelakaan lalu-lintas bisa dicegah dengan safety driving. Jelas. Itu juga bukan hanya masalah helm, tapi biar teman-teman lain yang bahas hehe.. saya cuma tiba-tiba mikir saja, ini helm penyelamat nyawa loh. Penyelamat otak. Kok masih adaa… aja yang meremehkan. Termasuk dengan memakai helm non-SNI dan helm yang “pura-pura” SNI alias palsu. Triknya gampang, jangan sampai beli helm yang tulisan SNI nya dalam bentuk sticker, karena harusnya dia dilabel tembus di helm bukan sticker biasa yang dengan mudah bisa ditempel. Jelas kan?

Lindungi Kepala

Melindungi dan Melayani. Itu motto polisi. Semua polisi di dunia sepertinya mottonya sama. To Protect and To Serve.

Lindungi diri anda, keluarga Anda. Layani diri Anda, keluarga Anda, orang-orang terdekat Anda. Dengan begitu, Anda tak perlu takut dengan sempritan polisi, celingak celinguk di perempatan lampu merah. Sebab Anda sudah menjadi polisi itu sendiri. Dan tak takut dengan polisi. Tak perlu cincai-cincai dengan polisi kalau ditilang akibat helm.

Hanya perlu satu doa saja, Ya Allah, hindari saya dari kecelakaan, karena setiap kecelakaan akan berdampak kepada semua pihak. Saya sendiri, keluarga, orang lain, petugas rumah sakit, orang lain yang juga korban dan seterusnya. Intinya gak ada yang diuntungkan. Termasuk pihak asuransi.

“Bletaak!”

Lamunan saya saat itu buyar. Kali ini mainan balok plastik tepat mengenai muka saya. Kaka kembali beraksi rupanya. Saya senyum. Kemudian saya ajari untuk tidak boleh lempar-lemparan, kecuali bola. Saya angkat telunjuk dan menggoyangkannya tanda tidak boleh.

Mainan semua saya bereskan, tinggalkan beberapa buah bola kecil. Kaka menurut. Tidak ngambek dan ngamuk. Alhamdulillah. Cerdas sekali, tau Ayahnya melarang. Hanya dengan ucapan dan perbuatan.

Saya tiba-tiba membatin. Ya Allah, Engkau karuniai anak yang cerdas, cepat belajar cepat berkembang. Lindungi diri-Nya sebagaimana Engkau lindungi aku hingga detik ini. Semua kecerdasan ada di kepalanya. Jadi, semoga intelektualitas ini menyadarkan ku, dan semua orang untuk menjaga karunia terbaik dari diri-Mu. Kemampuan akal. Berpikir. Intelektualitas. Sehingga membedakan kami, manusia, dengan hewan.

Akhir kata, Pembaca, saya hanya blogger biasa. Punya ide pemikiran langsung saya tulis di blog. Saya berharap banyak yang baca, dan Anda-anda semua yang baca bisa ikut implementasi dalam rangka keselamatan diri ini. Terimakasih sudah meluangkan waktu dan jangan lupa tinggalkan komentar ya. Ingat, helm tak hanya untuk hindari razia, tapi menjaga sesuatu yang paling kompleks yang diberikan oleh Tuhan, yaitu OTAK DAN KEWARASAN.

Salam keselamatan, dan pastikan kepala-kepala kita masih berada di tempatnya!

About the Author: unggulcenter

Pengelola UC - Review Pengalaman Produk dan Perjalanan

You might like

28 Comments

  1. keren…pantes untuk menang!!!!
    Kupas dan tuntas…. bahasanya juga mengalir!
    like this so much….
    Banyak belajar dari tulisan2 Kang unggul, curi ilmu ah….hihihihihihi
    Selamat ya atas kemenangannya!
    i think, blacberrynya buat Kaka ya? hihihihihihi

    Salam,
    Seru Jadi Guru 🙂

  2. dug…dug…dug…

    bedug adzan tiba, sholat dulu ahh..

    mangstab tulisannya, congrats ya udah menang lomba! 🙂

  3. nah ini dia postingannya baru kubaca..
    emang cocok jadi pemenang..hihi
    selamat ya kang

    kalau boleh tukeran mah saya mau dituker hadiahnya hahaha
    😀
    salam kenal lagi ah dari sya Melly yg kemarin ikut barengan ke Gandaria 🙂

  4. Kalau liat kecelakaan di jalan terus korbannya gak pake helm serem banget. Betul banget deh gak boleh asal2an pake helm. 😀

  5. Postingan anda menarik dan inspiratif. Terima kasih partisipasinya mengkampanyekan Safety Riding and Driving.
    Selamat postingan anda masuk 30 nominasi unggulan lomba ‘Blogger for Safety Riding’

  6. wowww… keren postingannya komprehensif banget.

    ditunggu postingan seanjutnya ya.

    salam kenal. salam blogger
    ~anum~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.