“Mazhab” Free Software dan Open Source
Jika ditulisan pertama, dijelaskan mengenai aktor-aktor yang berperan penting dalam sosialisasi Open Source–sekaligus faktor penting suksesnya implementasi TIK– di negeri ini, maka secara budaya, penghargaan HKI menjadi signifikan manakala terkait dengan budaya apresiasi ketimbang budaya “SMOS”.
Memang walaupun terjadi perbedaan pemahaman antara pendukung Free & Open Source dengan yang “hanya” mendukung Open Source, namun tulisan ini dalam rangka memberikan titik tekan pemahaman mengenai cara melihat dan menghargai (apresiasi) produk dan layanan berbasis Open Source. Ini penting, sebab memaknai HKI “ala Open Source” berarti tanda tanya besar bagi masyarakat umum yang secara awam memandang apabila “free” dan apabila “open source” apakah bernilai ekonomis tinggi dan apakah jerih payah pembuatan software aplikasi nya menjadi hal yang disia-siakan alias tidak dihargai (terkait dengan HKI).
Untuk menjawab apa sih karakter Open Source dalam rangka Memaknai HKI, yang berarti perlindungan dan penghargaan atas intelektual seseorang –utamanya dalam hal industri peranti lunak, kita perlu sedikit berkenalan dengan konsep dan filosofi Fre & Open Source (FOSS) dan Open Source Software (OSS). Untuk itu, ada baiknya kita lihat pandangan Richard M. Stallman (RMS), seorang filosofer dan pendiri gerakan Free Software (Peranti Lunak bebas). Terutama tanggapan pria ‘nyentrik’ ini, ketika sebuah korporasi bisnis proprietary software tingkat dunia yang terkenal, membuat suatu proyek yayasan open source dengan tajuk ‘open source foundation dan sudah menggelontorkan dana paling tidak 10 milyar rupiah untuk ‘open source labs’ yang bernama CodePlex Foundation ini.
RMS dalam press releasenya ketika diumumkan adanya yayasan open source dari Microsoft –seteru abadi Free Software, menulis bahwa terjadi kecurigaan mengenai yayasan bentukan microsoft tersebut menjadi sebuah skenario (ploy) dari Microsoft untuk ‘menyerang’ eksistensi komunitas FOSS. Menurut SMS, para developer yang tidak mengerti skenario ini akan terjebak dan terlena sehingga produk aplikasi free software yang dikembangkan akan bergantung (dependent) kepada platform proprietary.
Dalam bahasanya sendiri pria yang suka berpenampilan hippies ini berkata “If they don’t understand the importance of this freedom, developers may succumb to Microsoft’s ploys encouraging them to use weaker licenses that are vulnerable to “embrace and extend” or patent co-optation, and to make free software dependent on proprietary platforms.”
Juga dikatakan bahwa penggunaan istilah “commercial software” (peranti komersil) ketimbang “proprietary software” dari Microsoft’ berusaha menunjukkan bahwa mau free atau proprietary, semuanya adalah software komersial. Istilah ini digunakan untuk membingungkan masyarakat (developer) sehingga memberikan penerimaan terhadap proyek open source labs tersebut, padahal maksud sebenarnya adalah lebih banyak membicarakan proprietary software saja.
Berdasarkan fakta itu, tentu developer dibawah CodePlex bentukan Microsoft tidak akan memikirkan tentang Freedom lagi. Dan memberikan pencerahan palsu bahwa bisnis free software adalah tidak mungkin tanpa dukungan perusahaan proprietary software seperti Microsoft.
Jika berbicara Open Source, bisa jadi developer yang mendukung filosofi “open source” namun tidak peduli dengan nilai kebebasan (value of freedom), tidak juga akan peduli apakah apakah produk mereka dijalankan di sistem operasi yang free atau sistem operasi yang proprietary (misalnya Windows). Disinilah yayasan open source Microsoft bermaksud mengambil pasar. Bagi pendukung FOSS, freedom tetap menjadi tujuan utama, sedangkan pendukung OSS, bisa jadi mengerti dan mendukung FOSS juga, namun bisa saja hanya melihat bagaimana OSS menjadi solusi, tanpa bersikap “ekstrim” terhadap “mazhab” lain.
Jadi jelas, berbeda antara Free/Open Source Software (FOSS) dengan Open Source Software (OSS) saja. Bos GNU, perusahaan yang banyak berkontribusi untuk free software ini melihat bahwa ada dua terminologi yang berbeda filosofi berdasarkan nilai-nilai yang juga berbeda. Yaitu nilai-nilai Free software yang berupa kebebasan (freedom) dan solidaritas sosial (social solidarity), sedangkan Open Source yang memiliki nilai kenyamanan penggunaan (practical convenience values) seperti software yang powerful, handal dan reliabel.
Dalam blog nya, bapak Free software ini mengatakan dengan jelas agar tidak terjebak dengan terminologi open source yang sesungguhnya tidak mengakomodasi empat kebebasan(freedom) yaitu
1.The freedom to run the program, for any purpose (freedom 0).
2.The freedom to study how the program works, and change it to make it do what you wish (freedom 1). Access to the source code is a precondition for this.
3.The freedom to redistribute copies so you can help your neighbor (freedom 2).
4.The freedom to improve the program, and release your improvements (and modified versions in general) to the public, so that the whole community benefits (freedom 3). Access to the source code is a precondition for this.
Seperti yang dijelaskan mengenai terminologi Free dan Open Source (Free software dan Open Source software) hampir tidak ada bedanya. Sebab kebanyakan memang merujuk kepada sebuah software yang sama. Akan tetapi perlu diingatkan bahwa keduanya memiliki dua nilai fundamental yang berbeda. Disatu sisi Open Source sebagai metodologi pengembangan (development methodology), dan filosofinya adalah bagaimana membuat software yang lebih baik (secara praktis). Disisi lain Free software adalah ‘gerakan sosial’ sebab hanya menurut RMS, hanya Free software yang menghargai kebebasan pengguna.
Inilah perbedaan “aliran” dalam “agama” yang sama. Kita tidak harus selalu sepaham, berpandangan sama, sebab ibarat naik Kereta, biar sama-sama kereta api tapi ada kelas Ekonomi ada kelas Eksekutif. Dua-duanya di rel yang sama, bukan di jalan aspal dan naik Limousine atau di udara naik Jet Pribadi. Kedua pendukung tentu berseberangan dengan semangat proprietary dan closed source software (PCOSS) dan sebaliknya, semangat Free & Open Source yang menjadi panji-panji dalam mengadopsi dan mengembangkan teknologi terbaik untuk bangsa dan umat manusia pada umumnya yang menurut bahasa RMS sebagai “Free World”.
Open Source : I Love You Full
Apa yang membuat (Free dan) Open Source berbeda? Open Source menghargai developernya dengan cara membolehkan untuk membuat produk unggulan dengan tanpa perlu bersusah payah memulai dari “anak tangga pertama”. Dan intinya dari yang FOSS tetap menjadi yang FOSS apalagi dengan lisensi GPL (GNU Public License) dimana sampai kapanpun lisensi tidak akan berubah.
Lalu darimana developer dan insan open source mendapatkan biaya? Tentu tidak hanya dari produk yang dibuat, walau dalam terminologi open source itu bisa saja menjadi andalan revenue yaitu membuat aplikasi dan menjualnya. Investasi paling besar di FOSS adalah training sehingga biaya training FOSS merupakan hal yang perlu disiapkan. Apakah cost? Bukan, bagi yang training, ini investasi sebab bentuknya pelatihan dan pendidikan yang akan melekat di si trainee (yang ditraining). Sedangkan trainer, lembaga pelatihan dan kursus, mendapatkan penghidupan dari situ. Jika mendevelop program pun, tidak usah khwatir akan “tidak punya duit” sebab open source –dalam arti metodologi pengembangan sebuah aplikasi– yang terbuka, dapat dimanfaatkan sebab mencakup empat kebebasan (Free) yang sudah disebutkan dimuka. Sehingga untuk dijual pun menjadi sah.
Pembeli pun sah untuk membeli dengan harga pasar. Bisnis aplikasi ini juga menuntut kreatifitas mengembangkan dari program aplikasi yang sudah ada. Dengan kode sumber yang terbuka, inovasi dan kreatifitas produk akan diuji sehingga produk open source tidak akan “usang”,”basi” ataupun khawatir sewaktu-waktu tidak diperbaharuan lagi.
Ternyata memang dunia usaha mengatakan “I Love you Full” dengan open source. Statistik dari lembaga riset terkemuka dunia menunjukkan bahwa adopsi open source akan mencakup 80% dari aplikasi komersial (commercial apps) pada tahun 2012.
Bagaimana dengan proprietary dan closed source software? Bisnis ini lebih kepada jual beli lisensi dimana anda dilarang utk melakukan segala sesuatu tentang produk tersebut kecuali menggunakannya. Bahkan pengguna pun tidak benar-benar memiliki produk. Ya, sebab yang dibeli adalah lisensinya (berbayar) dan setelah itu digunakan saja tanpa tahu ada apa didalamnya dan bagaimana mengatasinya apabila ada masalah. Dari sisi bisnis, memang menguntungkan. Betapa tidak, ketergantungan tentu melahirkan pundi-pundi uang. Seseorang akan terpaksa membeli mahal program dan updatenya. Bisnis ini benar-benar membuat suatu produk dan menjadikannya produk yang seakan-akan sudah final.
Apa artinya bagi dunia kreatif? Selain akumulasi price yang berlebihan, sebab jika mau be legal, para desainer grafis dan multimedia mesti membeli software yang harganya mahal, sehingga hasil karya mereka pun ‘terpaksa’ dijual mahal. Berbeda halnya apabila memakai software grafis open source (atau proprietary tapi bajakan—seperti yang banyak terjadi di dunia desain grafis negeri ini) bisa dijual dengan sesuai pasar dan memiliki nilai HKI yang wajar sebab produk baru tersebut adalah milik kreasi individual yang dilindungi HKI, terlepas dengan software apa dibuatnya. Nah, apabila terlalu tinggi, kita juga tidak tahu respons pasar lokal seperti apa. Tentu dayabeli yang rendah dan budaya apresiasi yang kurang turut menentukan prospek bisnis ekonomi kreatif dan tentu berujung ke masalah ‘kesejahteraan’.
Pemaknaan HKI dari sisi produk profesional dari seorang creator menurut pola open source adalah menggunakan fondasi-fondasi yang ada untuk menciptakan produk yang lebih baik. Kita tidak pernah membayar biaya lisensi kepada Archimedes apabila membuat produk fisika, atau Phytagoras ketika belajar matematika. Konsepnya kurang lebih sama. Basic-nya, pengetahuan itu Free. Dan harus bebas untuk disebarluaskan demi kemajuan umat manusia. HKI nya adalah adanya penghargaan/apresiasi akan hasil karya orang lain lebih kepada apresiasi skill, knowledge dan attitude (baca: kompetensi), sedangkan harga jual software menurut angka yang pantas dan non-monopolistik, dan ini adalah apresiasi yang jujur, bermakna dan universal daripada mental ‘dagang barang’ padahal hanya utk dipakai saja dan menciptakan ketergantungan. Menurut penulis, mental proprietary & closed source business itu tidak lebih baik daripada bandar narkoba.
Ilustrasi berikut bisa menunjukkan sedikit pandangan HKI dari pelaku open source. Beberapa waktu yang lalu telah dilaksanakan dengan sukses helatan akbar komunitas open source di Indonesia, yang diwakili organisasi AOSI, yaitu Global Conference on Open Source (GCOS). Acara dua hari yang berlangsung tanggal 26 dan 27 oktober ini dihadiri lebih dari 500 peserta dari 12 negara terdiri dari aktivis, pebisnis, pengguna hingga yang baru tertarik mengenai open source. Bahkan tokoh utama kita, RMS yang ternyata memang benar adanya bisa berbahasa Indonesia dan sedikit Jawa, menyempatkan diri untuk ceramah mengenai Free software di berbagai institusi di Indonesia walaupun acara GCOS telah selesai. Sebuah konferensi internasional yang menjadi catatan perkembangan Open Source di Indonesia hingga hari ini dan tentu menjadi salah satu tonggak sejarah open source di negeri yang pernah tiba-tiba menandatangani MoU dengan Microsoft ini.
Di event tersebut tampaknya terjawab sudah apakah pemerintah Indonesia mendukung (baca : melanjutkan) program Indonesia Go Open Source baik ditinjau dari segi kuantitas, skalabilitas diseminasi dan sosialiasinya semakin luas dan menggarap berbagai segmen masyarakat, juga ditinjau dari sisi kualitas untuk segala perbaikan di berbagai bidang. Adanya kontinuitas program IGOS oleh pemerintahan presiden SBY dengan slogan “Lanjutkan” ini disimbolkan serius dengan hadirnya di acara tersebut untuk membuka secara resmi, sebagai perwakilan pemerintah RI, Menkominfo baru, Tifatul Sembiring yang beberapa hari sebelumnya juga membuka sebuah Pesta masyarakat TIK yaitu Pesta Blogger 2009 di Gedung SMESCO, Jakarta. Tifatul juga mengisyaratkan dukungan dengan mengatakan pro open source.Hingar bingar dan kisah sukses GCOS pun dipotret banyak media baik lokal, nasional maupun internasional. Ini merupakan indikasi berlanjutnya program Indonesia Go Open Source di pemerintahan baru.
HKI ala Open Source
Jika berbicara HKI dan Open Source, seperti yang dijelaskan di tulisan mengenai HKI dan ekonomi kreatif, penegakan hukum dan penyadaran masyarakat merupakan dua agenda yang saling mengait dan menunjang satu sama lain. Jika penegakan hukum kurang efektif, tentu masyarakat tidak bisa kita harapkan secara sukarela 100% menghargai HKI. Demikian pula walaupun penegakan hukum berjalan lancar, belum tentu juga masyarakat menghargai HKI. Sebab kurangnya penyadaran di akar rumput pengguna teknologi informasi menyebabkan ketimpangan.
Masyarakat hanya akan mengetahui kampanye Be Legal, bukan kampanye Go Open Source!. Be Legal dengan membeli produk proprietary yang notabene mahal padahal ada padanannya yang hampir sama dengan value yang berbeda baik dari sisi penghematan dan sisi kehandalan yang lebih, bukan Go Open Source dengan cara Be Creative dan Be Innovative melalui pengembangan produk yang merangsang kompetisi, inovasi dan kreativitas, yaitu produk Open Source.
Fakta bahwa Open Source Software berkembang demikian pesat –selain dilihat dari suksesnya event GCOS-juga bisa kita lihat dari berkembangnya open source di “segitiga ABG” dimana Academic, Business, Government bersinergi membentuk segitiga tanpa putus dengan aktor keempat dan kelima (kombinasi aktor) menjadi role model yang baik untuk implementasi TIK di negeri ini (baca : implementasi Open Source).
Apa saja yang terjadi pada konsep ini? Ya, kenyataannya, pemilihan open source justru menjadikan pemerintahan SBY menjadi netral dari prasangka. Artinya, pemerintah sudah pula tidak memihak. Tidak seperti masa lalu. Masyarakat sudah mulai mengenal manfaat TIK dan manfaat Linux sebagai solusi utama, bukan lagi hanya alternatif. Seorang ibu rumah tangga bisa menggunakan Sistem operasi Linux yang “katanya” susah, siswa SMP dan SMA “getol” training open source. Pendidik dan pengajar belajar e-learning dan sudah memakai netbook atau laptop ber-OS Linux/FOSS atau OS Open source lainnya misalnya Open Solaris dengan berbagai pertimbangan intelektual. Juga kalangan bisnis berbisnis open source dengan lancar, mudah mendevelop aplikasi yang sumbernya bisa didapat di banyak tempat dan dijadikan aplikasi program solusi bisnis buatan mereka. Bahkan, ketika seseorang bersentuhan dengan teknologi internet, maka sudah memakai open source, baik sadar maupun tidak. Ya, web server yang dipakai adalah Apache, googling dengan google, dan multimedia saat ini pun sudah berpindah ke teknologi berbasis open source. Pembuatan animasi multimedia maupun game multimedia sudah memakai teknologi open source. Demikian juga bisnis dan aplikasi non TIK, semuanya bisa memakai open source.
Perusahaan Microsoftyang “terkenal” pun, ikut “latah” dengan mendirikan >proyek open source dengan alasan yang mudah ditebak : UUD (Ujung-ujungnya Duit). Walaupun selalu diselipkan nuansa CSR (Corporate Social Responsibility) dan ending war antara si perusahaan dengan pengguna open source yang menilai adanya praktik monopoli, pembodohan, dan membuat ketergantungan laiknya obat-obatan psikotropika berbahaya. Dasri sudut pandang lain, memang beberapa pengamat TIK (baca : bukan “pengikut” free software, hanya pengikut open source, atau bahkan pengguna proprietary legal-berbayar) mengatakan kalau inilah saat untuk tidak mempertentangkan antara Microsoft sebagai ikon Proprietary & Closed Source Software (PCSS) dengan Open Source yang berbasis komunitas dan menyambut era kolaborasi. Kalau mengambil istilah lokal ala produsen minuman teh kemasan botol, “apapun softwarenya mau terbuka atau tertutup, jalannya di Windows”.
Produk teranyar sistem operasi made in Microsoft, Windows 7, pun perlu bergerak cepat dan ‘mengakali’ Linus Torvalds, sehingga pernah terlihat si pencipta kernel Linux ini mengacungkan jempol utk produk andalan Microsoft di Jepang, pada saat simposium Linux disana. Memang, agar tidak ketinggalan momen, launching OS yang banyak ‘dosa’ ini pun sengaja dibuat berbarengan pada saat simposium sehingga Mr Torvalds, sang ikon Linux digiring sebagai ‘joke’ ke booth di seberang jalan. Hasilnya, foto terlihat sepertinya produk tersebut disukai oleh sang pencipta Linux! This is totally joke, >untuk lucu-lucuan di Simposium Linux di Jepang yang diakui oleh si fotografer sendiri. Hasil seperti Pro-Windows 7 ini sebenarnya terutama karena gap budaya, dimana di jepang biasanya kalau di foto, orang tersebut biasanya berpose dengan jari membentuk huruf “V”. Nah pria Finlandia ini refleknya ketika di depan kamera melakukan “thumps up”. Ini sekaligus klarifikasi juga bahwa torvalds bukanlah “penghianat” Open Source, sebagaimana RMS pernah menuding justru proprietary mencoba masuk ke dunia open source seperti contoh yayasan open source sebagai proyek untuk <>menjebak pelanggan ke dalam urusan “UUD”.
Satu lagi berita anyar, masih tentang produk sistem operasi baru dari perusahaan bisnis bentukan orang terkaya di dunia tersebut, ternyata belum-belum sudah ditantang secara gentle oleh salah satu evangelist Linux terkemuka, Mark Shuttleworth mengumumkan distro Linux terbaru mereka mampu mengalahkan produk OS tersebut. Wow!
Itulah sekelumit kisah dan karakteristik open source dan mengapa kita (baca : indonesia) harus menerapkannya. Selain tema kemandirian, solusi yang handal dan memiliki keunggulan-keunggulan plus yang customiseable sesuai keinginan konsumen, fitur-fitur aplikasinya juga tidak kalah dengan produk proprietary paling teranyar pun.
Penutup: The Open Source Way
Saat ini, kisah-kisah sukses wirausaha sukses dari korporasi besar maupun entrepeneur level internasional yang menulis kisah success story nya ke dalam bentuk buku. Salah satu yang populer mungkin “The Toyota Way”. Tidak hanya entrepreneur, “the xxx way” menjadi kosakata wajib bagi cara seseorang yang dianggap sukses menghadapi turbulensi dan manajemen perubahan (change management) misalnya “The Hiddink Way” atau “The Moreno Way” di sepakbola. Bukan hal yang kebetulan apabila penulis memberikan judul artikel panjang ini dengan nama “The Open Source Way”, sebab apabila kita melihat karakteristik yang, mungkin, pada awal tulisan saya sebut sebagai ‘aneh’ dan ‘unik’, maka bisa juga kita berikan atribut ‘top markotop’ dan selaras dengan jalan filosofi hidup, jalan hidup (way of life) yang menjadi tuntunan banyak masyarakat dunia. Sebut saja misalnya konfusianisme (way), bushido way (the way of warrior/samurai), jalan budha (budhist way), juga konsisten dengan cita-cita dan amal dalam dunia islam sebagai jalan hidup yang kafa’ah bagi pemeluknya. Apabila seseorang mengaku beriman, berislam dan ber-ikhsan, maka upaya-upaya menghindari dosa, mengharap pahala dan mengikuti jalan surga tentu akan mengikuti jalan open source (open source way) baik dalam hal menggunakan sehari-hari dengan alasan ‘vertikal’ semisal fatwa haram bajakan dan filosofi saling berbagi, juga menggunakan dalam hal bisnis dan pekerjaan dengan alasan ‘horisontal’ semisal reliabilitas, mudah digunakan (user friendly) dan bernilai ekonomis tinggi sebagai “barang jualan”.
Jadi, ikuti Jalan Open Source. Merujuk istilah dari salah seorang pakar TIK yang terkenal, itulah jalan cinta, jalan kebenaran dan jalan para pedjoang…
ikuti tulisan bagian pertama


Gan bagus banget nie blog
ane suka tuh
tapi apa si keunggulan opensource???
balez gan!!!
Keunggulannya? Ya Open Source (Kode Terbuka) sehingga memungkinkan semua orang utk berpartisipasi mengembangkan. 🙂 banyak lagi keunggulannya, kamu bisa googling dengan keyword tsb.