Wacana Pendidikan : Intelektualitas Itu di Kepala, Bukan di Kaki (?)

https://www.unggulcenter.org/wacana-pendidikan-intelektualitas-itu-di-kepala-bukan-di-kaki/

“Intelektualitas itu ada di kepala, di otak, bukan dikaki”. Ini bukan kalimat saya, hanya teringat ucapan lazim oleh para mahasiswa waktu dikampus dulu, sekitar sepuluh tahun yang lalu, sebuah kampus Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di UI.  Kalimat ini menjadi ungkapan umum yang dipergunakan mahasiswa yang kekampus suka memakai sendal jepit. Ya, masuk ke ruang kuliah dengan sendal jepit untuk mengikuti pelajaran.

Jika ada dosen yang stricht, jeli, disiplin, atau apapun sebutannya, tentu masalah alas kaki ini masalah besar. Diusir dari dalam kelas, satu dua kali terjadi. Tapi mahasiswa pintar (tidak dikaki eh?) dengan mengetahui “karakter” dosen, si sendal jepiters ini tau, kapan bersendal jepit, kapan bersepatu. Tergantung dosen dan matakuliah. Atau, kapan bersendal jepit.. dan telat, serta kapan bersendal jepit (teteep) dan duduk manis ditengah2 kelas (nyaru nih ceritanya) biar gak ketauan pakai sendal. plus, tentu, masuknya paling awal.

To be honest, i was one of them. Alasan saya simpel.Gampang kalau mau Sholat di Mushola. Gak takut sepatu ilang. Gak takut juga kaki bau jempol karena jemari selalu menikmati udara hehe.. Selain itu, saya selalu bawa-bawa sepatu loh di tas. Artinya, masuk kelas sih biasanya pakai sepatu lah.. kecuali asdos or dosen yang cuek atau udah kenal “otak” saya daripada “kaki” saya. Iya. Otak saya yang juga bego. hehe.. bukan pinter. Di FISIP, awal-awal tahun 2000 itu, banyak gerakan bersendal. Selain Sendal jepit, ada sendal gunung yang dipakai teman-teman Ikhwan, dan teman-teman Mapala, alias anak gunung tentunya. Hmm tapi, saat ini sih, pas saya jalan2 ke UI, ke FISIP, kayaknya udah ga ada lagi deh pemakai sendal jepit alias sendal jepit-ers. Gud gud gud..

Lalu, sejak kapan sih mahasiswa pakai sendal jepit? Hmm.. kalau kata beberapa dosen, sejak ANTROPOLOGI masuk FISIP dari Sastra (Sekarang FIB) hehe.. it’s true, itu yang saya dengar langsung. Artinya, mahasiswa sastra lah pencetus gerakan sandal jepit ke kampus.  Itu kata dosen-dosen loh. Entah bercanda atau tidak, tapi dari sini saya tanya2 oh ternyata benar begitu sejarahnya hihi.. dari Antropologi, menjalar ke Sosiologi. Dua jurusan ini paling banyak sendal-ers pada waktu itu. Sisanya ikut2an karena berbagai faktor, terutama, bagi saya, yang jurusannya rada “serius” dan keluar dari “trah” FISIP, namun kebanyakan bergaul dengan sendal-ers, kuncinya adalah “kenyamanan”. Hehe..

Nah, kembali ke bagian Intelektualitas, Pendidikan dan Sendal Jepit.

Apakah salah ucapan mahasiswa mengenai intelektualitas tidak diukur dari sendal jepit? Tidak juga. Bayangkan, dulu pas jaman Sekolah Rakyat (SR) kakek kita juga nyeker. Saat ini, realita pendidikan di desa-desa tertinggal dan biasanya di daerah timur negeri yang katanya kaya ini, adalah anak-anak bersekolah dengan telanjang kaki. Apakah mereka bodoh? tidak.  Tapi ini ngeles dot com deh.. masalahnya, orang tidak bersepatu karena TIDAK SANGGUP BELI. Bukan malas. hehe.. so, salah dong mahasiswa? Ya salah. bayangkan saja kalau kamu Dosen, mahasiswa pakai sendal, kira-kira sepertinya melecehkan bukan? Yup. benar. Dan sayangnya, saya baru saja menyadari ini sejak saya mengajar alias menjadi dosen! Duh, nyesal dan pengen minta maaf. Tapi, ada enaknya juga sih hehe.. (masa lalu..) don’t try this at home ya!

Tapi emang benar argumen teman-teman waktu itu –maklum kuliah di FISIP pasti jago-jago ngeles hehe– katanya, ukuran hal itu layak atau tidak layak, pantas atau tidak ‘kan budaya. Budaya dibentuk. Hasil cipta rasa dan karsa. Sebenarnya mungkin di tempat lain atau bahkan di FISIP sendiri bisa saja “dibudayakan” bersendal jepit ria, or, lebih ekstrim, masuk kelas lepas sepatu! Hahaha.. betul juga. Inilah contoh kebanyakan belajar teori sosial dan antropologi. Tapi kalau menurut saya, dua “kubu” ini punya sudut pandang yang berbeda. Satunya sisi A, satunya sisi B. Lah, official kampus bicara bukan masalah budaya. Tapi masalah hukum. Peraturan, Nah loh.. kayaknya ini dosen Kriminologi UI yang ngomong (saya lupa). Anyway, kalau saya sih jadinya manut-manut saja. Kapan dosennya “Asyik”, ya saya asyik juga dengan Sendal. Kalau dosennya killer, saya ngga mau dong dibunuh gara-gara mempertahankan kenyamanan hehe.. Sebab, ada juga dosen bukan masalah sendal or sepatu, ngangkat kaki sebelah dan ditaroh ke atas kaki satunya lagi sembari mendengarkan kuliah bisa diusir. Nguap (ngantuk) juga diusir. Contohnya pak Gayuus Lumbuun sewaktu jadi dosen tamu di jurusan saya wakakaka.. Apalagi dengan optimisme beliau kalau para mahasiswa ini bakal jadi PNS semua dan jadi birokrat sesuai jurusannya, Administrasi Publik/Negara. Haha. Baguslah Di-doakan walau tidak sesuai kenyataan.

Ups, kepanjangan ngalor ngidulnya. Tapi benang merahnya tetap di sendal. Sendal jepit atau tidak, itu tidak ada hubungannya dengan kecerdasan seseorang. Lagipula, hari gini, harusnya sadar bahwa “don’t judge the book by its cover”. Itu mahasiswa (sendal jepit-ers) bilang. Apalagi dah capek2 masuk UI. Lah kan Dulu sih ujian masuk cuman sekali. Gak lulus ya ga lulus. Nyobanya tahun depan, bertapa dulu selama setahun (contohnya ya saya juga hehe..)

Lalu Mengenai yang konta dengan alasan peraturan? Wah peraturan itu produk manusia. Gampang sekali diubah. Coba kalau peraturan di Perpus dan di ruang kuliah mesti copot Sepatu sendal? Andaikata dibuat begitu, apa bedanya kamu pakai Sepatu mahal, Sepatu murah, Sendal Jepit atau Sepatu boot? Jackpot.. Jadi.. entah mengapa, balik lagi ke budaya kok. Ketika saya menjadi dosen saat ini, jujur, jengah juga lihat orang pakai sendal jepit. Apalagi praktek di depan PC. Sendal dilepas, salah satu kaku diangkat kayak di Warteg. Nah, teman-teman.. dulu kepikir ngga hahaha.. mohon maaf mas dan mbak dosen-dosen FISIP.. Tapi mungkin beda ya, kami (ya termasuk saya deh, ngaku..) dulu ngga “ngeyel’, “nantangin”, dan “belagu”. Sendal cuma atribut biar keliling kampus nyaman, sholat gak mikirin sepatu, sepatu dirumah awet, dan memang sendal dianggap sepatu, bukan sebagai sendal. Artinya tidak mentang2 pakai sendal lalu angkat kaki kemana-mana. Kalau ketemu dosen pun, diruangan jurusan misalnya, kami tidak memakai sendal. Pinjem sepatu teman, atau berdiri diluar. Ada etika juga, ada hormat. Jadi, intelektualitas tidak lantas serendah sendal jepit hehe.. setuju?

Oke. Wacana pendidikan kali ini memang ngomongin intelektualitas. Dan ngomongin sendal jepit. Untuk itu, saya punya kasus, pengalaman pribadi.  Begini ceritanya.. masih memendam hasrat berkarya di bidang pendidikan, lowongan CPNS DEPDIKNAS tahun 2009 saya ikuti. Dengan bismillah, semua formulir dan kelengkapan saya kumpulkan. Ya, disela-sela waktu ngantor diperusahaan swasta. Akhirnya, Sabtu, tiba lah hari mendebarkan.Ujian Massal Tes CPNS di Senayan. Sudah siap, dengan segala atribut kartu ujian, pensil, dan tetek bengek lainnya, pagi-pagi saya berangkat.

Sampai di lokasi, langsung cari bangku sesuai nomor. Oke, dapat. Lalu duduk. Saya baru sadar, kok banyak orang yang ngeliatin.. oala dalah.. Saya adalah satu-satunya peserta yang tidak rapi. Alias tidak pakai KEMEJA. Saya pakai apa? Yup.. Mahasiswa banget. Kaos Oblong warna itam. Celana Jeans.. dan..aha.. benar sekali. dengan BERSANDAL JEPIT cuy!

Flashback. Runut kembali peraturan.. mikir-mikir.. memang benar.. tidak ditulis syarat pakaian apapun deh! Saya lupa apa bebas sopan atau bebas rapi, tapi seputar itu deh. Kenapa ribuan peserta memakai Kemeja hihi.. Dan tidak cukup disitu, Alhamdulillah, saya buktikan, bahwa Intelektualitas tidak dilihat dari Kaki yang bersendal jepit, walaupun saya harusnya mengontak Jaya Suprana buat Rekor MURI Sebagai satu-satunya peserta Ujian CPNS yang berkaos oblong, celana jeans dan bersendal jepit! Apa itu? Alhamdulillah. Dari ribuan peserta, saya LOLOS ke tahap kedua. Tidak cuma itu, saya lagi-lagi lolos ke Tahap ketiga, menyisakan 3 orang pesaing.  PS : Saya pakai sandal jepit di Senayan aja yach, pas tes berikutnya kan sudah sadar, jadi pakai Sepatu, kemeja dan celana bahan yang rapi, klimis dan ganteng..

Dan disini pun saya tidak terlalu kecewa tidak lolos dan jadi CPNS Depdiknas. Sebab, waktu wawancara, available position nya behind desk, masalah administrasi. It didn’t fit me. Diwawancara oleh beberapa orang (dari cara bicaranya saya bisa tahu mereka berpendidikan tinggi dan berkedudukan juga tinggi) dan saya menjawab maunya posisi di lapangan. Riset, travel dst. ya kalau nggak, apa bedanya dengan kantor sekarang hehe.. itu cerita saya. Btw, udah pakai sendal jepit, saya juga kayaknya yang paling narsis.. orang2 pada serius ngerjain soal-soal CPNS, saya sempat2 berfoto-foto di arena Ujian hehe.. ya ngapain nambahin stress.. lolos ya lolos, ngga ya nggak. CPNS bukan satu-satunya jalan. Lebih baik jadi pengusaha deh.. sumpeh..  ini sedikit foto-fotonya; di picasa jika Anda tidak percaya.

Nah, sekarang pertanyaannya. Di Dunia Pendidikan, pentingkah orang pakai sendal atau pakai sepatu? Dan relevansi dan korelasinya apa dengan berhasil tidak nya si anak/siswa/mahasiwa dalam menempuh pendidikan? bagaimana menurut Anda?

About the Author: unggulcenter

Pengelola UC - Review Pengalaman Produk dan Perjalanan

You might like

8 Comments

  1. Saya sangat setuju, bahwa mengikuti kuliah pakai sepatu atau pakai sendal memang tidak penting.
    Tetapi ada aturan yang tidak tertulis dalam masyarakat kita. Dan aturan ini juga patut kita hormati (apalagi kalau aturannya sudah ditentukan secara tertulis, lebih harus kita hormati lagi!). Bahwa kalau kita hadir ke suatu tempat “terhormat” dengan pakaian ala kadarnya – kaos oblong dan sendal jepit, misalnya maka kita sudah dinggap tidak menghormati tuan rumah / yg mengundang atau malah sudah dianggap tidak menghormati diri sendiri. Artinya, kalau ingin diri kita dihargai orang lain, maka hargailah diri kita sewajarnya sesuai dengan tata krama yg berlaku dalam masyarakat tersebut.
    Saya jadi teringat dengan sebuah kalimat, bahwa “segala sesuatu itu ada tempat dan peruntukannya”. Artinya, kita tidak bisa hanya karena alasan praktis dan nyaman, lalu mengabaikan sopan-santun dan ketentuan yg berlaku dalam masyarakat tsb. (baik tertulis ataupun yg tidak tertulis). Contoh ekstrimnya (walau tidak ada peraturan tertulisnya):
    – Kentut dengan bersuara keras
    – Kuliah pakai singlet
    – Kuliah Pakai Sendal jepit
    – Kondangan cuma pakai celana pendek dan kaos oblong
    – Ke kantor pakai baju rombeng atau celana pendek
    – dll.

    Ibarat kata pepatah, “Di mana bumi di pijak, di situ langit dijunjung….”

  2. hahah mantap ceritanya menarik.. masih ngalamin n ngejalanin c hehehh tpi bukan sendal jepit.. sendal gunung.. n pake kauskai dunk heheh

  3. Oh bukan daeng, tulisan ini tidak didiskualifikasi. Masih tanggal 31 Mei hehe..

    Trims, Wah jawabannya bagus.. berarti saya bisa manjat mangga sekaligus ngeceng dikampus sebelah soalnya bawa dua-duanya hehe..

  4. waduh tulisan ini di diskualifikasi? hmmm… tulisannya menarik (karena pernah ngalamin juga hahahaha).

    jawab ah… di pandang dari ilmu bisotisme (sok tahu kelas akut) pertanyaan: “Di Dunia Pendidikan, pentingkah orang pakai sendal atau pakai sepatu? Dan relevansi dan korelasinya apa dengan berhasil tidak nya si anak/siswa/mahasiwa dalam menempuh pendidikan? bagaimana menurut Anda?”

    oh yah penting, kalo saya jadi guru/dosen dari indikator yg bersepatu dan bersendal saya bisa membedakan mana yang akan saya ajak memanjat manggah di areal kampus dan mana yg akan saya ajak jalan-jalan ke kampus sebelah *ngeceng hahahaha

  5. Polling untuk pemilihan Entry Tematik Favorit Edisi Mei 2010 dengan tema Pendidikan sudah dibuka.

    Ayo pilih tulisan favoritmu. Silahkan berkampanye!

    Salam,
    Pangurusu’na Entry Tematik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.