Judul ini singkat. Tapi maknanya dalam dan aksinya bisa dahsyat jika kita semua memanfaatkannya. Tapi kali ini UC tidak membahas panjang lebar, namun cukup menampilkan dua tulisan dari dua tokoh bangsa yang cukup terkenal dan dalam perkembangan dan pengembangan diaspora ini terlibat didalamnya.
Silakan dibaca lamat-lamat dan dicerna, niscaya, tulisan kedua tokoh ini membangkitkan semangat kita semua untuk maju dan lebih maju lagi. Semoga dari artikel dari beliau-beliau ini, kita bisa meresapi dan turut berjuang dalam mencapai Indonesia yang dalam waktu dekat, kita yakini bisa menjadi negara maju berikutnya di Asia. Amin!
Dr Dino Patti Jalal, saat ini menjabat Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat. Tulisan beliau ini dipublikasikan di Harian Kompas, 2 Juli 2012 yang pada tanggal 6-8 Juli berikutnya diadakan kongres pertama, “Congress of Indonesian Diaspora”di Los Angeles, USA. Kongres ini diharapkan menjadi momentum bagi diaspora untuk bersatu dan berbuat untuk bangsa ini. Lebih lanjut tentang Kongres yang rencananya akan diadakan tiap tahun ini bisa dilihat disini.
DIASPORA INDONESIA SEBAGAI KEKUATAN BARU
Oleh : Dr. Dino Patti Djalal
Dalam berbagai proyeksi masa depan Indonesia di abad ke-21, ada satu faktor yang sering luput dalam kalkulasi bangsa : diaspora Indonesia. “Diaspora” disini merujuk pada semua orang di luar negeri yang berdarah, berjiwa dan berbudaya Indonesia – baik yang masih WNI maupun yang sudah menjadi WNA. Selama ini, belum ada pendekatan dan atensi sistematis dari Indonesia terhadap kelompok diaspora ini.
Berapa jumlah diaspora Indonesia ? Tidak ada yang tahu persis. Yang pasti, jumlah diaspora Indonesia jauh lebih banyak dari yang diperkirakan, dan jauh lebih besar dari jumlah WNI di luar negeri yang tahun 2010 tercatat sekitar 3 juta orang. Di Madagascar, misalnya, tercatat hanya 57 pemegang paspor Indonesia; namun 60% penduduknya keturunan Indonesia. Di Afrika Selatan, tercatat 334 WNI, namun diketahui ada 1,2 juta keturunan Indonesia – bahkan ada kota bernama Makassar. Di Kaledonia Baru ada tercatat 334 WNI, namun keturunan Indonesia berjumlah sekitar 7,000. Di Belanda, walaupun WNI hanya 15,000, konon ada 1 juta yang berdarah Indonesia. Apalagi di Malaysia, dimana tercatat ada sekitar 1,5 juta WNI.
Yang menarik, diaspora Indonesia – apakah WNI maupun WNA – mempunyai “brainpower” yang luar biasa. Selama di AS, saya tak kunjung habis bertemu inovator, entrepreneur, pelopor, edukator dari diaspora Indonesia. Karena itu, “diaspora Indonesia” lebih dari sekedar perantau, namun suatu komunitas besar yang padat ilmu, ide, modal dan jaringan. Saya percaya, secara hitungan kasar, jumlah diaspora Indonesia paling tidak 2 kali jumlah penduduk Singapura, dengan pendapatan per kapita 5 kali lipat per kapita di Indonesia.
Diaspora juga mempunyai idealisme yang tinggi – mungkin lebih tinggi di Indonesia yang sedang dilanda budaya sinisme (culture of cynicism). Dimana-mana, saya bertemu diaspora WNI ingin kembali berkarya di tanah air, dan diaspora WNA yang ingin berbuat sesuatu bagi Indonesia. Sehat Sutarja, industrialis IT di Silicon Valley asal Indonesia, misalnya, menyatakan: “I have now reached a point in my life where I have begun to think more about my past and my heritage“, dan sekarang merencanakan membuat cabang kantor Marvell di Indonesia yang akan merekrut inovator-inovator Indonesia.
Masalahnya, diaspora Indonesia di berbagai kota dan negara mempunyai satu ciri yang menyolok : mereka tercerai berai dan tidak saling kenal. Diaspora Indonesia ibarat “thousands of unconnected dots”. Seringkali, hubungan mereka dengan tanah air juga minim. Hal ini membuat diaspora menjadi komunitas yang penuh potensi tapi lemah koneksi.
Karena itulah, sudah waktunya pendekatan “diaspora” jadi kebijakan nasional. Presiden Yudhoyono menyatakan bahwa konsep diaspora adalah “strategi baru” Indonesia. Dalam upaya Indonesia untuk menjadi kekuatan dunia, lingkaran pertama yang otomatis perlu dibina adalah komunitas diaspora yang secara alami mempunyai kaitan batin dan tali sejarah dengan Indonesia. Pendekatan “diaspora” bukan pendekatan legalistis yang kaku (hanya WNI) namun pendekatan kultural yang lembut dan luwes. Dalam pendekatan ini, semua orang Indonesia di luar negeri – selama masih cinta Indonesia – dianggap sebagai saudara kita, sebagai bagian dari keluarga besar bangsa Indonesia dan, lebih penting lagi, sebagai aset.
Di era global, diaspora mempunyai kapasitas besar sebagai pelopor kesejahteraan. Di tahun 1980’an, Tiongkok berhasi memanfaatkan jasa jutaan diaspora Cina yang tersebar di Asia untuk menjadi jembatan modal yang kemudian mengakibatkan pertumbuhan ekonomi yang spektakuler. India dewasa ini aktif membina hubungan kemitraan dengan 24 juta diaspora India di seluruh dunia. Diaspora Azerbaijan jumlahnya melebihi populasi Azerbaijan sendiri, sementara diaspora Filipina setiap tahun mengirim uang ke keluarganya yang jumlahnya 10 % dari PDB Filipina. Contoh terbaik adalah Yahudi : konon hanya ada 14 juta orang Yahudi di seluruh dunia (termasuk di Israel) namun karena koneksitas diaspora Yahudi yang sangat tinggi, mereka menjadi kelompok ekonomi yang paling kuat di dunia. Tahun lalu, Bank Duniamencatat jumlah pengiriman uang dari diaspora berbagai bangsa di seluruh dunia ke kampung halaman mereka mencapai US$ 483 milyar.
Lebih dari sekedar keuntungan ekonomi, pendekatan diaspora ini juga bermanfaat untuk “re-profiling” citra insan Indonesia di luar negeri. Selama ini, kesan yang ditimbulkan warga di luar negeri adalah mereka penuh dengan masalah dan insiden, bahkan kadang tersandung inferiority complex. Kenyataannya, diaspora Indonesia penuh dengan profil-profil yang sukses, sigap bersaing di dunia internasional dan menjadi tauladan di komunitasnya. Sukses mereka sebenarnya adalah sukses Indonesia juga. Kebijakan diaspora, karenanya, merupakan bagian dari nasionalisme Indonesia yang sehat dan terbuka.
Diaspora Indonesia sebenarnya sudah cukup lama memainkan peran sejarah. Di awal abad ke-20, diaspora Indonesia lulusan Belanda membantu menyulut
gerakan nasionalisme yang kemudian melahirkan Indonesia modern. Di tahun 1970-an, diaspora Indonesia yang disebut sebagai “Berkeley Mafia” tampil
menjadi arsitek pembangunan ekonomi yang membuat Indonesia, terlepas dari masalah KKN, mengalami salah satu pertumbuhan tertinggi di Asia dan mencetak pengentasan kemiskinan yang signifikan. Seorang diaspora Indonesia dari Jerman – B.J. Habibie – kemudian menjadi Presiden Indonesia ke-3.
Inilah yang melatar belakangi penyelenggaraan Kongres Diaspora Indonesia di Los Angeles tanggal 6 – 8 Juli 2012. Kongres ini berpotensi menjadi pertemuan historis, karena untuk pertama kalinya ribuan diaspora Indonesia berkumpul atas motivasi yang sama : menjalin koneksitas atas dasar kecintaan pada Indonesia. Mudah-mudahan, di Los Angeles nanti akan timbul suatu identitas dan kebanggan kolektif sebagai diaspora Indonesia. Mudah-mudahan, diaspora Indonesia bukan hanya menjadi seribu suara yang lantang, namun suatu kekuatan besar bagi Indonesia – kekuatan kreatif, kekuatan ekonomi, kekuatan intelektual dan kekuatan moral.
* Dr. Dino Patti Djalal adalah Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat.
Tokoh berikutnya, Prof Dr Ing BJ Habibie, salah satu diaspora Indonesia yang paling sukses dan terpanggil untuk “pulang kampung” dan dikemudian hari menjadi Presiden ketiga Republik Indonesia memberikan pesan yang isinya :
Pimpinan dan Peserta
Congress of Indonesian Diaspora yang saya hormati dan banggakan
Assalamualaikum w w
Salam Sejahtera
Ketika saya menerima permintaan dan undangan Dr. Dino Patti Djalal — melalui Ilham Habibie, anak saya — maka saya dihadapkan pada pilihan sulit, yaitu: antara saya memenuhi undangan tersebut – karena begitu penting acara Congress of Indonesian Diaspora (CID) ini; dengan kegiatan dan komitmen lain yang harus saya lakukan pada saat yang sama. Mengingat juga kondisi saya yang tidak muda lagi (76 tahun, pada tanggal 25 Juni yang lalu) maka pilihan sulit tersebut saya atasi dengan menyampaikan „Pesan Tertulis“ ini. Demikian, mudah-mudahan para Peserta dan Pimpinan CID dapat memaklumi dan memaafkan ketidakhadiran saya.
Hadirin yang terhormat,
Pertama-tama, saya sampaikan Selamat atas terselenggaranya forum yang merupakan ajang silaturahmi atar para diaspora Indonesia dari seluruh Amerika dan bahkan dunia ini. Congress of Indonesian Diaspora (CID) ini amat penting sebagai wahana bertukar informasi dan pemikiran serta pengalaman dalam rangka partisipasi aktif para diaspora untuk ikut merencanakan dan memperjuangkan terwujudnya Indonesia yang maju, mandiri, demokratis, sejahtera dan berkeadilan di masa depan.
Dari bahan yang sempat saya pelajari, CID adalah forum yang mempunyai potensi sumberdaya manusia (SDM) yang besar. Dengan berbekal pengalaman, kesungguhan dan dedikasi pada bangsa Indonesia, mereka dapat menjadi bagian dari kekuatan intelektual, kekuatan sosial, dan bahkan kekuatan ekonomi yang signifikan untuk berperan aktif terwujudnya Indonesia masa depan yang kita idamkan tersebut.
Ada beberapa advantages lain mengapa CID dapat berperan nyata dalam ikut merencanakan dan mewujudkan masa depan Indonesia tersebut;
Pertama, bekal pengetahuan, keterampilan dan pengalaman yang diperoleh para diaspora Indonesia selama belajar dan berkarya di luar negeri — dengan berbagai latar belakang keahlian dan kepakaran yang amat beragam — akan amat dibutuhkan dan berguna untuk ikut merajut masa depan bangsa.
Kedua, dengan posisi para diaspora jauh dari tanah air, diharapkan dapat melihat secara lebih jernih lagi permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini dan tantangan serta peluang yang harus diraih di masa depan. Para diaspora Indonesia dapat terbebas dari “hiruk-pikuk“ situasi di tanah air yang sering tidak produktif. Mereka juga terbebas dari “polusi pemikiran, gagasan dan bahkan interes politik sesaat“ yang sebenarnya juga kontra-produktif bagi upaya mewujudkan Indonesia masa depan yang kita citakan tersebut.
Ketiga, dengan pembelajaran langsung di negara tempat mereka belajar, bekerja dan berkarya, mereka dapat belajar bagaimana negera atau bangsa yang telah maju tersebut dapat memecahkan permasalahan masing-masing dan bagaimana mereka meningkatkan produktivitas, daya saing serta kemandirian mereka untuk menjadi negara maju dan diperhitungkan.
Dengan tiga kelebihan tersebut, saya amat berharap pada diaspora Indonesia yang hadir dalam forum CID ini dapat secara aktif memberikan sumbangan pemikiran dan juga upaya untuk memecahkan berbagai persoalan bangsa yang akan saya kemukakan.
Hadirin yang terhormat,
Di bawah ini saya sampaikan beberapa permasalahan yang secara nyata dihadapi bangsa Indonesia dalam mewujudkan cita-citanya, sebagai bahan yang dapat dibahas dalam forum CID ini. Banyak permasalahan yang dihadapi, tetapi saya hanya mengemukakan dua hal saja, yaitu: (1) masalah kesenjangan Dunia Usaha kita, dan (2) masalah ketimpangan „Neraca Jam Kerja“.
Permasalahan Kesenjangan Dunia Usaha
Apabila kesejahteraan dan keadilan yang merata bagi seluruh warga bangsa, maka untuk menilai seberapa jauh sasaran tersebut telah kita capai, kita perlu melihat kemampuan berkarya (kualitas) dari sumberdaya manusia Indonesia, yang antara lain tercermin dalam profil lapangan kerja mereka.
Ternyata dari data yang kita peroleh menunjukkan adanya kesenjangan yang cukup memprihatinkan, sebagaimana dapat dilihat pada data berikut:
1. Usaha Kecil dan Usaha Menengah menyediakan 99,46 % lapangan kerja, sementara lapangan kerja yang disediakan oleh Usaha Besar hanya mencapai 0,54%.
2. BPD dalam perekonomian nasional disumbang oleh hasil Usaha Besar (44,9%) hasil Usaha Kecil dan Menengah (55,1 %).
3. Perbandingan Nilai Tambah yang dihasilkan tiap lapangan kerja oleh UK : UM : UB adalah 1 : 3 : 170 (perbandingan yang ideal adalah 1:1:1 ± 10%).
Hal ini mencerminkan adanya:
– kesenjangan kualitas sumberdaya manusia;
– kesenjangan pendidikan;
– kesenjangan produktivitas; dan
– kesenjangan penguasaan Iptek.
Kesenjangan tersebut harus dikoreksi karena akan mengakibatkan peningkatan kesenjangan antara miskin dan kaya dan menghambat daya saing ekonomi nasional, yang pada gilirannya akan menghambat tercapainya sasaran kesejahteraan dan keadilan yang merata bagi seluruh warga bangsa.
Gambaran tentang kesenjangan tersebut juga mengingatkan kita bahwa masalah kualitas sumberdaya manusia merupakan persoalan utama bangsa, yang harus menjadi perhatian dan hendaknya menjadi “tema sentral” dalam berbagai upaya kita untuk membangun masa depan secara konsisten dan berkesinambungan.
Masalah Ketimpangan “Neraca Jam Kerja”
Sejarah telah membuktikan bahwa hanya suatu masyarakat yang sumberdaya manusianya merdeka dan bebas saja, yang dapat meningkatkan produktivitasnya dan daya saing mereka.
Perilaku sumberdaya manusia dipengaruhi oleh budaya dan agama masyarakat bersangkutan, yang diperoleh dari kualitas proses pembudayaan. Ketrampilan sumberdaya manusia ditentukan oleh sistem pendidikan, penelitian dan kesempatan bekerja masyarakat bersangkutan pula.
Perilaku dan keterampilan sumberdaya manusia tersebut sangat menentukan kemampuan berpikir, berkarya dan bekerja dengan produktivitas dan daya saing tinggi.
Dalam proses “globalisasi“ perhatian utama diberikan sekitar mekanisme “jual-beli“ bilateral, multilateral dan global. Mekanisme Pasar yang tadinya didominasi sumberdaya alam dan produk karya nilai tambah dan biaya tambah sumberdaya manusia, maka sekarang diwarnai dengan komoditas baru yang kita kenal sebagai “mata uang“. Arus Informasi yang berlangsung cepat, tidak semua sempurna dan rentan terhadap manipulasi, sehingga akan sulit menghasilkan kebijakan yang tepat, cepat dan berkualitas. Mekanisme pasar dan teori ekonomi yang berlaku perlu disempurnakan!
Melalui proses globalisasi tanpa disadari negara berkembang – termasuk Indonesia — telah menjual modal sumberdaya alam perkebunan dan pertambangan yang dimiliki, yang dibayar dengan mengimpor produk yang tidak dibuat sendiri!
Pertanyaan-pertanyaan yang harus kita jawab adalah:
* Bagaimana nasib masyarakat, yang tanpa disadari menkonsumsi produksi negara lain?
* Bagaimana sumberdaya manusia dapat berkembang dan menjadi unggul jikalau karya dan produksinya tidak dibina sedini mungkin dan harus bersaing dengan produksi masyarakat lain yang telah menikmati insentip pembinaan dan pengembangan oleh masyarakatnya sendiri?
* Bagaimana membiayai proses pembudayaan dan pendidikan sumberdaya manusia jika modal sumberdaya alam sudah dikuasai oleh jaringan investor negara lain?
* Bagaimana daya saing dan produktivitas sumberdaya manusia dapat ditingkatkan jikalau lapangan kerja untuk produksi barang konsumsi domestik tidak diperhatikan oleh Masyarakatnya sendiri?
* Dapatkah kita biarkan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat konsumen dan bukan masyarakat produsen produk manifaktur?
* Dapatkah kita biarkan masyarakat Indonesia terus menkonsum produk hasil karya nilai tambah masyarakat lain, karena karya nilai tambah sendiri tidak cukup diperhatikan dan dibina?
* Sadarkah kita bahwa dalam produk impor tersembunyi “jam kerja“ masyarakat lain?
* Akankah kita biarkan terus ketimpangan kita dalam “Neraca Jam Kerja“, karena kita terlalu berorientasi pada Neraca Perdagangan dan Neraca Pembayaran saja?
Kepada para diaspora Indonesia saya minta untuk merenungkan dan mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut. Bagaimana kita perlu menyeimbangkan neraca jam kerja. Bagaimana kita dapat mengingatkan dan memberi masukan para pengambil kebijakan di tanah air untuk merumuskan strategi dan kebijakan nyata guna mengoreksi ketimpangan neraca jam kerja tersebut. Bagaiman kita perlu menyadarkan saudara-saudara kita di tanah air, bahwa membeli produk apa pun yang dibuat di dalam negeri sama dengan mempertahankan dan mengembangkan lapangan kerja atau jam kerja yang dibutuhkan untuk meningkatkan daya saing dan pemerataan kesejahteraan dan ketentraman.
Hadirin yang terhormat,
Uraian di atas menyadarkan kita bahwa yang harus kita perhatikan dan prioritaskan adalah kepentingan rakyat Indonesia sendiri, sebagai bangsa yang bermartabat, yang sedang berjuang menuju cita-cita, dengan berbagai keterbatasan yang ada.
Kita mesti berkeyakinan bahwa masa depan bangsa ditentukan oleh keunggulan sumberdaya manusia Indonesia yang memiliki nilai-nilai budaya dan agama yang tinggi, serta memahami dan menguasai mekamisme pemgembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi secanggih apapun.
Prasyarat merdeka dan bebas telah kita raih bersama untuk masa depan yang lebih sejahtera, tentram dan cerah merata bagi kita.
Demikian, sekedar pesan dan masukan dari saya. Selamat berdiskusi dan berjuang untuk masa depan Indonesia yang lebih baik lagi!
Wassalamualaikum w w
Munchen, 6 Juli 2012
Bacharuddin Jusuf Habibie
Download Sambutan ini disini.
nasionalisme diaspora indonesia tak perlu diragukan. sejak adanya komunitas spt itu dulu, mereka amat peduli dalam membangun bangsa. sayangnya saat kembali ke tanah air, mereka diracuni, dijebak, diintimidasi oleh politikus yg tunduk kpd gangster the untouchable.
oia, unggulcenter sdh ada di The Inspirer, yo. sukses belajarnya. makin luas networknya!
Untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia di kedua provinsi itu, dilakukan penyediaan tenaga pengajar yang berkualitas dalam jumlah yang mencukupi. Untuk menembus keterisolasian, perlu dilakukan pembangunan dan peningkatan sejumlah ruas jalan darat yang menembus dari pesisir selatan hingga ke pegunungan tengah. Dengan cara itulah, secara sistematis kita dapat mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat di Provinsi Papua dan Papua Barat.
Sabtu, 20 Oktober 2012, 11:44 VIVAnews – Indonesia sedikitnya memerlukan sedikitnya 200 ribu lulusan S3 untuk mengembangkan Informasi, komunikasi dan teknologi guna bersaing di dunia internasional ke depannya. Saat ini lulusan S3 hanya sekitar 20 ribu orang, jumlah tersebut jauh tertinggal dari beberapa negara di kawasan Asia Seperti China yaitu sekitar 100 ribu orang. “Kita butuh saintis. Ini perlu taktik total football, kita harus bisa bekerjasama semua,” ujar Menteri Perdagangan Gita Wirjawan di Jakarta, Sabtu 20 Oktober 2012. Dengan masih minimnya jumlah sumber daya manusia yang berkualitas tersebut, menurut Gita, kecil kemungkinan Indonesia memiliki tokoh-tokoh yang menjadi pionir tidak hanya di dalam negeri tapi juga di luar negeri. “Bagaimana kita mau membuahkan Steve Jobs atau Bill Gates, kalau kita tidak bisa meningkatkan jumlah S3 kita,” tambahnya. Ke depannya, menurut Gita, Indonesia mampu untuk mewujudkan hal tersebut. Sebagai negara yang memiliki penduduk salah satu terbesar di dunia, dan dikombinasikan dengan dukungan anggaran dari pemerintah guna pendidikan, peningkatan kualitas SDM tersebut bukanlah hal yang mustahil.