Dimana gerangan tempat nongkrong anak muda Davao kalau malam? Pertanyaan saya ini segera terjawab melalui pesan singkat dari sosial media seorang pelajar Indonesia di Davao City, Filipina. “Roxas!” demikian katanya melalui pesan di sosial media. Singkat kata, saya akan ditemui oleh Saras dan Girly, keduanya sejak kecil sudah ada di Davao, karena orangtuanya merupakan karyawan konsulat jenderal RI di Davao.
Menunggu di depan pusat oleh-oleh Aldevinco, saya akhirnya bertemu mereka setelah magrib. Tak dinyana, Roxas ternyata tak terlalu jauh dari Aldevinco, dan kembali ke Hostel dari sini hanya perlu menaiki Jeepney satu kali. Jeepney adalah angkot khas di Filipina yang ada sejak jaman Perang Dunia loh, nanti ya saya ceritain lain artikel.
Oke, kami berkenalan kembali, karena sebelumnya saya hanya kontak via sosial media dan ditunjukkan info bahwa di Davao ada rekan pelajar Indonesia dari info Ketua PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Filipina, Mariana.
Saras, si Sunda yang Sekretaris PPI Filipina dan Girly yang asal Sangir-Talaud, Sulawesi Utara, mengoreksi ucapan saya. “Rohas” kata mereka, sambil tersenyum. Baiklah. Mereka juga mahir berbahasa Tagalog, Inggris dan Indonesia (tentu saja) plus bahasa daerah mereka sendiri.
Sore itu kami tak langsung menuju ke Roxas, karena katanya Malam hari-lah lokasi kaki lima ini ramai pedagang yang berjualan. Jadi, kami belanja oleh-oleh dulu di SM Davao, salah satu jaringan mal besar di Filipina untuk mencari oleh-oleh penganan khas Filipina, misalnya Dried Mangos dan Polvoron.

Singkat kata, malam itu kami kembali ke Roxas, dan ya! ramai sekali. Selain foto-foto, secara reflek saya langsung abadikan dengan sedikit rekaman video guna di upload di Youtube.
Tusukan Sedap
Roxas, merupakan nama jalan di Davao. Di jalan ini pada waktu malam, banyak pedagang kaki lima menggelar kuliner nikmat. Rata-rata tusuk-tusukan alias persatean. Aneka seafood hingga camilan ringan seperti cilok dijual oleh pedagang. Juga minuman kelapa yang nikmat dan harganya murah.


Uniknya, pada bagian pangkal kuliner kaki lima Roxas ini, memang di dominasi makanan yang umum saja, termasuk berbagai produk yang haram bagi traveler beragama Islam. Namun jangan khawatir, deretan penjaja gerobak yang halal ada di bagian ujung sebelah kiri. Anda bisa puas makan bakar-bakaran tanpa khawatir karena menu nya halal.
Bentuknya sendiri walaupun satu jalan dari ujung ke ujung, tapi dipisahkan oleh semacam sungai kecil yang tak bisa disebut got. Jadi dua arah jalan ini diisi oleh pasar kuliner rakyat ini.
Minum es kelapa khas disini, dan berbagai penganan misalnya telur yang dibumbu di pasar kuliner rakyat ini begitu menggoda. Jangan khawatir soal kebersihan, dari gambar foto pun terlihat, betapa bersih pasar kuliner kaki lima ini. Gerobak tertata rapi dan wadah penganan jualan pun tidak jorok. Sampah tak tampak dijalanan, baik dari pedagang maupun pengunjung. Hmmm.. ini kota kecil, bukan ibukota.


Hingga ke ujung jalan, memutar, kami menemukan area pedagang-pedagang makanan Halal. Menunya hampir sama tapi bisa dipastikan Halal untuk teman-teman muslim yang melancong. Menu yang kami santap malam itu adalah Ayam, Cumi, dan sejenisnya yang dipanggang. Sedap sekali, segar. Dan yang paling saya suka, harganya murah!


Makan di Roxas ini walaupun kaki lima, lumayan bersih. Meja yang bersih, bahan makanan yang higienis, dan bahkan mereka menyediakan sarung tangan plastik sekali pakai untuk kita makan. Jadi tak pakai kobokan.

Ada penjual es krim yang antri pembelinya panjaang banget. Entah, bagaimana rasanya, yang pasti sih saya lihat seperti es krim kaki lima biasa. Memang, Davao siang dan malam terasa hawa-nya gerah. Mungkin itu yang membuat es krim di Kota Durian ini laris manis tanjung kimpul.


Digantung dan Dipilih-pilih
Di pangkal jajanan kaki lima Roxas, juga ada penjual-penjual berbagai sepatu dan tas. Semuanya merek terkenal, namun dalam kondisi seken alias barang bekas. Namun kalau Anda beruntung, bisa dapat barang berkualitas bagus dengan harga yang pantas.

Barang-barang branded ini selain digelar didalam box-box juga banyak digantung. Jadi Anda bisa leluasa mencari yang mana yang suka dan kondisinya bisa diraba dan dicek.

Sayang, seperti halnya penjual di pasar tradisional pada umumnya, sedikit yang bisa berbahasa inggris. Mesti punya kenalan yang bisa berbahasa tagalog jika ingin menawar. Namun jangan khawatir, asalkan Anda dan penjual bisa cocok dengan harga yang ditawarkan, tentu tak masalah bukan?
Roxas. Dibaca “rohas”. Itulah tempat muda-mudi ngobrol sambil makan di Davao. Melepas penat selepas sekolah, kuliah atau bekerja. Sepanjang malam itu, banyak pula remaja berpakaian seragam. Seperti sekolah kalau di Indonesia. Namun jangan salah, di Filipina, sama halnya dengan Thailand, rata-rata mereka memiliki seragam walaupun level pendidikannya adalah mahasiswa.

Hari sudah larut ketika kami puas makan di kaki lima ini. Dengan berjalan kaki, kami meninggalkan area kaki lima ini dan menunggu Jeepney kembali ke Hostel. Girly dan Saras juga pulang dengan Jeepney berbeda. Hampir tengah malam, suasana di kota Davao masih ramai.
Jadi, kalau mau wisata kuliner di Davao, dari minum kelapa, makan tusuk-tusukan dan penganan khas Filipina dan beli gantung-gantungan di Roxas!