Aku tidak Pakai Tongkat

https://www.unggulcenter.org/aku-tidak-pakai-tongkat/

Hari ini di KRL Commuter Line, saya tersentak dari duduk, tidak tau kenapa, otomatis kaki saya mengajak berdiri. Ya, ada seorang bapak memapah anaknya, seorang pemuda tampan, namun terseok-seok. Langsung saya berikan tempat duduk. Tas laptop saya peluk, dan gudibeg dari @indosatmania di ajang #im3antigalau saya taroh ditempat barang-barang dibagian atas tempat duduk KRL.

Ketika berdiri, si Bapak langsung tersenyum kepada saya. Menanyakan aktivitas saya dan seterusnya. Bapak ini sederhana. Perawakannya sedang, baju kemeja kotak-kotak lengan pendek. Beliau langsung ngomong ke saya kalau anaknya ini mahasiswa PNJ (Politeknik Negeri Jakarta). Baru magang diantar beliau. Dia sendiri karyawan BPPT.  Saya teringat teman dan guru saya, pak Hartanto Sanjaya, blogger bogor yang suami Bu Desi, blogger kuliner dan chef.  Mungkin memang begitu karyawan BPPT, Ristek, dan lembaga penelitian lainnya. Pengalaman saya, serba sederhana, ramah, rendah hati, tapi tentu saja, cerdas luar biasa.

Pak Nurman namanya, bagian Kebijakan Teknologi. Dia antusias menawarkan saya untuk mampir ke BPPT. Dia juga ternyata warga bogor, tinggal di daerah Batutulis. Pak Nurman mempromosikan anaknya yang pemalu itu, ketika kami ngobrol, si anak muda itu tertunduk saja memeluk tasnya didada.

Pak Nurman memandang anaknya, membanggakan dia kalau dia bisa desain grafis, dia bisa membuat foto-foto pre-wedding dan dia grafika. Saya paham pak, bapak patut bangga. Anak muda ini, yang terseok-seok jalannya karena punya kelainan fisik di kakinya. Disabilitas kalau kita bilang, bahasa umumnya cacat.  Mahasiswa ini dengan berani menempuh pendidikan tinggi menggapai cita-cita.

Dia Kuat, kata Pak Nurman. Memapah sendiri badannya, berjalan dengan kondisi terseok-seok, kakinya tidak normal yang mengakibatkan adanya pengecilan di kedua tungkai kanan dan kiri. Dia menjadi seperti pendek. Tapi Anak ini berani.

KRL Commuter Line melaju terus hingga ke Stasiun UI. Tadinya, Mahasiswa ini, ah aku lupa tanya namanya, sedangkan dia juga pemalu dan sepertinya agak rendah diri dengan keadaannya, mau turun di Sta Pondok Cina.  Tapi Pak Nurman bilang, kamu turun sama Mas Unggul ya. Dia lega ada orang yang turun barengan. Tentu untuk bersama beliau memapah anaknya turun dari KRL yang agak jauh harus meloncat ketika keluar.

Stasiun UI. Sigap kami bersiap. Aku dan Pak Nurman membawa Anaknya yang agak meloncat2 berjalan ke pintu keluar. Aku tahan pintunya biar Pak Nurman bisa menyeberangkan anaknya. Setelah itu, dia masuk kembali, melanjutkan perjalanan ke Bogor.

Aku tanya anak muda itu, “gapapa?” Gak papa katanya. Dia agak menolak ketika kupegang lengannya untuk sekedar memapah. Hanya pas turunan tangga saja dia ku bantu.

“Gak bawa tongkat?” Aku bilang spontan. Dia jawab, Aku tidak Pakai tongkat. Selalu begini.

“Tidak apa-apa?” ”

Nggak. Biasanya kalau terlalu jauh, ya capek”

Ya aku sadar itu. Aku pernah mengalami itu, sakit yang tak bisa berjalan jauh, kaki pegal dan capek. Terkait pembuluh darah kaki.

“Tapi gapapa, saya naik ojek ke kost-an”  lanjutnya. “Kalau capek ya duduk aja kan” kataku tersenyum. Iya, katanya.

“Yang penting jalan terus, karena capek lama-lama juga biasa. Paling pas tidur capeknya terasa, tapi kan kita tidur”  dia jawab lagi sambil senyum. Hmm masuk akal. Ngapain dipikirin ya kalau gitu hihi.. keren!

Oh, kalau begitu, kami bisa berpisah. Tujuanku menuju jalan margonda dari stasiun ini. Aku cerita, aku juga pernah sakit dirawat di RSCM masalah Kaki juga. Maksimal 30 menit berdiri aku harus duduk kataku. Alhamdulillah sudah berkurang jauh, jadi aku paham bagaimana orang yang kakinya sangat sakit untuk berjalan.

Diperjalanan ke Margonda, aku baru sadar, gudibeg Indosatku ketinggalan di KRL tadi. Ah ya sudahlah, kalau rejeki gudibeg ini dititipin ke bagian informasi oleh yang menemukan. Kalau tidak, ya tidak apa-apa, aku membuat suatu kebaikan, dan satu kebaikan ini pasti dibalas dengan suatu nikmat dalam bentuk lain…

Bahkan lebih, aku dapat inspirasi lagi hari ini. Bagaimana perjuangan seorang pemuda cacat, dengan dorongan orangtua yang senantiasa ada disana, maju dan berani untuk maju. Mudah-mudahan kamu berhasil, dan menjadi ahli grafis yang membanggakan baik keluarga, almamater maupun bangsa ini. Tetap semangat ya!

About the Author: unggulcenter

Pengelola UC - Review Pengalaman Produk dan Perjalanan

You might like

10 Comments

  1. Hmmm..kapan kami ke bogor lg ye.. Minta ajari jadi blogger hehe.Susah pegang laptop skrng,dikuasai oleh sultan dan amik,sayangnya untuk main game bae:(

  2. Ya Allah Mas Unggul. Subhanallah sekali. Semoga saya atau mungkin banyak orang diluar sana, bisa seperti Mas Unggul. Amin. Hiks, mau nangis ngebayangin pria itu. Dia yang, maaf, cacat, masih mau bekerja keras. Tertampar rasanya hati ini.

  3. amin.. Alhamdulillah, pas buka email malam tadi, ada konfirmasi, permintaan gudibeg saya (merchandise untuk penggiat IT) dari sebuah perusahaan IT internasional di approve hehehe.. katanya 2 pekan lagi kira-kira ada gudibeg nyampe.

    Alhamdulillah langsung diganti Allah, cepat banget 🙂

  4. Hilang satu (gudibek), dapat banyak (ide tulisan, pengalaman, pelajaran hidup dll). Bagaimanapun, bagi seorang goodybag hunter, hilang satu tumbuh seribu (semangatnya untuk berburu tentunya). ;D

    Salam persahablogan,
    😉

  5. bertemu dengan teman-teman disabilitas memberikan banyak penyadaran bagi kita. kisah nyata yg inspiratif dan menggetarkan.

  6. dulu waktu aku masih skripsi, di FIB jg ada mahasiswa yg disabilitas gini. Aku kagum sama mereka mau terus kuliah dibalik keadaan fisik mereka dan menganggap hal tersebut sebagai hal yg biasa.
    semoga kuliahnya lancar dan dia bisa meraih apa yg dicita-citakan.. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.