Als ik een Nederlander was.. artinya kurang lebih “Sekiranya Aku seorang Belanda”. Hafal di luar kepala sejak SD dan pas SMP mengetahui bahwa ini judul tulisan artikel terkenal Ki Hadjar Dewantara di koren De Express pimpinan Douwes Dekker, seorang Belanda yang juga sohibnya. Tulisan ini maknanya dan semangatnya luar biasa. Ini sebagai ekspresi atas Belanda yang mau merayakan kemerdekaan dari penjajahan Perancis (waktu jaman Napoleon, Belanda dikuasai dan adik Napoleon, Luis Bonaparte kalau ngga salah menjadi raja belanda). Lalu, anehnya, Indonesia (Hindia Belanda) kok di-pajakin untuk urusan biaya perhelatan kemerdekaan itu. Ini yang membuat beliau menulis :
“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya”. (wikipedia)
Walau demikian, gaya penulisannya sangat menyinggung ini menurut Pemerintah Belanda dipengaruhi oleh Douwes Dekker si pemred yang menghasut Soewardi Soejaningrat (nama Ki Hadjar waktu itu). Akhirnya beliau akan dibuang, diasingkan. Tanpa gentar, Soewardi malah menantang untung diasingkan ke Pulau Bangka. Teman seperjuangannya, Tiga Serangkai yaitu Douwes Dekker dan Dr Tjipto Mangoenkusumo membela beliau, dan akhirnya “dikompromikan” untuk dibuang ke negeri Belanda. Ya, mungkin untuk “dididik” lebih jauh biar nggak radikal. Tapi tentu, di Belanda-lah malah semakin jelas visi masa depan Indonesia. Semakin banyak teman seperjuangan yang bervisi sama. Ini blunder belanda. Kisah selanjutnya, kita tahu sendiri.
Mengapa tiba2 kok saya nulis ini? Ya karena suatu waktu, beberapa bulan lalu, saya berkesempatan ke Leiden untuk pertukaran pelajar. Sudah sumringah, sudah merasa semangat dan bergelora ingin menapak tilas dan melihat langsung apa yang dulu para founding fathers lihat dengan mata kepalanya.. namun, aplikasi saya batalkan karena biaya beasiswa hanya cukup untuk kamar, belum makan minum.. mungkin, lain kali saya bisa ke Belanda. Bukan untuk keren-kerenan, bukan mengagungkan negara penjajah, tapi untuk memperdalam nasionalisme. Berita PPI Leiden (perhimpunan pelajar indonesia di Leiden) mengenai napak tilas HISTORUN yang mereka lakukan membuat saya ikut senang, ingin rasanya ikutan.. beritanya ada disini, disini juga disini. Wuih pengeeeenn….!
Misalnya, siapa sangka Puisi Chairil Anwar terpampang megah di salah satu sudut rumah di Leiden?

atau, rumah kediaman Ahmad Soebarjo yang masih ada sampai saat ini di Leiden?

Alhamdulillah, bulan depan, istri saya yang berkesempatan ke Belanda, tepatnya Rotterdam. Pesan saya, jangan hanya nikmati “keindahan” tapi nikmati jejak sejarah bangsa ini, nikmati angin dan udara yang dulu bagi para pendiri bangsa adalah udara kebebasan dan kemerdekaan yang diperjuangkan. Belanda saat ini “orang baik” kok. Semua begitu. Jepang juga begitu. Jadi, semoga menjadi napas bagi kehidupan kita untuk berjuang, membebaskan diri dari belenggu yang ada. Apapun itu, itulah spirit yang harus dicapai..
Dulu, TOEFL pertama saya, ITP pun di NESO, Nederland Education Office. Saya ingin lanjut ke Belanda sebenarnya, atas dasar hal yang sama, mengagumi jejak para founding fathers Indonesia di Belanda. Dan ingin menjadi bagian dari intelektual Indonesia disana. Walau tak terpakai, tapi cita-cita belum sampai, walau istri saya yang duluan (nanti), saya merasa terwakili. Dan mungkin, mungkin, anak saya juga bisa kesana, suatu saat. Saya juga suatu saat akan kesana, dan akan mengontak teman-teman PPI. Who knows.
Saya juga menulis ini, karena kemarin, saya berkenalan dengan seorang mahasiswa Rusia. Lazimnya, mereka tahu Soekarno, tahu Jakarta. Tidak seperti “bule” lain yang taunya hanya Bali. Mungkin karena poros Moscow-Jakarta-Beijing masuk dalam sejarah mereka era Sovyet. Dan dia tanya, serius, baru tahu kalau ngga banyak orang Indonesia saat ini yang bisa bahasa belanda. Beda sama Amerika latin yang berbahasa Spanyol dan Portugis. Bahkan Timor-leste. .Waktu itu saya jawab, hmm.. mungkin karena kita perjuangkan dengan darah dan perebutan kekuasaan, bukan diberi. Betul atau salah, silakan nilai sendiri. Bisa jadi karena bahasa belanda hanya dinikmati kalangan ningrat, dan setelah kemerdekaan tak jadi pengantar di sekolah. Beda seperti yang lain, bahkan inggris yang menjadi bahasa pengantar formal di India sampai sekarang. Yang pasti, memang faktanya bahasa belanda sudah hilang dengan sendirinya.
Andai aku seorang Belanda.. bukan, andai Aku bisa ke negeri Belanda untuk mengenal bangsaku sendiri.
note : sumber gambar (klik kanan dan view)