Balada Sandal dan Ketakwaan

https://www.unggulcenter.org/balada-sandal-dan-ketakwaan/

Jumat. Satu ritual yang membedakan dari perempuan muslimah dan lelaki muslim adalah sholat Jumat. Ibadah sholat yang di Indonesia kerap disebut “jumatan” ini bisa dilakukan di Masjid mana saja yang menyelenggarakan. Artinya, dimanapun engkau berada, pada saat masuk waktu Sholat Jumat, menepilah, berhentilah berniaga. Cari tempat sholat terdekat dan ambil wudhu.

Selain itu, hal yang menarik sekaligus miris adalah masalah sandal. Bukan hanya hampir jamak sendal-sendal sering hilang di pelataran depan masjid ketika ditinggal pemiliknya sholat, sandal-sandal ini juga kadang tak pandang bulu utk diambil. Saya seringkali kehilangan sandal jepit, ketimbang sendal yang “bagus”.  Akhirnya saya punya trik, memisahkan sandal kiri dengan sandal kanan agak jauh, agar tidak menjadi target operasi maling kurang ajar, yang saya yakin 100% ikutan sholat Jumat dulu!

Cerita sandal tidak hanya satu. Sebenarnya saya heran, apa sih yang menyebabkan jamaah itu “hobi” menginjak-injak sandal orang lain? Mungkin ini pertanda pada bidang yang lain, si empunya juga suka menginjak-injak hak orang lain hehe..

Memang, kita patut bersyukur apabila membludaknya jumlah sandal di masjid pada waktu jam Sholat Jumat adalah pertanda banyaknya jemaah yang beribadah, sehingga tempat penitipan sepatu-sandal pun penuh. Selain penuh, sandal yang bagi pemiliknya “tidak layak” untuk di-maling pun sering dilepas begitu saja. Tentu, sendal dan sepatu yang banyak itu akan menjadi injak-injakan orang lain yang mau masuk masjid. Sepatu-sandal lain, jikalau tidak dititipkan ke petugas penjaga masjid (yang sholat jumatnya juga ikut, namun mepet pas adzan), para jamaah lebih sering untuk menaruh ditempat yang “aman”, kadang ditempat yang “nyaman”. Tak jarang, di masjid-masjid besar, kantong kresek dibawa sendiri dari rumah, dan koran bekas pun dibeli apabila ruangan masjid penuh dan mendapat tempat di area halaman dan pelataran masjid.

Oke, ketika masuk masjid dan tentunya sudah dalam keadaan suci setelah berwudhu, kaki kita akan dengan sadar menginjak-injak sandal orang lain untuk masuk, agar tidak kembali kotor. Kalau yang begini sih, Alhamdulillah, pemilik sendal mendapat pahala dengan menyediakan sandalnya untuk menjadi alas kaki orang lain yang ingin beribadah. Celakanya, fenomena yang sama terjadi sebaliknya pas sholat selesai. Bubaran, bagi masyarakat artinya dulu-duluan turun dan keluar. Mungkin diantaranya ada maling sandal, pencopet saya tidak tahu. Gayus juga sholat jumat kabarnya. Namun, bagi yang pulang belakangan, alangkah sedihnya bahwa pasti, ya saya ulangi, PASTI sandalnya sudah kotor sekali di injak-injak orang lain dengan memakai sandal!

Jumat lalu (November 2010), saya sempat mengabadikan suasana hasil “injekan” dengan tergeletaknya korban sandal. Selain kotor, diinjek-injek, juga kebolak-balik, mental kesana kemari sandal kanan dengan yang kiri. Salah satunya sandal saya. Ah, tak penting yang mana, semuanya kotor!

nasib sendal jamaah sholat jumat yang pulangnya belakangan

Apa sih salahnya, melangkah, melompat kecil menghindari, atau, paling etis, memakai sendal di ujung paling luar pelataran sehingga ketika kaki sudah beralas, si alas tidak lantas menghina alas kaki orang lain? Dari dulu sampai saat ini saya heran. Heran sekali.

Dulu, menitipkan sendal karena khawatir hilang. Sekarang, kekhawatiran menjadi dobel, takut hilang, khawatir rusak dan kotor. Hmm masalah dobel, berakibat ibadah tidak khusuk!

Mudah-mudahan, suatu saat masyarakat (baca : jemaah sholat jumat) sadar, tidak ada untungnya sama sekali menginjak-injak sandal orang, terkecuali kerugian karena menyebabkan dosa.

Sandal, memang luput dari dimensi ketakwaan. Dimensi ketakwaan seperinya hanya ada di dalam masjid. Ketika masuk masjid, sendal dilepas. Karena kotor. Tapi lebih buruk lagi, memakai sendal untuk menginjak sendal lain. Si Kotor menginjak si Kotor. Dobel Kotor.  Seseorang hanya dilihat dari tindak tanduknya di dalam masjid. Diluar masjid, mengambil sendal orang, mengotori sepatu sendal orang, buru-buru keluar hingga melewati orang yang sedang sholat sunat dua rakaat setelah Jumat, sepertinya luput dari dimensi ketakwaan itu. Padahal saya rasa itu termasuk. Mudah-mudahan pembaca tulisan ini bukan salah satunya. Amin..

— dari pemilik sendal butut yang selalu mendapati sendalnya kotor dengan tanah, kotoran ketika pulang sholat Jumat.

About the Author: unggulcenter

Pengelola UC - Review Pengalaman Produk dan Perjalanan

You might like

6 Comments

  1. Nah, itulah dia, masih banyaaaaaaaak orang2 yang cuek gak peduli ama hal kecil di sekitarnya.
    Padahal, bisa aja orang lain yang dirugikan berdoa minta supaya orang yang nginjek diapa-apain. Bisa aja ‘kan… 😐

  2. Itu aku kira ada hubungannya dengan kurangnya budaya tertib, antre dan sejenisnya. Karena untuk keluar dari masjid selepas jumatan itu kan perlu antre juga dan hati-hati agar tidak mengusik (mengotori, mengacaukan dll) sendal orang lain. Aku pun merasakan “kekesalan” yang sama soal itu. Sudah coba kutaruh agak jauh dari “kerumunan” sendal pun masih suka kena injak juga.

    Tapi, agaknya, kebiasaan demikian akan terus berlangsung lantaran “kita” kurang suka membiasakan diri dan mengajari kerabat dan keluarga untuk melaksanakan soal-soal “kecil” akhlak yang seperti itu.

    Soal lain pada momen jumatan juga misalnya, anak-anak selalu berisik bercanda, satu dua orang dewasa juga suka ngobrol, saat khatib sedang berkhotbah. Lalu selalu ada yang ber-ssstttttttttt untuk mengingatkan mereka (anak-anak), tapi jelas sia-sia karena mereka akan kembali lagi ramai. Mestinya anak2 itu sudah diberi peringatan sejak dari rumah (tiap kali akan jumatan) bahwa “ngobrol bercanda kala jumatan itu sama dengan nggak jumatan” (sebagaimana yang kerap diucapkan khatib pada awal khotbah dalam bahasa Arab–lupa persisnya).

    Eh, sori, kok jadi panjang, sok berkhotbah.

  3. betul, kalau sudah hilang tidak boleh ngedumel. Sudah menjadi takdir toh. Dari ratusan sandal tiba-tiba sandal kita yang hilang, artinya sudah ada sesuatu yang disiapkan Allah menggantinya. Mungkin Si pengambil lebih memerlukan, atau kita yang kehilangan sedang diuji kesabaran dan perlu membelanjakan uang membeli sandal baru di warung depan, utk rejeki pemilik warung dan seterusnya.

    Yang jadi masalah kalau seperti gambar diatas, diinjak2 ditendang2 nggak peduli hehehe.. padahal sandal itu juga punya jiwa. Punya pemilik. Dan dari perilaku dan budaya per-sandal-an saja kita bisa melihat budaya bangsa ini dalam hal yang lain. Menginjak-injak hak orang lain. Tidak peduli dengan sesama (dalam hal ini sesama jamaah). Aha!

  4. hehe caranya sama kang. aku juga memisahkan posisi sandal kalo shalat di Masjid. jadi ingat tulisanku tentang seseorang yang ngedumel karena kehilangan sendalnya, lalu ia bertemu dengan seorang lelaki yg kehilangan kakinya tetapi tetap tersenyum. pertemuan tersebut membuatnya ikhlas kehilangan sendalnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.