Akhir tahun 2015 ini semua orang ramai-ramai bikin resolusi. Wajar, karena refleksi selama setahun akan menjadi pijakan untuk lebih baik di tahun berikutnya.
Yang bikin saya senyum-senyum, saya menemukan status beberapa yang mengaku blogger namun mengaku pula kecewa dengan blogger-blogger lainnya. Wah, boleh dong kecewa. Boleh aja. Tapi baiknya jangan deh. Soalnya kamu baiknya stand out, keluar dari crowd, baru boleh mengutuk. Lebih afdol. Lebih oke kok, bagus malah sebenarnya ide-nya untuk mengajak kembali ke Khittah. Tapi, jika tidak, kamu ya sama aja dengan “mereka”. Sama dengan saya. Ngga kemana-mana. Ini menurut saya blogger hipokrit. Isinya apologi keadaan tapi enjoy juga didalamnya.
Seperti apa misalnya. Ya, banyak blogger yang mengaku ahli atas blogger lain. Punya level lebih dewa dalam urusan menganalisa perilaku blogger (lain). Mulai dari mengatakan banyak yang ngeblog yang isinya review semua, blogger yang isinya event semua, blogger yang ikut-ikutan ini itu dan cari segenggam tas gudibeg dan lomba. Padahal, semua hepi hepi aja hehe.
Bahkan, ada pula yang coba menilai, bahwa ada blogger yang merasa bagian dari jurnalis, bagian dari media yang tidak boleh dibedakan pun merupakan hal yang absurd. Blogger bukan media. Mereka, dalam pandangan ini seperti rendah. Mudah-mudahan salah. Karena akan terjebak di hipokrisi dan apologi. Karena tak bisa lepas darinya, dan menunjuk telunjuk ke depan, dengan empat jari lain ke diri sendiri.

Ya, hikmahnya, memang blogger haruslah menulis tentang yang dekat dengan kesehariannya. Ngga melulu review dan brand isinya. Kering. Ini saya akui, dan perlu balancing dengan apa yang kita tulis. Ketika kita pertama memulai blog, di tahun 2005, 2006,2007, 2008, 2009, 2010, 2011, 2013 bahkan 2014 dan 2015 dimana semua sudah “kapitalis” hehe..
Idealnya, blog adalah weblog. Kembali pada masa awal seperti diari. Jadi, selayaknya dalam blog pribadi, isinya ada keseharian yang lepas dari nilai komersial. Namun apakah semua blog bergenre sama, genre diary? Faktanya, Genre Diary dalam penulisan blog sudah sulit dicari. Blogger senior yang ngeblog akhir 90an sampai awal milenium pun semakin jarang apdet blog-nya. Kesibukan, entah apa.
Penting, bagi kita semua, not to judge ketika kita berada di dalamnya. Boleh menyesalkan keadaan, tapi baiknya menyalakan lilin. Yang terjadi, banyak blogger yang hebat ini mengenali lingkungan seperti ini, tapi larut pula di dalamnya. Misal, mengatakan banyak blogger berbayar, review ini itu, event ini itu.
Tapi beliau-beliau ini membutuhkan mereka untuk menyambung bensin blog yang dia kelola atau brand yang dia handle untuk berjaya di sosmed. Akhir bulan gaji masuk. Akhir bulan transferan tiba. Mengutuk, tapi berada di keramaian itu.
Sampai ada yang tulis resolusi 2016 ingin “lebih baik”, tapi mengandalkan blogger-blogger yang “tidak baik” ini mengisi konten blog dan peserta lomba dan giveaway yang mereka buat. Apalagi kalau bukan blogger-blogger lomba, kuter, dan sebagainya yang disasar. Blogger yang sebelumnya “dihina” atas kasta ikut-ikutannya, hepi-hepi event dan gudibeg dari brand-nya.
Lalu, apakah salah, saya rasa blogger yang mengikuti lomba, event, me-review, tak salah. Brand mencari pula nilai tambah dari blog yang populer. Yang menulis dengan kalimat blogger, lepas tanpa kaidah KBBI yang baik dan benar. Kecuali jika memang urusan blogging membawa-bawa target internasional (kemungkinan di-translate oleh penerjemah online lebih mudah) atau nasional terdidik di kalangan umur tertentu.
Eniwei, ini tambahan, maksud saya, mungkin perlu dibedakan pula ya berdasar KBBI dalam arti tulisan yang kaku, semisal standar harus ditulis standard, atau Download harus ditulis Unduh. Mungkin hanya “sebatas” tulisan yang jurnalistik misal kata awalan dan akhiran yang benar.
So be it. Enjoy aja. Jika mau ngeblog, ya ngeblog aja. Jika bilang Anda berbeda, anda blogger yang “pure” silakan. Namun konsisten. Jika tidak, anda akan dicap hipokrit. Hipokrit menurut KBBI adalah ” hipokrit /hi·po·krit / 1 a munafik; 2 n orang yang suka berpura-pura”. Berpura-pura menyesalkan kondisi perblogging-an hari ini, namun melestarikannya karena memiliki kepentingan memanfaakan mereka-mereka ini, yang anggap lah, bagi anda blogger Alay yang rame ribut dimana-mana. Padahal jika ditilik sih, lebih banyak 4L alias loe lagi loe lagi.
Bagian dari komunitas, yang membedakan blogger di Indonesia dengan negara eropa dan amerika misalnya, adalah intensitas ketemuan. Kopdar. Saya rasa, setiap event merupakan peluang emas untuk blogger kopdar. Karena tak seperti dulu, komunitas blogger kental di “kedaerahannya” kalau sekarang, kental di interestnya. Ada blogger genre traveler, gadget, fesyen dan seterusnya. Jika yang gado-gado isinya juga interest mereka semua (yang banyak).
Komunitas yang terbentuk pun banyak didasari kesamaan interest dan platform terkait, apapun selain kedaerahan, misal Blogger Reporter, Blogger Laki, Emak-emak blogger, Fun Blogging, Blogger Detik, bahkan Kompasiana yang ada level level pula dibawahnya. dst. Semua ajang untuk jejaring, bercerita, mendapat rejeki (kadang banyak yang memamerkan sih tapi dengan niat motivasi. Amin. Inna ma a’malu bil niyat). Jadi, fun aja.
Jika ditanya, tahun 2016 akan seperti ini-kah lagi (dengan nada sinis), saya jawab, wah,Insya Allah! Soalnya dengan penetrasi internet, masyarakat yang mulai teredukasi maka berbagai promosi dan bahkan pekerjaan online menjadi hal yang harus ditingkatkan. Potensi dan emang kenyataannya, blogger yang juga pegiat ekonomi kreatif sangat besar, dan memang sebagian ada disana.
Istilahnya banyak, dari Bloggerpreneur, Blogger-admin, blogger freelance, apapun istilahnya. Karena kesehariannya disana. UKM pun harus E-UKM, goes online. Pelaku UKM menjadi blogger karena dengan Web 3.0 yang interaktif, Web bukan hanya berisi pajangan etalase produk semata. Mereka harus “ngeblog”. Indonesia, berpotensi maju dengan adanya blogger-blogger.
Itu dari sisi ekonomi. Dari sisi pendidikan, semakin banyak ngeblog, lomba, event reportase, dan seterusnya mengasah kemampuan penulisan. Dari kaidah pembahasaan yang amburadul, hingga lumayan rapi, bahkan sangat baik dalam kaidah jurnalistik. Menggeser peran media mainstream, hmm, saya tak mau prediksi, tapi banyak teman berpendapat, iya, akan!
Semuanya berujung kepada Indonesia dalam ranah lebih luas. Bukan sinis sana sini, nyinyir ini itu, tapi berusaha menjadi terbaik. Bahkan urusan blogging karena akan terkait dengan peningkatan ekonomi, peningkatan edukasi, Semua positif kok. Lalu mau dinyinyirin ketika si penyinyir juga ada di dalam keramaian riuh itu. Ambil bagian, bahkan porsi lebih terhormat karena tak harus kotor-kotor bolak balik ke event-event, tinggal selenggarakan event saja semut-semut blogger “hina” ini akan ramai ngumpul. Ya, kamu lebih mulia, kalau ukurannya itu.
Walau demikian, “pelestarian” blogger “biasa” bakal berjalan. Saya bukan satu dua kali saya meng-encourage teman-teman lain untuk menulis yang lebih personal, dan juga coba melakukannya. Ini era baru dalam dunia bisnis. Mau tidak mau, kita masuk di dalamnya dan coba cari apa yang terbaik tanpa menghilangkan jati diri. Dinamika blogging anggap saja, yang hikmahnya, semakin dilirik suaranya oleh kalangan bisnis maupun pemerintahan untuk melihat “suara rakyat”, dalam level tertentu.
Jika blog Anda bertajuk Review Center, ya lebih banyak berbicara produk barang dan jasa. Walau demikian, bisa juga kita review kehidupan kita. Sekali dua kali. Ketika rindu untuk berbagi hal positif lainnya. Berbagi pengalaman event juga positif, jadi mixed aja. Ga berdosa kok.
Bisa pula dibagi, ada blog khusus diary, sehari-hari, ada yang khusus “pesanan”. Atau, tulis “dalam rangka lomba anu”, “dalam rangka berbayar ini” di tulisan yang komersial di blog pribadi. Silakan saja, asal jangan copas dari blog lain, itu masalah etika lain.
Bisa pula, menjaga keseimbangan, tapi tetap menaikkan rank dengan kanal-kanal lain dari sosial media lain. Semua bisa jadi jalan menuju blog yang positif. Mengapa saya slalu bilang positif, karena kita, Indonesia, butuh konten positif yang banyak. Kalau isinya 100% curhat smua, mana bisa kita dapatkan pengetahuan yang berguna untuk adik kita, anak kita, saudara kita, dalam mencari pengetahuan di Internet. Blogging, demikian harusnya. Review produk dna lomba pun, harus kita takar kadar “menyanjung” brand-nya loh. Ngerti kan?
So, bebas-bebas aja. Walau, ngga harus ikut komunitas, Anda bisa juga punya genre Diary seperti dulu. Asalkan tetap diisi blognya. Kadang, bagi saya, gathering, kumpul, kopdar, hadiri event, ikutan lomba adalah cara terbaik untuk tetap mengisi blog. Cipratan lain, adalah rejeki tambahan.
Blogger berbasis spasial geografis memang naik turun. Masih ada Blogger Bogor, Depok, Palembang, Makassar, Bandung dan seterusnya. Tapi tidak tabu untuk masuk ke jejaring blogger berbasis interest. Dan sebenarnya, peluang untuk beraktivitas lebih banyak disana.
IMHO, Blogger berbasis wilayah sudah menua, aging. Mereka yang dulu sekolah dan kuliah, sudah bekerja, pindah ke kota lain, dan sulit berkumpul. Aktivitas bisa dihitung jari. Karena yang ngumpul ya yang dulu juga, orang-orangnya. Interest, berbeda. Bisa mengumpulkan. Brand, bisa mensponsori kegiatan. Jika ada “anak baru” yang gabung blogger, minta ini itu, bikin kegiatan ini itu, ya ask yourself aja ada waktu nggak.
Kenyataannya, regenerasi di Blogger berbasis wilayah (spasial/geografis/regional) berputar di 4L juga. Sama seperti event-event yang ada. 4L juga. Jadi ngga fenomena kok. Ini karena waktu luang ada disana. Karena menginginkan materi untuk dibuat blog. Dengan bonus sampingan, berbagai “pendapatan” yang kecil, dikit, tapi halal dan bersilaturahmi dengan asyik.
Stop saja menilai orang lain, dan perbaiki diri sendiri. Jika dilakukan dari puncak gunung dan melihat ke lembah, akan lebih baik. Namun jika dilakukan dalam keadaan berada di dalamnya, dan sebenarnya menikmati suasananya sambil mengutuk terus menerus, itu hipokrit. Stop it. Tapi silakan aja kalau ngeyel, biar hidup ini penuh standard ganda. Memetakan ke-remeh-temeh-an orang lain, tapi mendulang rejeki dari mereka. Berharap, dalam duka.
Jika ingin buat resolusi, saya sih, ingin memaksimalkan potensi sebagai seorang (yang ngakunya) blogger. Yaitu update blog. Dan apa yang bisa didapat dengan menjadi blogger, walau part time, kita optimalkan. Ilmu untuk dibagi, cerita untuk dibagi, lomba untuk diikuti, pertemuan dan jejaring untuk diikuti.
Haha hihi berkomunitas, maupun terpekur diam menulis di tengah kegelapan malam hingga sepertiga malam. Menikmati diri sendiri. Tidak sibuk menilai. Berkarya saja. Galau, mungkin kesannya. Tapi ngga papa. Biar galau asal eksis. Hehe. Lagian, masalah galau, alay dan bingung, emang sudah jalannya blogger itu mah. Di persimpangan. Dosen aja masih bisa galau 😀 apalagi kita yang masih mahasiswa. So, biarin aja.
Bagaimana dengan Anda?
—–
@unggulcenter
Didapuk jadi Ketua Blogger Bogor 2015-2017, Mungkin the last mohicans. Ketua Relawan TIK Jakarta Raya 2012-2016. Ngeblog sedjak 2007. Belum begitu lama.
PS : Ini nulis sambil senyum-senyum ya. Ngga usah dianggap serius, dan ngga tendensi ke siapapun, hanya membaca peredaran timeline di sosmed dan kemudian menulisnya disini sebagai opini pribadi.
Kalau saya blogging niatnya ingin promosi soal dunia desa. Saya sakit rasanya kalau setiap hari desa selalu di deskreditkan melalui berbagai media, mulai dari sinetron sampai berita cuaca hujan yang disebut cuaca buruk, padahal kami orang desa sangat mengharapkan hujan turun. Tapi lama-lama jadi tergoda ikut lomba-lomba juga 🙂
Tes mobile theme
Setuju, setuju, saya juga nyante aja… kalopun punya resolusi 2016 ya yang simple aja: tambah rajin ngeblog. Jangan sampai bolong-bolong dan hiatus terlalu lama. Perkara blogger yang lain mau ngapain, ya terserah, kita menikmati aja, dari hasil penikmatan bisa jadi buah pikir yang dituangkan dalam tulisan, seperti posting ini, yekan?
Kalo saya mah mgeblog cuman sekedar sharing ilmu ja…walaupun sy sadar bhw konten yg sy share ngk sbrp bermutu, tp setidaknya langkah awal ntuk berbagi yg lbh bermutu lg…yaahh ujung2nya dpt duittt….
Kalo ei sih kalo ada waktu senggang. Ikut beberapa komunitas untuk memperkaya wawasan, melihat gaya tulisan orang dan tentunya nambah teman.
Ikut event kalo waktunya ada. Ikut lomba belum pernah, ngga pede dan masih ngerasa susah cari waktunya.
Jadi sepertinya saya termasuk blogger apalah-apalah kayaknya, but I’m happy with whatever the title sticked on me hehehe.
Btw, tulisannya koq kecil2 ya di browser ei?
maksudnya ngeblog-nya masih kalo ada waktu senggang 😉
Oke mba ei trims.. ini sdh ganti mobile hehe..
Menarik mas.. Aku mau bikin tulisan untuk menanggapi ah ?
wah keren! silakan mas.. bebas beropini dan berekspresi!
Wah bacanya ngos ngosan nih..(dari hape,,,tampilannya web). Bener sih mas .. Aku blogger cupu, baru masuk ke crowd ed an ini
wah trims masukannya, ini lagi diutak atik
Tertohok saya mas. Nyata banget soalnya hahhaha.
Yang penting update ya mas… masih banyak belajar… 🙂
Ini bener
Ini bener banget fenomena nya, semoga 2016 makin jelas ngak pada ala2 hahaha dan semoga gw ngak termasuk di dalam nya hahahah
lu termasuk cum wkwkwkwk.. ala-ala masukin di nomer 4 ah.
Sebagai blogger curhat aku merasa terpanggil.. Aku bersyukur masih ada di lingkungan blogger yg “sehat” dan ngga terbawa arus
ya, keep blogging aja. Kadang ketika ada undangan, sebagai rasa terimakasih, kita menuliskan reportase eventnya. Sesederhana itu saja ^^ Sisanya, mari curhat.. kalau bisa maksimal 50-50 hehe. Saya sih rada kbalik sekarang, 80-20. Tapi gapapa, bisa kok bikin blog lagi khusus curhat 😀
ibarat menepuk air didulang terpercik muka sendiri , seharusnya blogger hipokrit tunjuk dada dan katakan sudahkah saya mentertawai diri sendiri?
Uraian menarik. Menulis tanpa peduli kaidah bahasa dan mengabaikan KBBI sah-sah saja. Blog-blog sendiri, terserah bagaimana si pemilik mengisinya. Namun saya pribadi sangat menikmati ketika membaca tulisan yg dibuat dengan memperhatikan kaidah bahasa dan sesuai EYD. Barangkali sepele ketika penggunaan kata ‘di’ sebagai awalan dan ‘di’ sebagai kata depan tidak pada tempatnya. Namun bagi saya, itu hal serius. Kalau masalah hipokritnya seorang blogger, bisa jadi saya termasuk di dalamnya.
Satu lagi, tadi belum selesai sudah kepencet. 🙁
Blogmu tidak gadget friendly, Nggul. 😉
Salam persahablogan,
@adiwkf
oh gitu ya. padahal sudah install app nya. OK trims mas WKF atas knjungannya
haha.. maksudnya ngga perlu seribet dalam peng-indonesiaan dan seterusnya sih. Kalau bisa dibenerin ke bahasa indonesia yang baik (karena sudah tahu mana yang baik, ya perlu-lah dilakukan). Salah satunya memang dengan ajang lomba, memotivasi untuk tidak typo, berlogika dalam kalimat, mencerna pembacaan mana yang enak mana yang kepanjangan, juga berbahasa (menulis) yang baik dan benar.
Aku tambahin Om tentang KBBI. THanks infonya.
Jadikan blog sebagai media untuk bersilaturahmi, berbagi, berkarya & menginspirasi.
Semoga kita (yang ngakunya) blogger, bisa menjaga identitas kita sebagai blogger. Good Job !!! I am Blogger Bojonegoro, I am Blogger Indonesian !!! #SemangatNgeBlog Dari Bojonegoro untuk INDONESIA #iniBaruIndonesia
Nah lo… Nah lo….
#makanrengginang
wkwkwk.. maklum tulisan galau. Berhubung ada dosen galau, saya edit ah, nambahin kalimat, Dosen aja masih bisa galau, apalagi mahasiswa. Jadi enjoy aja! hehe..
Keren, Bro, tulisannya. Greget menohok… Demen dah, rasa Unggul Sagena-nya keluar. 😀