Catatan Pariwisata Dari Thailand dan Filipina Pasca Bom Sarinah Thamrin : “Wow!” “Normal Dalam Tiga Jam!” “Kami Belum Ada itu!”

https://www.unggulcenter.org/catatan-pariwisata-dari-thailand-dan-filipina-pasca-bom-sarinah-thamrin-wow-normal-dalam-tiga-jam-kami-belum-ada-itu/

Ketika Bom meledak di Sarinah, tepatnya di Pos Polisi Sarinah, saya terhenyak. Viralitas media sosial membawa saya dan teman-teman yang sedang berada pada serangkaian penelitian di Thailand dan Filipina mengenai pariwisata dan industri sebagai kontributor perekonomian, untuk dibandingkan dengan Indonesia, berada pada momen yang sama.

Satu hal yang saya, yang saat kejadian berada di Davao dan Cebu, Filipina dan rekan tim lain di Bangkok, Thailand adalah efek dari ledakan bom tersebut. Davao yang berada di pulau paling selatan, Mindanao memang berdekatan dengan komunitas muslim yang juga memiliki provinsi otonomi, dan tak pelak, dekat dengan kemungkinan Abu Sayyaf, gerakan separatis ala OPM di Papua yang masih mengancam.

Di Bangkok, reaksi pun terjadi. Dari komunikasi dengan Whatsapp (WA), Bangkok langsung darurat, mengamankan Kedutaan besar (KBRI). Di Davao, Konsulat Jenderal (KJRI) pun alami hal yang sama. Menurut Mrs Marianne, guide lokal kami dari Department of Trade & Industry (DTI) pada hari itu menanyakan perihal kejadian bom, memberikan informasi bahwa Davao juga siaga. Juga Edward Morales, sopir kami di Davao, esok harinya.

Berikut ini catatan di dua hari pasca Bom dari Davao, Filipina dimana saya sedang berada dalam rangkaian penelitian Pariwisata, bersama dua tim lain di Cebu Filipina dan Bangkok Thailand.

Normalisasi Cepat, Eksodus Tak Ada. Tanggapnya Otoritas Indonesia.

Di Indonesia, sangat dinamis. Kebalikan dari apa yang dikhawatirkan. Selain ada semacam gerakan ‘kami tidak takut’ dan sejenisya, maka gerakan yang paling berpengaruh, setidaknya bagi kami, adalah bagaimana pariwisata. Bagaimana kondisi pelancong yang berada di sekitar Jakarta dan kota besar lainnya. Adakah gelombang penurunan okupansi hotel dan pembatalan ini itu.

Sebagai blogger yang pernah mendapatkan informasi tangan pertama sewaktu acara dengan  Crisis Center Pariwisata, Kementerian Pariwisata beberapa waktu lalu, saya berharap sekali Indonesia bisa tanggap. Disela-sela membaca berita bom dan pasca ledakan yang simpang siur itu, saya dan teman-teman langsung khawatir mengenai kondisi pariwisata, apakah Indonesia akan mengalami eksodus turis dan travel warning bermunculan? Sampai kapan?

Yang terjadi, melegakan. Indonesia mampu melawan upaya teroris mengacaukan dengan cepat. Bahkan lebih cepat dari Thailand yang 11 Jam, dan recovery 2 bulan, Indonesia mampu atasi dan mengembalikan keadaan normal hanya hitungan 3 jam dan recovery dalam satu hari saja.

Selain teroris dilumpuhkan dengan cepat, atas kerjasama berbagai pihak berwenang, semua normal dalam hitungan jam. Pusat bantuan crisis center pariwisata pun langsung dibuka. Kalau kata Menteri Pariwisata, Arief Yahya, di Hotel Bidakara, Pancoran (14/1/16) “Crisis Center langsung ON”.

Esoknya, tak ada travel warning! Saya salut dengan kinerja ini.

Konsen saya di Pariwisata, juga teratasi. Karena menurut info media, blusukan dari Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo pada sore hari (14/1/15) dan secara paralel, Menteri Pariwisata Arif Yahya bersama tim Crisis Center Pariwisata hingga esok malam-nya (15/1/15) kondisi kondusif cepat terjadi dan tak ada dampak terhadap pariwisata terutama hunian hotel di sekitar lokasi kejadian, 100 persen pulih dalam satu hari!

Presiden meninjau lokasi pengeboman (foto: antara)

Tercatat hotel-hotel di seputar Jalan Sudirman – Thamrin sejumlah 14 hotel hingga pukul 22.00 WIB tidak ada tamu yang mempercepat (kepulangan) karena semua confident suasana sudah pulih. Pihak Kementerian Pariwisata juga telah mengecek maskapai dan agen perjalanan wisata yang ada di tanah air terkait dampak bom Sarinah, dan semua aman, tak ada gelombang eksodus maupun cancellation dari yang berencana menginap.

Menteri Pariwisata, Arif Yahya memastikan Indonesia tetap “Wonderful” Pasca Bom (foto: vivanews)

Kelembagaan dan Aplikasi : Wow! Sepertinya Kami Belum Punya!

Pada H+1 kejadian, kami masih blusukan di Davao dan Cebu untuk melihat geliat pariwisata disana, sebagai bandingan dengan Indonesia. Dalam beberapa hal, mereka memang maju, misalnya untuk ekspor value added product & services dan kemampuan bahasa inggris dibanding Indonesia. Catet ya.

Juga dengan demikian, mereka segera update dengan berita-berita global maupun regional. Karena salah satunya, warga banyak yang bisa berbahasa inggris sehingga otomatis serapan informasi global lebih banyak.

Ketika Edward Morales, sopir travel yang mengantar kami ke SM LANANG, salah satu mall besar di Davao mengajak mengobrol, beliau bertanya tentang ‘bom jakarta’.

“Kemarin bom ya di Jakarta. Disini mulai siaga. Bagaimana itu terjadi, apakah banyak yang ketakutan dan turis juga pergi?”

Kami jawab dengan senyuman,

“Tidak kok, ngga ada yang tiba-tiba ramai eksodus or ketakutan. Sepertinya aparat keamanan dan otoritas terkait bekerja sangat efektif pasca bom siang itu. Seriously, coba saja cari beritanya.”

“Itu bagaimana, apakah sampai hari ini suasana masih mencekam?” lanjut Edward.

Dengan optimis kami menjawab.

“Wah dari sore kemarin sudah normal. Cepat sekali. Saya sendiri juga kaget.”

“Oya, kami juga punya Crisis Center Pariwisata, yang segera bekerjasama dengan baik untuk pelayanan pelancong dan memastikan kondisi pariwisata.”

“Wow”, kata Edward, “tiga jam? Semua kembali normal? Hebat.”

Kemudian dia mengoceh tentang pemerintahnya dengan jaringan ekstrimis yang mengacau di Mindanao.

Lalu beliau diam sejenak. Dan kemudian berkata, “menarik sekali. Tourism Crisis Center? Sepertinya kami belum punya, tuh!”

“Yup, ini inovasi layanan baru. Termasuk nanti pelancong akan aman dan nyaman dengan aplikasi Mobile loh yang dikembangkan.” Makin sumringah kita.

Edward kembali kagum. “Really! Hebat ya.”

“Ah”, kami membalas,

“Kayaknya kan kamu punya Philippine Tourism Authority. Ngga hanya Department of Tourism. Tapi mungkin memang tak setajam task force kami. You should learn from it”.

Tentu saja kami tahu. Karena kami studi tentang pariwisata. Secara kelembagaan, mereka sebenarnya punya Philippine Tourism Authority tapi memang fungsinya belum optimal, Masih banyak isu lapangan yang perlu diperbaiki. Termasuk harmonisasi kebijakan dengan Kementerian/Departemen terkait, karena lembaga “authority” ini biasanya dibawah presiden langsung.

Hanya saja, untuk urusan tanggap, mungkin Thailand dan Filipina ketinggalan dari Indonesia. Pusat informasi dalam bentuk crisis center secara paralel menjadi ujung tombak pariwisata sekian jam hingga beberapa hari pasca bom. Lebih cepat dan efektif dan efisien dibanding dua negara tetangga ini. Beneran.

Sebenarnya, yang Edward tidak tahu, dan kami tahu, adalah aplikasi pariwisata yang banyak dikembangkan oleh pemerintah daerah di Filipina. Bohol sudah punya App yang dikembangkan perusahaan swasta Innohub dengan Bohol Provincial Government. Lima aplikasi pariwisata yang dahsyat sudah pula dikembangkan.  Juga All-in-one Apps punya Tourism Authority of Thailand yang pariwisatanya “lebih maju” dari Indonesia. Aha, catatan lagi untuk (pariwisata) Indonesia.

Sembari mengantar mengunjungi Mount Apo dan Pulau Samal, Edward menyetir dan ngobrol dengan kami
Sembari mengantar mengunjungi Mount Apo dan Pulau Samal, Edward menyetir dan ngobrol dengan kami

“Ah, PTA betul. Mereka perlu belajar nih dari Indonesia”.

Edward menjentikkan jarinya sambil sedikit memandang kami melalui kaca spion.

Kemudian beliau cerita lagi bermacam-macam mengenai terorisme Abu Sayyaf di Filipina, jaringan Jamaah Islamiyah (JI) dan lain-lain yang kabarnya bagian dari terorisme internasional dan ISIS termasuk beberapa militan Indonesia yang latihan disana.

Edward mungkin sopir, tapi dengan kemampuannya mengajak penumpang ngobrol dengan isu tertentu dan bisa ngobrol bahasa inggris, menjadi catatan kaki kami lagi sebagai salah satu ceklis memajukan pariwisata Indonesia. Selain aplikasi mobile untuk pariwisata dan otoritas pariwisata.

Edward Morales, sopir yang dilengkapi Kartu Nama, perlu ditiru Indonesia nih untuk urusan rental mobil
Edward Morales, sopir yang dilengkapi Kartu Nama, perlu ditiru Indonesia nih untuk urusan rental mobil

Layar smartphone yang sudah kami ganti dengan SIM Card Lokal, SMART atau GLOBAL tiba-tiba menyala. Pesan masuk dari Whatsapp, update dari tim Bangkok.

Ternyata benar, Bangkok juga “parno”. Sama seperti Filipina. Mungkin rada lebay, karena Indonesia cepat sekali tanggap, dan semua kembali normal hitungan jam. Di saat ini, saya bangga dengan kemampuan tim di lapangan. Tim kepolisian, tim pariwisata.

Gambar situasi di Bangkok dari WA tim di thailand. Siaga pasca bom Sarinah
Gambar situasi di Bangkok dari WA tim di thailand. Siaga pasca bom Sarinah

Kalau dulu, Thailand bahkan Paris bisa berlarut-larut dalam pasca Bom, maka di Jakarta, semua normal dengan cepat. Masyarakat beraktivitas dengan biasa. Salut, dalam hati kami, mengamati dari jauh. Bahkan, media mencatat, isu terorisme ini tak dapat mengguncang perekonomian dan bisnis. Jauh dari harapan mereka!

Alhamdulillah, "Tujuan" teroris ciptakan kekisruhan tak tercapai karena tanggapnya kita semua
Alhamdulillah, “Tujuan” teroris ciptakan kekisruhan tak tercapai karena tanggapnya kita semua

Catatan Bersaing dalam Inovasi Pariwisata, dalam Damai

Hmm, sepertinya, Aplikasi Thailand dan Filipina belum sampai ke model “crisis center” seperti di Indonesia. Hanya aplikasi destinasi wisata, transportasi dan how to lainnya yang berlaku di kondisi “normal”. Jadi wajar Edward berkata “Wow”. Sebaliknya, Ini adalah catatan untuk Pariwisata Thailand dan Filipina, dari Indonesia.

Cepat atau lambat, terorisme harus diberangus di tanah air. Karena Indonesia adalah negara yang harus senantiasa aman damai guna memajukan perekonomian dan pariwisata, sebagai negeri yang strategis dan mudah dicapai dari semua arah.

Namun, keberadaan Crisis Center Pariwisata, sekali lagi terbukti, dan kepemimpinan baik menteri pariwisata, kapolri, hingga Presiden RI menjadi salah satu yang membuat kami, walau sedang tak di Tanah Air masih optimis dan bangga menjadi warga negara Indonesia.

Foto ini di Pusat Kota Manila, malam sebelum ke Davao. Tadinya saya rasa geliat kehidupan di malam hari seperti ini akan hilang di Jakarta pasca bom. Namun kemudian saya yakin, malam setelah bom, Jakarta masih ramai!
Foto ini di Pusat Kota Manila, malam sebelum ke Davao. Tadinya saya rasa geliat kehidupan di malam hari seperti ini akan hilang di Jakarta pasca bom. Namun kemudian saya yakin, malam setelah bom, Jakarta masih ramai!

Kita perlu saling belajar dengan negara tetangga, untuk perekonomian, untuk kepariwisataan, sebagai budaya yang positif untuk bersaing mendapatkan target pelancong. Untuk itu, 12 Juta target pelancong mancanegara di Indonesia tahun 2016 ini, menurut saya apabila jalan seperti ini dilakukan dengan (perencanaan dan eksekusi) baik, bertanggung jawab dan antisipatif berbagai isu yang terjadi maka akan terwujud!

Salam pariwisata! Wonderful Indonesia!

obrolan pariwisata di tengah tantangan di bulan november lalu ternyata bukan omong kosong. Terbukti, kita bisa tetap "Keep Smile in Crisis"!
obrolan pariwisata di tengah tantangan di bulan november lalu ternyata bukan omong kosong. Terbukti, kita bisa tetap “Keep Smile in Crisis”!

Ditulis 19 Januari 2015. Saya dan teman-teman mahasiswa master di sebuah sekolah kebijakan publik kembali ke Tanah Air 17 Januari 2015. Berbekal Optimisme dan Data dari Industri Pariwisata di Filipina dan Thailand. Serta kebanggaan akan kinerja cepat pemerintah (otoritas terkait) dalam bekerja keras atasi dampak bom Sarinah Thamrin terutama dalam sisi kepariwisataan.

About the Author: unggulcenter

Pengelola UC - Review Pengalaman Produk dan Perjalanan

You might like

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.