Handphone dan Standard Moral

https://www.unggulcenter.org/handphone-dan-standard-moral/

Sepertinya saya harus post kejadian ini. Sebagai pengingat dan inspirasi. Hari ini, Handphone saya ketinggalan di Sport Center. Sehabis bermain tenis meja pagi tadi. Biasanya, setelah main pingpong, saya dan partner, mahasiswa teman kuliah, kembali ke loker dan berganti pakaian. Loker ini adanya dilantai bawah, langsung dibatasi dengan pancuran buat mandi rame-rame #uhuy jangan bayangin yang nggak-nggak ya. Alhamdulillah walau sering melihat barang orang, barang saya lum pernah ada yang lihat disana, karena saya selalu pulang ke dorm untuk mandi hihi..

Nah, kali ini apes. HP yang saya taroh di dalam loker ketika berganti pakaian, ketinggalan. Jangan tanya kenapa saya bawa-bawa hp sambil main pingpong ya, karena saya langsung jawab. Karena di Estonia ini negeri Free WIFI, maka jangan lupakan hp Anda yang bisa dapat gratisan internet dimana-mana agar bisa update status dan buka email. Lumayan kan, 5 menit break buka hp, setiap 15 menit capek hehe.. trus main pingpong lagi sebelum dipelototin coach yang mondar-mandir ke area lain juga sprti bulutangkis, basket, voli dan gym.

Selang satu jam baru saya sadar, hp ketinggalan. Dan tentunya karena kunci loker sudah saya taroh ditempatnya dan koin sebagai mekanisme untuk mencopot kunci yang tergantung dan mengunci loker, sudah saya balikin ke resepsionis, dan mengambil kartu olahraga kampus. Artinya loker posisi terbuka dengan kunci menggantung, siap digunakan oleh mahasiswa lain (atau umum) yang baru datang utk olahraga.

Ingetnya pas belanja, merogoh dompet dan gak ketemu HP di saku jaket, satu jam kemudian. Ketar ketir dah. Teman saya mengingatkan, “eh tenang aja, ini bukan negara kita yg lima menit langsung raib. Bahkan kagak ngaku pula walaupun kita yakin dia yg ngambil”, begitu kata teman dari Kamboja. Saya emang agak-agak tenang sih. Tapi, gimana kalau orang lain itu ambil ya, yang penting jangan kelamaan didiemin, harus balik lagi ke lokasi. Walaupun, saya sudah mendapati banyak pengalamnan kalau masyarakat eropa modern memang tak butuh mengambil barang punya orang. “Buat apa?” “Apa gunanya?”Itu pertanyaan retoris yang sering dikatakan kepada saya, kalau saya bilang mungkin nggak barang kita sengaja diambil, atau orang mencuri atau mencopet. Kalau kita bilang, ya.. mungkin dijual? Hmm.. memang sih ada toko-toko yang khusus menjual barang second hand, yang bisa jadi sebenarnya kita dapat menjual barang yang kita ambil/curi. Tapi nilainya sangat kecil, ngga seberapa. Malunya dan kebayang hukumannya (yang bikin malu) pasti.

Juga pertanyaa itu, ya untuk apa? ngapain sih? Malu-maluin dan emang kayaknya ya nggak KEPIKIR deh mereka-mereka ini. Saya bayangkan kehidupan yang enak kalau seperti ini. Tak iri-irian. Duit yang ada ya buat beli yang ada. itu yang mereka dapatkan dan itu yang mereka gunakan. Bahasa lokal kita sih “uang dari rejeki yang halal”. Nah, moral guidance nya memang seperti itu. Malu, dan emang punya duit segitu ya belinya ya segitu. Simpel. Dan crime rate memang rendah disini. Paling-paling kejadian adalah orang mabuk tengah malam, yang emang tingkahnya jadi aneh. Selama ampir satu tahun, Alhamdulillah belum mendengar kejahatan terjadi. Mungkin saya salah, tapi biarlah saya salah.

Oh ini karena mereka semua kaya, kan negara maju. Nope. Tidak juga. Bahkan banyak orang-orang yang miskin, dan dari salah satu publikasi tentang Poverty di Estonia, PRAXIS Research Center menulis penghasilan mereka yg tergolong miskin adalah 45 Euro perbulan rata-rata. Atau sekitar 600rb perbulan. Relatif sama kan dengan di Indonesia? Jadi ini standard moral dan perilaku. Itu aja sih kesimpulan saya. Karena penegakan hukum? Mungkin juga. Tapi bukan karena “hukumannya” tapi MALU nya. Jadi saya tetap mau bilang ini terkait etika, moral dan standard yang ada. Teman saya pernah, dimintai rokok oleh orang tua homeless, dan beliau ngasih satu bungkus. Eh, si peminta menolak, dia butuh 1 batang aja! Setelah diberitahu isi satu bungkus itu cuma 2 batang, dia mau. Hehehe..  tapi emang disini jangan kaget kalau banyak orang-orang tua yang penampilan lusuh, korban sulitnya lapangan pekerjaan era pendudukan Soviet meminta duit receh dan atau rokok ke orang Asia, karena orang asing Asia dikenal sangat ramah dan suka memberi! Jadi ya siapkan aja receh 20 cent, 10 cent, or 50 cent buat mereka kalau emang punya duit lebih, siapa tau kebetulan bertemu.

Oke, kembali ke cerita HP, saat sadar ketinggalan, lalu segera balik ke kompleks Sport Center, bergegas ke meja resepsionis. Baru aja nanya apakah ada handphone ketinggalan, eh petugas langsung merogoh laci meja resepsionis yg panjang itu, dan menunjukkan hp saya. “Apakah ini?” katanya. Oh yaa betul! Dia bilang “Palun”. Artinya kurang lebih “silakan”. Langsung tak jawab singkat sambil gagap, “Aitah”. Artinya terimakasih.

As simple as that. Ya emang ni hp masih berjodoh, dan saya yakin setiap tahun, semakin banyak lagi masyarakat yang menghargai kejujuran dan etika. Terlebih di Indonesia. Amin. Karena ini nggak cuma urusan dan “perintah” agama. Dengan penduduk 70%-80% atheis dan 20%-30% beragama (alias percaya tuhan, dan biasanya umat kristiani –saya kurang tau katolik or protestan, dan dari jumlah ini, juga mostly not practicing, cuma “root” budayanya kristen, misalnya di kelas, waktu matkul technology and society yang menyinggung mengenai pandangan Vatikan terhadap perkembangan IT, tak ada satupun di kelas yang tunjuk tangan ketika ditanya mengenai apakah ada yang katolik or berlatar belakang keluarga katolik) ini, mereka membuktikan kalau ini adalah standard etik penduduk negara maju.

Bagaimana dengan kita? Dengan 100% penduduk memeluk agama –yang mengajarkan kebaikan dan stairway to heaven.. teorinya sih dan harusnya sih.. lebih baik toh? yuk, kita pastikan! dan mulai dari diri dan lingkungan 🙂

About the Author: unggulcenter

Pengelola UC - Review Pengalaman Produk dan Perjalanan

You might like

10 Comments

  1. Indonesia jg masih sebenernya.. :)) Kemaren pas awal ngajar (masih baruuuu sekali, jadi masih banyak belum kenal pegawai2 yang lain) di STISIPOL Candradimuka, saya lupa klo tas saya ketinggalan di kelas, padahal ada uang 3 jutaan di dalamnya. Ingetnya 1 jam kemudian karena abis ngajar lgs ke ruang dosen ngobrol2 ama temen. Eh, pas inget, lgs lari ke kelas, tasnya gak ada. Cari dicari, ternyata diamankan oleh bagian perlengkapan, dan alhamdulillah uangnya pun masih utuh. Legaaa… :))

  2. Indonesia ga jelek2 amat kok.
    Saya pernah ketinggalan hape di toilet Mal. Eh sama bapak2 yg menemukan dipegang & saya ditunggu mengambilnya.
    Padahal saya baru sadar sejam kemudian lho

    1. Pertanyaannya, ketika ketinggalan barang, apakah kita WAS-WAS ? Apa kita nyangka kalau barang kita bakal ilang? Nah kalau masih demikian, berarti kita MUJUR kalau ada yg ngembaliin dan nunggu kita datang buat ngambil lagi. Disitu bedanya.

      Kalau suatu saat, kita merasa kalau barang kita pasti balik, dan itu kita tidak melihat lagi bahwa kita BERUNTUNG banget kalau barang itu balik, berarti itu sudah STANDARD. So, di kita, memang “kasuistik” 🙂

      Yang saya soroti adalah Standard, DEFAULT-nya. Di negara maju default-nya barang ngga diambil, dan kalau ada juga yang ngambil, itu kata bang Rhoma, terlaluuu… kalau di kita defaultnya -sayangnya- masih diambil 🙂 dan kalau ternyata nggak, we feel very lucky 🙂 Beda kan 🙂
      yuk kita berubah

      Nah ini yang perlu kita mulai dari diri kita sendiri.

  3. saya juga pernah ketinggalan paspor dan dompet di ATM Citibank di Tokyo, baru tersadar 2 jam kemudian ketika udah balik ke asrama dan harus menempuh perjalanan 2 jam lagi balik ke ATM itu. Setelah 4 jam berlalu, saya hampir nangis ketika menemukan dompet dan paspor masih nangkring dengan manisnya di atas mesin ATM 🙂

  4. Saya jadi ingat pengalaman juga dulu, pernah ketinggalan hape di stasiun di Ukraine. Waktu itu juga nggak ilang, malahan masih ada di meja tempat saya meninggalkannya 😀

    Terus, yang namanya standar etik itu memang bisa dibentuk oleh banyak faktor, bukan hanya karena agama. Jadi, sebuah negara yang penduduknya mayoritas beragama belum tentu beretika, dan sebuah negara yang mayoritas ateis belum tentu tidak beretika, dan sebaliknya. Namun, orang yang beragama, yang benar-benar menjalankan dan mengerti agama yang dipeluknya, pasti memiliki etika yang baik.

    Nah, kebetulan sekali, negara kita ini cukup unik: yang ngaku memeluk agama banyak, tapi yang benar-benar menjalankannya tidak banyak. Jadilah seolah agama tidak berpengaruh di negara kita. Padahal tidak juga, karena masih ada orang-orang beragama dan bertaqwa (orang-orang yang menjalankan dan mengamalkan agama mereka) di sini. Dan saya yakin, jumlah mereka kian bertambah.

    Dengan faktor agama, dan faktor hukum, plus didikan etika dari kecil, saya yakin negara ini suatu hari nanti bisa maju dan memiliki standar etik yang menyamai, atau bahkan lebih tinggi, daripada negara-negara lain 🙂 Yang penting adalah bagaimana kita bisa mengusahakannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.