Kemudahan. Itulah kata yang tepat jika mengasosiasikan internet untuk aktivitas sehari-hari. Mulai dari istilah otomasi –bukan otomatisasi (automation) dalam hal aplikasi perkantoran (office automation) yang menggunakan software sehingga mengetik, melaporkan ke atasan dan memberikan informasi bisa seketika melalui email client dan aplikasi perkantoran yang populer.
Demikian juga jika Anda berminat dibidang jurnalistik. Baik secara “serius” dengan menjadi reporter, editor atau kontributor lepas yang saat ini mau tidak mau sangat mengandalkan Internet. Bayangkan, mengirim informasi berita dengan cepat, rekaman video maupun gambar ke meja redaksi tanpa terkendala ruang dan waktu. Tentu menjadi nilai tambah bagi media tempat bekerja dalam informasi tang Efektif dan Efisien. Diferensiasi inilah yang menjadi tulang punggung media Online seperti detik, okezone maupun vivanews.
Fenomena Jurnalis Warga
Nah, apabila ingin lebih leluasa dalam menggarap informasi yang bernilai berita, Anda bisa menjadi seorang jurnalis warga (citizen journalist) yang handal. Jurnalisme Warga atau citizen journalism menurut Steve Outing dalam tulisannya, “11 Layers of Citizen Journalism” adalah tindakan nonprofesional yang memainkan peran aktif dalam proses pengumpulan, pelaporan, penelitian dan penyebaran informasi.
Citizen Journalism atau disebut saja Jurnalisme Warga memiliki kata kunci yaitu “non profesional”. Ini sekaligus menjadi pembeda dengan istilah serupa seperti civic journalism (jurnalisme publik) atau community journalism (jurnalisme komunitas). Jurnalisme publik dan komunitas dikembangkan oleh wartawan profesional di AS ketika mendapati ketidakpuasan publik terhadap politik di negeri Paman Sam tersebut di era 1988-an. Keduanya tidak saya bahas lebih jauh ditulisan singkat ini. Anda bisa melihat perbedaannya, misalnya melalui wikipedia dengan mengetikkan kata kunci “Citizen Journalism”.
J.D. Lasica (2003) dalam “What is Participatory Journalism”, mengkategorikan jurnalisme warga menjadi beberapa tipe yaitu :
- Partisipasi warga/pemirsa dalam bentuk menulis blog pribadi, memasang foto-foto dan informasinya dari kamera digital atau handphone, dan menulis mengenai berita-berita biasa yang terjadi di lingkungan sekitar tempat tinggalnya saja.
- Website independen yang memuat informasi dan berita.
- Situs berita yang dibuat dan dikembangkan secara penuh, bersama-sama oleh sebuah komunitas terentu dan dengan tujuan pemberitaan di ranah berita tertentu.
- Situs media yang kolaboratif, mengumpulkan berbagai berita umum dan kontributornya berasal dari banyak ragam media.
- Media-media lain yang bisa dimanfaatkan sebagai media informasi berita, misalnya email dan milis (thin media).
- Situs penyiaran pribadi.
Di Indonesia, mayoritas partisipasi warga pada tipe pertama, kedua dan ketiga. Dan sebagai warga yang menjadi “jurnalis dadakan” tapi dengan niat yang tinggi, diantara enam jenis tipe yang bisa Anda pilih tersebut, Anda bebas untuk “tidak profesional” dan mulai menulis hal-hal yang “biasa” asal bernilai berita dan ingin Anda beritakan ke banyak orang. Masalah kaidah jurnalistik yang baik, tinggal belajar otodidak melalui berbagai media. That’s all.
Namun bukan tidak mungkin, berita-berita “biasa “ inilah yang justru menarik untuk dibaca dan didiskusikan. Mulai dari kucing tetangga yang melahirkan, hingga kecurigaan dengan tetangga sebelah yang mirip dengan buronan teroris. Semua bisa menjadi berita, oleh non profesional, oleh Anda. Ceritakan dimana? Tentu melalui sarana internet, yaitu bisa di blog Anda, bisa juga di situs komunitas jurnalisme warga yang mulai banyak. Misalnya Panyingkul yang bermarkas offline di Makassar, atau Wikimu di Surabaya yang merangkum masyarakat yang ingin berbagi berita. Juga ada jurnalismewarga dot com maupun situs berita seperti kabar indonesia dot com. Banyak sekali pilihan, dan jika jeli bisa berbuah tambahan pendapatan untuk penulis loh. Banyak lomba penulisan, reportase, lomba fotografi maupun fee dari penulisan yang bisa didapatkan.
Horisontalisasi dan Jurnalisme
Saat ini, citizen journalism menjadi salah satu buzzword terhangat dalam jagat jurnalisme. Model jurnalisme warga ini juga mampu memosisikan diri sebagai media alternatif selain media konvensional. Kenapa? Hal ini disebabkan oleh asumsi bahwa jika “warga biasa” yang melaporkan maka tingkat “kebenaran” berita lebih tinggi sebab berkembang opini di masyarakat sendiri, bahwa berita yang ada bisa saja –bahkan sering terjadi adanya manipulasi berita ataupun memelintir berita, men-dramatisasi berita dan memasukkan aspek bisnis sangat dalam kepada berita sehingga berita yang ditulis maupun disampaikan sudah sangat bernilai bisnis. Contohnya berita yang bertele-tele, berita yang memojokkan (tidak cover both side) dan seterusnya. Jurnalisme warga diyakini sebagai sebuah alternatif pemberitaan yang langsung oleh masyarakat tanpa niat “bisnis”.
Selain itu, di era horisontalisasi yang menurut pakar marketing internasional, Hermawan Kartajaya, masanya “new wave marketing”, tradisi kesejajaran antara pemasar dan konsumen menyebabkan berita-berita yang tidak formal, sederhana, point of view yang berbeda, dan experiental menjadi rujukan konsumen. Sisi word of mouth untuk memperbanyak konsumen lebih penting daripada CRM (Customer Relationship Management) dengan tujuan repeat buying saja. Ini tentu ditangkap oleh banyak marketer dari berbagai lini produk, termasuk jurnalisme. Televisi mengandalkan “video kiriman pemirsa”, internet dari berita-berita kilat yang dikirim banyak anggota sebuah situs berita online, dan media cetak mengandalkan kontributor-kontributor lepas di daerah. Sedemikian penting sudut pandang dan penyajian yang humble dan terkesan apa adanya tanpa tujuan atau kepentingan politis dibalik media. Itu yang menyebabkan dari sisi produsen (pemilik bisnis jurnalisme) menjadi hal yang penting untuk mengistimewakan para jurnalis warga sebagai bagian dari penguatan posisi media mereka.
Di dalam horisontalisasi, Media internet memainkan peranan penting. Dus, memainkan peranan penting juga dalam perkembangan dan pengembangan jurnalisme warga. Setiap warga masyarakat bebas untuk memilih menjadi penikmat informasi, misalnya sekedar mencari berita di situs-situs berita Online, menjadi kontributor ke berbagai macam situs berita hingga dalam rangka pembentukan opini dan menyampaikan informasi.
Horisontalisasi menjanjikan adanya kesejajaran antara pemasar dan konsumen dalam rangka terjadi penjualan (sales). Jika dulu pembeli adalah raja, ternyata konsep itu juga sudah usang, sebab dalam pernyataan itu ada yang “dibawah” dan ada yang “diatas”. Oleh sebab teknologi informasi dan komunikasi (TIK) berkembang pesat, maka informasi-informasi dan “second opinion” sejatinya sudah dicari oleh calon konsumen (dalam dunia jurnalisme berarti pembaca) sehingga pelayanan berlebihan dari pemasar (dalam hal ini produsen industri media)pun, dianggap biasa karena “ada maunya”. Untuk itulah sekali lagi, partisipasi masyarakat penting dalam hal jurnalisme. Ini menjanjikan dan menjadikan betapa informasi lebih banyak diperlukan sebelum melakukan “decision making” dalam hal pembelian produk. Lalu, terkait dengan kebenaran informasi, walau belum tentu itu yang benar, namun semakin banyak informasi yang didapat dari individu-individu berbeda yang menulis berdasarkan eksperiental, semakin memantapkan pilihan dalam menyerap informasi. Ini yang diinginkan semua pihak, pembaca, masyarakat dan ini pula yang ideal.
Mudahnya Jurnalis Warga
Blog, adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah jurnalisme warga ini. Diawali dengan istilah Weblog (Web + Log) yang merupakan catatan harian di internet oleh para peselancar web (web surfer), awal tahun 2000-an di masa internet booming, bermunculan lah situs-situs blog seperti blogger, wordpress, multiply, blogdrive, hingga ke lokal seperti blogdetik, dag dig dug dan bedeng dot com. Ya, sebagai catatan, di blogosphere (jagat blog dunia), menurut Technorati (search engine yang mengkhususkan diri pada blog) sudah ada 133 juta blog! Dan uniknya, perkembangan blog ini selain harus selalu di-update beritanya, juga “mewajibkan” silatuhahmi antar blogger secara Online agar blog menjadi dinamis dan selalu interaktif. Ada RSS Feed, Feedburner, Feedweaver dan sejenisnya untuk stay connect dan stay informed pada suatu blog atau situs berkarakter blog.
Nah, apabila sudah mempunyai blog, Anda sudah bisa secara resmi menggunakannya sebagai media untuk memberikan informasi-informasi, dari sudut pandang pribadi mengenai berbagai hal. Ini salah satu “prasyarat” tidak resmi untuk menjadi jurnalis. Dan jurnalis itu basic-nya ya menulis, jadi, Start writing right after you have your own blog!
Ok, sampai disana, Anda sudah on the right step. Jika ingin lebih serius, menjadi Jurnalis warga dapat dilakukan siapa saja. Anda bisa kemudian menjadi reporter, editor, tenaga IT media Online, bahkan menjadi pemilik sebuah media Online pun bisa dilakukan.
Lalu apa sih yang perlu dipersiapkan jika ingin menjadi seorang jurnalis demikian? Tentu gadget seperti kamera digital, koneksi internet yang banyak terdapat di warnet dan kafe internet, laptop dengan konektivitas Wi Fi, atau Anda bisa menggantinya dengan cukup satu gadget saja, misalnya penulis merekomendasikan dua merk smartphone, yaitu Blackberry Javelin atau E90 Communicator yang memang mumpuni untuk aktivitas jurnalisme warga. Atau merk dan jenis lain yang memiliki kemampuan hampir serupa. Sebab Anda butuh smartphone yang sudah membenamkan internet (idealnya 3G atau HSDPA), Camera dengan resolusi yang baik, misalnya 2 Megapixel ke atas, dan aplikasi browser, aplikasi pushmail, aplikasi office juga pdf viewer, dan beragam fasilitas lain yang menunjang Anda untuk take the shot, recording suara ataupun gambar, serta menginformasikannya melalui internet yang sudah terkoneksi baik via Wi Fi di Hotspot area sambil minum kopi atau langsung via web browser. Apabila kapabilitas gadget Anda kurang maksimal, tambahan sebuah Laptop pun sepetinya menjadi alat lebih bagus untuk dijadikan media menulis offline di Aplikasi perkantoran, baru kemudian log in ke situs atau blog di internet dan mem-publish tulisan Anda dilengkapi dengan gambar-gambar. Dengan semakin murahnya laptop terutama di jajaran netbook yang rata-rata berprocessor Intel Atom, cukup bagi Anda merogoh kocek dikisaran 2-3 juta rupiah saja untuk mendapat konektivitas ala Jurnalisme warga yang Online dan bisa berkirim berita dengan cepat dan setiap saat. Bahkan pasar merespons fenomena laptop murah ini dengan meluncurkan produk-produk laptop berkualitas dengan harga yang murah. Jika dulu laptop seharga 3 – 5 juta hanya untuk laptop produksi lokal, sekarang Lenovo (yang mengakuisisi merk IBM untuk laptop), Compaq maupun Dell asal Amerika sudah demikian terjangkau layaknya laptop lokal. Bahkan, laptop merk Elevo sudah dijual seharga 2 juta saja! Dan itu dari jajaran notebook dengan performa untuk berbagai keperluan multitasking secara optimal, bukan netbook yang dari berbagai sisi menemui keterbatasan resources dan aplikasi.
Adanya internet berarti adanya kemudahan. Jika Anda berminat berkontribusi mengabarkan kepada semua orang sebuah informasi yang bernilai berita –tentu bukan narsis dan menceritakan diary personal atau hobi Anda, maka Anda sudah dengan mudah bisa melakukan itu. Anda bahkan bisa jadikan ini hobi baru Anda. Silakan gunakan perangkat “senjata” Anda dimanapun berada. Jepret foto menarik, tulis beritanya di email. Kirim melalui handphone atau laptop, atau via warnet. Jadikan Anda eksis di dunia maya dengan berita-berita yang mencerahkan, inspiratif, bagi pengetahuan, mengasah otak dan pemikiran, dapatkan teman-teman yang banyak, dan dapatkan uang dari aktivitas menyenangkan ini!