Karena Malu Bila Tak Berbuat Untuk Alam

https://www.unggulcenter.org/karena-malu-bila-tak-berbuat-untuk-alam/

Belakangan ini, saya benar-benar merasa malu. Malu karena belajar peduli lingkungan baru sekarang. Belajar dari orang-orang yang tak saya kenal di dunia nyata, tapi membaca kisahnya, adalah membaca kisah nusantara akibat dampak perubahan iklim (climate change).

Ya, perubahan iklim terjadi sangat terasa belakangan ini. Itulah yang dialami oleh banyak penulis cerita mengenai perubahan iklim yang kami, para juri dari blogor (blogger bogor) terima. Perubahan iklim, pemanasan global, dan go green, semuanya saya baca dalam naskah-naskah yang terkirim ataupun via blog-blog mereka. Sangat menggugah dan membuat merenung. Menyesali diri, walau tak lama, karena mesti berbuat sesuatu juga.

Memangnya, apa sih yang terjadi?

Nah, begini, sebagai salah satu bloger yang (lumayanlah) aktif di berbagai kegiatan bersama blogger bogor, tiba-tiba saya diminta untuk menjadi salah satu dari tim seleksi untuk sebuah Lomba mengenai perubahan iklim yang digagas oleh komunitas blogor bersama beberapa sponsor, utamanya dari instansi pemerintahan yang terkait masalah perubahan iklim.

Ya, tak berperan sentral, hanya menyeleksi bersama beberapa blogger lain, bukan jadi juri loh. Tugas kami sebenarnya membaca semua blog yang menjadi peserta dan merekomendasikan beberapa artikel blog yang kami anggap layak untuk bersaing menjadi kandidat juara. Hadiahnya lumayan, ada Android Pad, juga Netbook. Kategorinya juga terbagi antara Guru dan Siswa/Pelajar.

Ini lomba yang menarik, sekaligus menantang. Saya pribadi pengen tahu, seberapa banyak sih orang yang tahu mengenai tema ini? Dan dengan lomba ini, saya berharap, kalau pun sedikit, dengan adanya lomba ini maka semakin banyak yang mencari tahu. Belum lagi hadiah-hadiahnya yang menggiurkan seperti yang saya tulis diatas.

Dari sisi teknis, oke-lah, saya, dan teman-teman lain sebagian besar cukup mengerti. Apalagi diberikan panduan hehe.. misalnya, harus ada banner lomba pada blog tersebut, ada gambar-gambar pendukung, kalimat-kalimat yang mengalir dan mudah dipahami dan seterusnya.

Namun esensi dari itu semua, sebenarnya adalah kami, terutama saya, belajar dari para peserta. Belajar bahwa perubahan iklim, mulai dari hal yang paling teoritis hingga hal yang paling praktis! Dari yang tidak tahu apa itu iklim (boro-boro maksud perubahan iklim) hingga bagaimana “naik Busway” termasuk salah satu solusinya!

Saya belajar dari mereka semua. Dan saya malu.

Malu kepada guru-guru di nusantara, misalnya dari Madura, Jawa Timur, Sulawesi Selatan yang ternyata sudah merasakan berbagai dampak perubahan iklim dalam kehidupan mereka sehari-hari. Mulai dari banyaknya warga desa membuat balai-balai pondok di depan rumah untuk tempat tidur di luar rumah karena keadaan dalam rumah yang sekarang panas dan gerah. Juga belajar dari tiga perempat siswa sekolah di desa-desa “kompak terpaksa” menunggak uang pembayaran karena orang tua mereka yang petani tak sanggup membayar uang sekolah akibat panen yang gagal disebabkan tak tentunya musim tanam dan musim panen.

Malu kepada pelajar di se-antero negeri ini yang menuliskan kisah bagaimana perubahan iklim menimbulkan banjir di rumah dan tempat tinggal mereka, hilangnya ikan-ikan dan rusaknya terumbu karang, dan mereka sudah punya berbagai macam tips dan solusi praktis untuk itu semua! Bahkan Saran untuk pemerintah. Wow..  Dan ini lah saya, yang setua ini, tinggal mengikuti saja.

Malu, kepada masyarakat lain yang sudah sadar lingkungan dan antusias melakukan berbagai hal mulai dari bepergian dengan sepeda (bike to work), dengan kendaraan umum misalnya KRL atau Busway agar mengurangi polusi yang berdampak negatif, hemat energi dengan mematikan lampu, earth hour. Menghindari junkfood, makan sayur mayur, juga menghindari penggunaan kertas yang tak perlu misalnya dengan aktivasi tagihan via email, rapat online, juga dengan menghindari plastik kantong kresek dan sampah plastik.

Beberapa bagian usaha itu mungkin sama dengan yang digambarkan pada mind-map di bawah ini :

Benar, Saya sudah baca semua artikelnya, dan lomba itu pun sudah ada pemenangnya. Kabarnya, akan pula dibukukan semua karya, sejumlah 250 lebih naskah artikel dan blog dari insan manusia Indonesia yang peduli dengan lingkungan dan mau menuliskannya untuk kita.  Biar tak malu lagi, hanya satu yang harus saya lakukan.  Apa itu?

Membaca, berarti mengingat. memahami. Berarti bisa menuliskan-ulang.  Tentu artinya juga pasti bisa untuk melaksanakannya. Dari pelbagai alasan dan dampak perubahan iklim, banyak sekali konteks lokal yang terekspos. Betapa pemanasan global, polusi, kerusakan ekosistem lingkungan benar-benar terasa oleh setiap orang.  Dari dampak klise seperti panas terik, hingga sekolahan banjir dan bapak yang tak sanggup bayar uang sekolah karena panen gagal. Entah sebenarnya sadar atau tidak kalau penyebab utama itu semua adalah diri kita sendiri. Manusia.

Karena malu kepada Lingkungan, Alam, Bumi, Negeri ini, yang telah berlimpah diberikan oleh-Nya. Malu kepada Nya, mengaku beribadah tapi menelantarkan apa yang Dia titipkan kepada kita. Yang dititipkan untuk anak cucu kelak.

Jadi, karena Malu maka saya bertindak. Paling tidak, dengan melakukan, apa yang sudah dituliskan oleh para peserta lomba itu. Dari tulisan-tulisan pengalaman sehari-hari yang mencerahkan. Sepertinya, memang “hidayah” datang dari arah yang tak kita duga. Termasuk masalah kesadaran lingkungan ini.

Ya, membaca ratusan tulisan, membuat saya mual. Mual dengan diri sendiri dan sekarang saya mencoba memperbaikinya. Paling tidak, dengan melakukan apa yang sedang dilakukan oleh guru, pelajar, mahasiswa, aktivis lingkungan, karyawan, ibu rumah tangga, pengangguran dan berbagai lapisan masyarakat yang menyadari, bahwa bumi tempatnya berpijak akan menjadi bumi yang berbeda, yang tak membawa kemakmuran apabila ditelantarkan.

Ternyata, tak hanya dengan kuliah umum ataupun kampanye lingkungan hidup untuk mengubah seseorang (seperti saya) yang tak peduli, cuek (karena tak mengerti) menjadi salah satu yang ingin melakukan sesuatu.  Berbuat untuk kelestarian Alam, untuk kelestarian umat manusia juga pada akhirnya.  Sesederhana apapun, sekecil apapun. Berbuat.

Karena Malu, bila tak berbuat untuk alam.

Padahal, itu semua demi menolong kehidupan kita sendiri : Manusia.

note : tautan-tautan yang berupa artikel blog pada tulisan ini adalah sebagian para jawara lomba menulis tentang perubahan iklim. Selengkapnya bisa dilihat disini, dan disini

About the Author: unggulcenter

Pengelola UC - Review Pengalaman Produk dan Perjalanan

You might like

5 Comments

  1. waduh mas, saya juga jadi tersindir banget niy…
    belum bisa melakukan apa2 buat alam
    baru bisa mendisiplinkan diri dan keluarga dekat untuk tidak buang sampah sembarangan, serta mengurangi pemakaian kantong kresek dan plastik.

  2. Lingkungan paling dekat yang saya rasakan adalah lingkungan UI dan Margonda.
    Setelah depok di guyur hujan misalnya, sampai” waktu saya lagi di UI, saat saya bicara mulut saya pernah mengeluarkan seperti asap loh. Biasanya kan itu terjadi klo kita lagi di daerah yang dingin yah.
    Itu salah satu bukti klo perbedaan suhu di Margonda dan di UI berbeda drastis —-> Margonda sudah panas.

    Tapi sayang, pihak UI sedang banyak membuka lahan. T_T

  3. kepedulian lingkungan memang bukan hal yang gampang..
    harus dimulai dari diri sendiri dan dilakukan dengan cara yang konstan. memelihara niatnya itu yang susah..
    😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.