Seorang sahabat mengenalkan istilah baru untuk UC. Beliau bilang itu korsa,sewaktu mengomentari tulisan UC di kabar indonesia dan diulas singkat lagi di website ini. Setelah berinteraksi dengan intelektual yang ada di google, maka salah satu arti korsa saya dapatkan yaitu KORSA adalah singkatan dari Komando Satu Rasa. Ada juga yang mengartikan korsa adalah kelompok manusia yang senasib, seperjuangan dan setujuan serta berkeinginan untuk selalu bersatu dan berada dalam satu kesatuan yang solid berlandaskan semangat persaudaraan dan kekeluargaan.Di lapangan, sering juga disebut dengan “jiwa korsa”, yang bisa diartikan bagaimana harus bersikap loyalis, kebanggaan dan antusiasme yang tertanam pada anggota korps termasuk pimpinannya terhadap organisasinya. Dalam suatu organisasi yang mempunyai jiwa korsa yang tinggi, rasa ketidakpuasan bawahan dapat dipadamkan oleh semangat organisasi.
Akar permasalahannya juga ada disana. Hal yang perlu kita garisbawahi adalah korsa ini biasanya diadopsi oleh lembaga militer atau institusi pemerintahan. Artinya governmental related. Walaupun dari kedua institusi ini terdapat berbagai perbedaan korsa dalam pelaksanaannya, namun penekanan dan institusionalisasi korsa ini memiliki misi tersendiri. Mengapa demikian, sebab istilah ini kurang dikenal dikalangan swasta dan bisnis, bahkan pendidikan formal (non militer, semi militer dan pendidikan kadet/kader institusi pemerintahan). Apa yang kita kenal? Henry Fayol, Bapak Ilmu Administrasi dan Pakar Management asal Perancis menyebutkan dalam 14 prinsip management nya yang terkenal, salah satunya adalah Esprit d’corps. Inilah yang diterjemahkan menjadi korsa, komando satu rasa. Bahkan sudah sejak lama Max Webber dalam studi birokrasinya menyebut Esprit d’corps untuk keteraturan birokrasi.
Pertanyaannya, mengapa korsa ini tidak ada atau kurang dikenal dibisnis dan swasta? Disebabkan pembentukan kata-nya sendiri sudah memenuhi unsur politis, yaitu bersifat militeristik (komando) dan diinstitusionalisasikan di lembaga tertentu untuk membentuk loyalitas. Sadar atau tidak sadar, institusi negara termasuk menjadi “korban” idealisme yang salah kaprah ini. Alih-alih Esprit d’corps yang sangat positif yg diterima, justru korsa memaknainya sebagai bentuk semangat keteraturan, keseragaman dan perlindungan antar anggota. Sah-sah saja kalau UC menyebut ini dengan istilah “ultra-institusionalis”. Korsa juga sudah menjelaskan sendiri melalui kepanjangannya. Komando Satu Rasa. Komando nuansa militernya tinggi, dan memiliki kata kunci = seorang pemimpin. Perlu digarisbawahi, kadangkala memang komando ini bisa dimaknai bukan kepemimpinan, tapi lebih ke adanya seorang pemimpin. Ini yg terjadi.
Sedangkan “satu rasa” nuansa korps nya ultra-high. Ingat satu rasa yang diusung komunisme, menjadi kekuatan dahsyat yang bisa jadi bumerang terhadap dirinya sendiri. Korsa itu juga dekat dengan arti barisan yang teratur, keteraturan, birokratisme. Mahasiswapun apabila berunjuk rasa di jalanan dengan barisan rapi dan rapat, menghindari masuknya provokator, biasanya mengusung yel-yel “Satu komando..Satu perlawanan!” Penyerapan korsa ke berbagai institusi ini diakui seakan-akan manis, namun menyimpan semangat status quo yang tinggi, yang mungkin seharusnya tidak tepat untuk institusi nonmiliter.
Beberapa perbedaan antara institusi militer dan nonmiliter tapi pemerintahan dalam memaknai esprit d’corps yang berlabel “korsa” antara lain untuk militer, saya ambil contoh infanteri, selalu diupayakan untuk menumbuhkan jiwa korsa, semangat dan rasa bangga pada diri prajurit Infanteri terhadap korps Infanteri. Dalam istilah militer, pengertian Jiwa korsa adalah tumbuhnya rasa senasib sepenanggungan, sependeritaan yang menyatu kuat dalam diri dan jiwa seseorang/kelompok/organisasi yang terbentuk melalui proses dengan beberapa metode dan tradisi serta budaya masing-masing yang biasanya berorientasi pada hal-hal yang positif namun demikian apabila disalah artikan bisa juga menimbulkan efek negatif. Dalam kehidupan prajurit jiwa korsa ini memang sangat diperlukan sehingga dipupuk dan dikembangkan dalam rangka menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kecintaan terhadap satuannya serta tumbuh soliditas yang baik antara anggota yang diorientasikan dalam pelaksanaan tugas secara maksimal
Adapun kegiatan tradisi korps Infanteri yang dapat menggugah timbulnya jiwa korsa bagi prajurit Infanteri antara lain :
1. Tradisi yang berlaku bagi korps. Misalnya peringatan hari infanteri, hari kavaleri, hari TNI dst. Juga kegiatan-kegiatan lain yang akan timbul rasa persatuan dan kesatuan dan rasa kebersamaan yang terjadi antara sesama prajurit yang dalam kondisi capek, lelah, haus, mereka harus berjuang bersama untuk mempertahankan keutuhan satuannya sampai kesasaran sehingga apabila hal ini tercapai maka akan membawa rasa bangga yang tinggi sebagai prajurit korps tersebut. Termasuk tradisi pengukuhan, perploncoan dst. Untuk menambah jiwa korsa, menurut informasi, beberapa cara dalam kaitannya dengan Pemimpin militer, harus :
1. Perasaan Senasib Sepenanggungan.
2. Tidak Berorientasi Pada Materi.
3. Penggunaan Fasilitas Satuan. Rasa turut memiliki dan rasa kesetiakawanan juga dapat dibangun dengan memberikan hak yang sama pada prajurit dan pemimpinanya terhadap fasilitas yang dimiliki satuan sesuai dengan fungsi dan tugasnya masing-masing khususnya fasilitas pelayanan yang bersifat umum seperti pelayanan kesehatan, evakuasi bagi anggota dan keluarga yang sakit dan harus dibawa kerumah sakit menggunakan mobil ambulance dan lain-lain.
4. Pemberian Contoh Tauladan Dari Unsur Pimpinan.
5. Bersifat Jujur.
6. Pemberian Penghargaan Dan Hukuman Kepada Semua Anggota.
7. Pembagian Hak Secara Proporsioanal Tetapi Transparan.
8. Pertemuan Berkala Dengan Anggota Dan Keluargannya.
9. Menciptakan Simbol-simbol Atau lambang-Lambang Yang Mencerminkan Jati Diri. Di dunia milier, penggunaan simbol-simbol atau lambang-lambang satuan harus mencerminkan sikap yang dapat menggugah semangat dan dapat memotivasi prajurit serta menyentuh perasaan yang mendalam sehingga akan menumbuhkan kecintaan dan kebersamaan antar sesama prajurit dan satuannya. Ini sangat meningkatkan Jiwa Korsa prajurit.
10. Mengembangkan Cerita/Pengalaman Yang Bersifat Heroisme.
11. Jangan Mengganggu atau Mengambil Hak Anggota.
Salahkah itu? sama sekali tidak. Justru kita sebagai rakyat bangga dengan pengabdian para prajurit. Sekarang kita lihat salah satu bentuk korsa dari sipil pemerintahan, yaitu Depkeu. Ambil salah satu bagian, seperti contoh kalau militer kita ambil TNI AD, dan ambil lagi spesifik contoh Infanteri. Untuk Pemerintah, ambil contoh Depkeu, ambil spesifik lagi Inspektorat Jenderal (Itjen). Sebelum Senam pagi misalnya, biasanya selalu ada teriakan Korsa! Korsa! dari para PNS ini. Menurut mereka, dituntut jiwa korsa dalam setiap jenjang S1, S2, S3. Sebab pada intinya jiwa korsa itu adalah jiwa satu rasa dan satu asa dalam mencapai satu tujuan atau biasa disebut rasa peduli dan sepenanggungan terhadap sesama didalam suatu organisasi atau kelompok yang mempunyai satu tujuan. Jiwa Korsa juga dapat diartikan sebagai rasa persatuan, kekeluargaan, setia kawan, rasa tolong – menolong, bahu membahu, rasa memiliki bersama, dan rasa persaudaraan yang sangat erat. jiwa korsa pun bisa diartikan loyalitas, kebanggan dan antusiasme yang tertanam pada anggota termasuk pimpinannya terhadap organisasinya. Dalam suatu organisasi yang mempunyai jiwa korsa yang tinggi, rasa ketidakpuasan bawahan dapat dipadamkan oleh semangat organisasi.
Menurut UC, biarkan saja Korsa menjadi milik militer. Sebab ada sumber yang menyatakan bahwa Kekompakan,persatuan dan jiwa korsa adalah karakter TNI. Lalu Departemen, BUMN, Institusi lain menerapkan apa? Ya Esprit de Corps. Dan sebenarnya Spiritnya juga sama dengan Korsa. Hanya dalam pembentukan kata dan penautan makna akan menjadi berbeda dalam pelaksanaannya. intinya sama saja. Kalau ada film bioskop indonesia yang “mendadak dangdut”, “otomatis romantis”, maka tidak perlu ada “Terlalu korsa” atau “sangat korsa sekalee”. Ini bisa menghilangkan sifat ultra-institusionalis yang saya sempat kemukakan, yang merupakan kultur sangat baik untuk militer, namun kultur yang menyesatkan dan cenderung berbahaya untuk institusi selain itu.
Bagaimana dengan sekolah dari departemen atau pemerintahan yang saat ini berseragam, semi militer dst? Dari salah satu acuan korsa militer, ada penempatan atribut2 yang meningkatkan korsa. Nah, ini yang mengkhawatirkan. Kalau sudah ada seseorang sipil, dengan kepala botak/cepak, berseragam, perut langsung dan bangga buanget dengan korpsnya. Ini berbahaya. Sebenarnya atributisasi dan seragam ini yang salah satunya mungkin membuat sombong dan membedakan dengan mahasiswa dan masyarakat biasa. Seragam memang membuat seseorang menjadi bukan dirinya, menjadi lalim dan takabur.
Wallahu’alam, Anda yang menilai.
menarik dan bermanfaat
Setuju, mas..sama opini tentang korsa ini. Menurut saya juga ada penyimpangan dalam hal penerapan konsep Esprit d’corps ketika masuk dalam pendidikan kedinasan sipil, sehingga fasisme membudaya di kalangan aparat birokrasi.