Banyak sekali pelajaran, hikmah dan catatan kehidupan yang dapat kita jadikan penuntun untuk lebih baik. Lebih baik dalam bersikap, berbuat dan paling penting, bersyukur atas apa yang kita punya. Kadang pula, inspirasi itu datang dari orang-orang terdekat. Lokal. Bukan dari inspirasi motivator di televisi atau hasil share di sosial media saja. Local Hero, mungkin itu istilahnya. Tapi ada lagi istilah yang menurut saya penuh makna, dan pernah saya baca dari sebuah buku. Guru Kehidupan.
Guru kehidupan, begitu maknawi. Dia ada dimana-mana. Anda bisa perhatikan di sekitar Anda. Saat ini juga. Menunggu Busway di Halte, sedang terkena macet di mobil Anda di bilangan Sudirman, atau mendorong motor butut melintas lampu merah menuju tambal ban. Mereka yang menyisir paku dijalanan di tengah malam, membersihkan kali yang hitam seperti selokan.
Semua di sekitarmu adalah Guru Kehidupan. Orang-orang yang pantas untuk memberikan petuah tanpa perlu bertitah. Hanya dengan kita melihat apa yang mereka lakukan dan jalani kehidupan. Belajar bagaimana idup kaya dengan berbagai keterbatasan! Mereka-lah pahlawan bagi keluarganya, bagi lingkungannya.
Banyak hikmah kehidupan yang diajarkan oleh lingkungan, dan diaktualisasi dengan baik oleh beberapa orang yang pantas kita sebut guru kehidupan. Nah, tentu kamu ngga akan kesulitan mencari satu saja, dari setiap orang yang menurut mu memberi arti dan hikmah menjalani hidup. Dari tukang sampah, office boy, penjual asongan, petugas Kereta Api, hingga Direktur dapat memberikan teladan yang bisa kita tuliskan dan lukiskan untuk pelajaran.

Namun ada yang paling menarik. Seseorang, yang mengumpulkan naskah kehidupan itu dan membukukannya. Untuk setiap orang mengambil hikmah, tanpa harus “berkotor”mencari tokoh tersebut disudut jalan dan gang. Dia menuliskan pengalamannya agar dapat membagi inspirasi.Tidak hanya tulisan fiktif, namun membukukan mereka-mereka, pahlawan bagi keluarga dalam mencari nafkah dan hadapi kehidupan dengan istiqomah.
Sesosok ini saking low profile-nya, jarang sekali menyebutkan nama asli. Semua netizen menyebut-nya “Matahari Timoer”. Makna yang terkandung di balik nama ini juga tak sederhana. Matahari, memang terbit di timur. Selalu menjadi penanda hari yang membuat semua terang benderang. Kehidupan yang gelap akan terang. Beliau merasakan itu adalah makna yang harus diembannya. Ya, dia adalah aktivis pesantren. Dia tinggal di pesantren Darul Ulum di Bogor. Bersama istri dan, –kalau tidak salah– dua anaknya. Pelajaran-pelajaran hidup sudah ditempa beliau dan diturunkan ke anak-anaknya.
Kang MT, begitu kita bisa panggil beliau. Beliau dan Istrinya mengurus pesantren dan beliau saat ini aktif sebagai penggiat Internet dan Sosial Media yang sehat untuk anak dan remaja. Bekerja saat ini di ICT Watch, sebuah organisasi nirlaba yang konsen pada pemberdayaan masyarakat melek Internet dan anak-anak yang terpapar teknologi sejak dini untuk menjadi pribadi yang tak menjadi korban kecanggihan teknologi itu. Tak hanya internet, Televisi pun tak lepas dari paparan program yang tak layak anak. Mungkin, TV Kabel atau Smart TV yang bisa memfilter dengan berbagai macam mekanisme.
Bergabung pula di ID-COP alias Indonesian Child Online Protection Programme, Kang MT menjadi bagian dari upaya dari orang-orang kecil untuk mengubah sesuatu yang mungkin terlewat dari pemerintah. Made for Minds, mungkin dirinya dengan pemikirannya yang mencoba beraktivitas di bagian yang tak banyak orang dedikasikan untuk itu adalah sebuah “great minds”.
Senantiasa bergaul erat dengan “orang pinggiran”, beliau paham betul bagaimana rasanya menjadi “wong cilik” sebenarnya. Dan disinilah Buku Guru Kehidupan dibuatnya. Menyusun naskah setiap orang-orang pinggiran. Pulang tengah malam, atau pergi sebelum fajar sudah menjadi kegiatannya.
Suatu ketika, saya pernah nanya, dan ternyata jawabannya sungguh bermakna. Kurang lebih, seingat saya seperti ini :
“Mengapa suka pergi keluar rumah pagi-pagi buta, atau pulang lewat tengah malam?”
“Karena pada jam-jam tersebut-lah kita bisa merasakan kerasnya kehidupan. Ada orang-orang yang harus memulai harinya lebih pagi untuk mendapatkan sesuap nasi.”
“Ada denyut kehidupan –yang penuh perjuangan. Bukan kehidupan malam dalam tanda kutip, tapi benar-benar, kehidupan yang keras dimana pada saat orang terlelap mereka bekerja keras, untuk berebut rejeki paling awal. Siklus kehidupan begitu terasa.”
Saya mengamini. Karena bukan satu dua kali saya mencoba hal yang sama. Sungguh ada pengalaman yang inspiratif. Namun saya ngga se-militan MT. Paling-paling, ketika pulang malam dengan KRL Jabodetabek terakhir, saya bisa layangkan pandangan dan merasakan denyut malam. Atau, hampir setiap harinya pukul 4.30 pagi mengantar istri dengan motor butut yang ada, melihat denyut fajar dari banyak pencari kehidupan. Dan bahwa, saya rasakan, Local Heroes, guru-guru kehidupan itu kadang LUPUT dari pemberitaan, dari ingar bingar share di sosial media!
Inilah dia, Kang MT, local hero asal Bogor dengan segudang kegiatan kerelawanannya, pulang tak tentunya demi “ngurusin anak-anak orang lain” dan karya-karya bukunya. Termasuk, Guru Kehidupan. Beliau juga orang pertama yang saya kenal bangga berkaya “Saya blogger” karena memang tak punya pekerjaan. Hanya jadi “orang pesantren”. Saat ini, memang beliau ditarik masuk ke ICT Watch dan Internet Sehat yang sangat cocok dengan kepribadiannya. Berbagai presentasi nya juga dibagi di slideshare ini silakan dibaca.


Menurut saya, beliau adalah murid dari guru-guru kehidupan tersebut. Dan murid ini, menjadi guru saya. Pahlawan lokal. Yang mungkin tak akan tercatat jaman tentang perjuangannya mendampingi anak-anak dari online atau cyber bullying, berjibaku menerangkan perihal internet sehat untuk ibu-ibu orang tua siswa di berbagai sekolah di jabodetabek, bahkan sampai Papua.

Mantan ketua blogger bogor ini tak pernah segan turun tangan, membantu sekuat tenaga menyingsingkan lengan, tak hanya retorika semata. Beberapa kegiatan, dia aktif di lapangan tak hanya pandai sebagai konseptor gerakan. Nge-blog, aktif di sosial media dan aktif di luar dunia maya dilakoni dengan se-imbang. Komunitas puisi, sastra dan berbagi buku menjadi aktivitas hariannya. Mengajar di pesantren khusus urusan e-literasi jadi tanggungjawabnya pula.
Saya tak ingin berlebihan memuji, namun faktanya, banyak hal dari interaksi saya dengan murid kehidupan ini membekas. Misalnya, beliau yang ijazah SMA nya di tahan karena tak bisa lunasi biaya sekolah. Dengan bekal kerja keras beliau berjibaku dengan kehidupan. Mungkin itu sebabnya, Buku Guru Kehidupan tak sekedar menuliskan, namun penuh perasaan yang dalam, karena beliau juga, salah satu dari pembelajar kehidupan. Yang kaya dari keterbatasan.


Mungkin, local heroes macam ini tak terpantau televisi yang terbiasa tayangkan sinetron dan kejar rating. Ada mungkin, model acara seperti ini tapi sepenunya reality show yang dibuat-buat supaya tampak nyata. Program Made for Minds mungkin jadi langkah positif untuk berbicara dan membicarakan kiprah mereka. Ya, mungkin ada jaringan TV Kabel atau Smart TV yang bisa wujudkan. Sebuah “made for minds” yang tak terlukiskan.
Terus berjuang kang MT, kami mendukungmu dan mencoba melakukan apa yang kami bisa dengan bidang yang kami mampu. Doa saya, dan kami, akan ada ratusan dan ribuan Matahari ini untuk masa depan bangsa. MT bagi saya adalah guru kehidupan, bagi kami, sebuah pelajaran bagaimana hidup itu perlu perjuangan dan tak harus untuk diri sendiri, namun dampaknya akan membekas ke perilaku diri.
Teruslah terbit dari Timur!
*spekeles*
salim ke Pupuhu Blogor Kiwari
Kang MT………………. ngepenssss
terima kasih buat semuanya :”)