Memelihara Konflik Poso : Ketika Aparat Tertembak, Mereka Berteriak di Sosial Media

https://www.unggulcenter.org/memelihara-konflik-poso-ketika-aparat-tertembak-mereka-berteriak-di-sosial-media/

Berita tewasnya aparat dalam memberantas pemberontakan, di era sosial media ini dengan gagah-lantang diungkapkan dengan kegembiraan. Ada apa dengan bangsa ini?

Poso merupakan daerah yang dulu lekat dengan konflik antar agama. Saya tak tahu persis akar masalahnya, namun tak akan ada pembangunan dan kesejahteraan tanpa perdamaian. Memelihara perdamaian, sepertinya menjadi makin sulit dengan simpatisan-simpatisan yang mengatasnamakan perang atas nama Tuhan. Di semua agama, kelompok radikal itu ada. Miris sekali. Memelihara konflik Poso dari mereka sendiri.

Tanggal 29 November kemarin, diberitakan seorang prajurit TNI tewas dalam menjaga perdamaian. Memburu kelompok radikal, karena beliau yang tewas ini adalah anggota Raider yang merupakan pasukan pemukul yang dibentuk Ryamizard Riyacudu, Menteri Pertahanan saat ketika menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) di 22 Desember 2003. Pasukan raider merupakan infantri elit yang dibentuk setara 3 infanteri biasa dan terbiasa dengan alutsista seadanya namun berkemampuan fisik dan psikis yang mumpuni.

12274497_10153108967166594_6729926016736166179_n

12316511_10153108972741594_2319233729427059277_n

Mungkin karena itulah, tewasnya 1 anggota Raider, bernama Serka Sainudin kemarin, serta merta dianggap para pemberontak Poso dan simpatisannya sebagai sebuah “kemenangan kecil”. Sontak, di sosial media seperti Facebook muncul kata-kata berbahasa Arab yang kita tahu kesucian nilainya dalam mengatakannya, namun diteriakkan di kejadian yang tak pantas.

Sosial Media, terutama facebook menjadi ajang perekrutan simpatisan, penyemaian bibit permusuhan dan pertentangan oleh mereka ini. Walau demikian, identitas orang-orang ini tak jelas, sepengecut aksi lapangan mereka. Semua berlindung secara anonimus tapi berani muncul dengan topeng.

12316608_10153108973576594_170837219232469118_n

Membuktikan bahwa kelompok-kelompok ini memang harus diberantas tuntas, termasuk simpatisannya. Facebook menjadi ajang jumawa, menunjukkan jati diri-nya.  Tapi mereka memang pengecut, tak akan pernah berani berhadapan langsung secara terbuka. Selalu membunuh secara pengecut dan dianggap sebuah aksi kepahlawanan tingkat tinggi.

12316103_10153108973371594_1404121423217319219_n

12278818_10153108972906594_4409755358351967562_n

Simpatisan ini tercuci otaknya hidup di Jaman Kegelapan, masih berada pada abad pertengahan dengan mengorbankan orang lain, bukan mereka.

Entah, semoga ada solusi untuk orang-orang seperti ini. Karena ini masih “didalam” Islam, belum lagi kita bicara kelompok radikal di kubu sebelah. Semoga warga yang berada di Poso tak terprovokasi dan bersatupadu melawan orang-orang seperti ini yang tak akan puas tujuh turunan kalau ada kedamaian.

Ibadah mereka hebat, jauh lebih banyak dari orang “biasa”. Namun jangan kecele, karena menurut Hadits Riwayat Muslim,

“Akan keluar satu kaum dari umatku yang membaca Al-Qur’an, dimana bacaan kalian tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan bacaan mereka, demikian pula sholat kalian tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan sholat mereka, juga puasa kalian tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan puasa mereka”
(HR. Muslim)

Mereka mungkin (yang simpatisan) tidak merasa teroris, tapi bermental teroris. Mencerabut kedamaian menginginkan peperangan dan mandeknya pembangunan. Kata-kata mereka seakan benar, namun tak sampai ke kerongkongan. Sampai dajjal muncul dari kelompok mereka sendiri. Berikan dukungan kepada aparat untuk memulihkan perdamaian agar korban tak banyak berlanjut dan memelihara konflik Poso dilakukan oleh orang-orang ini. Berantas tuntas.

About the Author: unggulcenter

Pengelola UC - Review Pengalaman Produk dan Perjalanan

You might like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.