Dalam ilmu manajemen, utamanya Manajemen Perubahan (Change Management) dikenal sebuah kurva yang bernama Sigmoid Curve atau Kurva S karena bentuknya yang seperti S tidur, ada juga pendapat S adalah initial dari Sigmoid.
S-Curve ini menggambarkan bahwa setiap kemajuan itu hukumnya akan selalu di mulai dari bawah dan menuju puncak tertentu dan kemudian akan menurun atau melandai. Artinya, setiap peningkatan berarti suatu saat akan mencapai titik tertentu dan akan menurun. Dari sisi produk, dapat saja teori ini kita sebut product lifecycle. Dari sisi manajemen perusahaan, S-Curve menjadi momok apabila suatu saat perusahaan menemui titik ini dia akan melandai dan akan terjun bebas.
Strategi terbaik untuk menghindarinya adalah melakukan change management dengan berupaya mengantisipasi itu terjadi. Jika ingin mempertahankannya, maka perlu sebuah perubahan. Perubahan ini terkait dengan sistem, kebijakan dan strategi baru, yang lama digantikan dengan yang lebih fresh, baru dan berkualitas serta memiliki spirit yang lebih baik. Mengubah menjadi relevan dan up to date. Dari sisi S-curve, maka kita harus melompat, dari jalur kurva S yang lama menuju kurva S yang baru. Ini dari sisi perusahaan.
Bagaimana dengan sisi pribadi? Tentu, kalau dikaitkan, kita juga dalam kehidupan yang terencana akan menemui kurva S. Kalau dari produk ada lifecycle, maka dari sisi religi ini mungkin bisa disebutkan dengan sunatullah. Sedangkan rumus untuk melakukan perubahan adalah : Al Qur’an Surah Ar Ra’d :11 yang kurang lebih isinya bahwa Allah berfirman “ Sesungguhnya Allah tidak akan merubah apa yang ada pada suatu kaum kecuali mereka berusaha merubah apa yang ada pada diri mereka”.
Dari ayat tersebut jelas, Allah menginginkan kita melakukan usaha sebaik mungkin sekuat mungkin, sekeras mungkin, dan secerdas mungkin. Tanpa berpangku tangan untuk mendapatkan apa yang diinginkan (kesuksesan). Sebagaimana kita diwajibkan meyakini kekuasaan Allah SWT, yang mempunyai hak prerogatif atas “kun fayaakun (jadi, maka jadilah)”, kita tetap berusaha terlebih dahulu.
Berubah artinya beradaptasi. Artinya kita hidup. Salah satu ciri mahluk hidup adalah tumbuh dan berkembang (biak). Berubah artinya menyesuaikan diri, dan menjadi lebih berdaya dalam mempertahankan dan meneruskan kehidupan. Berubah dari sudut pandang manajemen perusahaan adalah bisa berbentuk perubahan regulasi, deregulasi, ketersediaan teknologi, sikap pasar, budaya dan norma-norma, persaingan global, kondisi ekonomi, situasi politik dan keamanan, dst. Bagaimana perusahaan meresponsnya? Berubah dari sudut pandang individual sangat erat kaitanya dengan kualitas hidup. Kualitas hidup yang baik akan bisa dicapai dengan perubahan. Ada sebuah ilustrasi mengenai manajemen perubahan, yaitu pada saat Anda berkendara di sepeda motor, ternyata dari terik, tau-tau hujan deras? Apa yang dilakukan? Tentu Ada beberapa opsi dengan konsekuensi tertentu. Berhenti dan meneduh dengan konsekuensi kehilangan waktu. Nekad, dengan konsekuensi basah kuyup, dan mengambil jas hujan dari bagasi motor kemudian meneruskan perjalanan. Opsi ketiga ini adalah bagaimana kita mengantisipasi perubahan dengan baik. Disini salah satu bahasan mengenai “transformasi” yang akan dibahas dibagian bawah. Lalu bagaimana dengan opsi pertama, itu bisa diibaratkan dengan strategi “turn around” dan opsi kedua ibarat strategi “manajemen krisis”
Tiga bentuk strategi tersebut adalah yang disebut Rhenald Kasali sebagai strategi dalam melompat ke kurva S yang baru. Dalam manajemen perubahan, lompatan dapat dilakukan dalam 3 strategi perubahan yang berbeda, yaitu transformasi, turn around, dan manajemen krisis. Yang akan dibahas berikut ini adalah strategi tersebut dari sudut pandang individual, bukan perusahaan :
1.Transformasi : Jika diterapkan ke dalam pribadi individual, transformasi ini menyangkut bagaimana kita merubah sesuatu yang kelihatan mapan menjadi selalu siap siaga. Transformasi ini adalah perubahan pada saat kita mantap, anteng, merasa aman nyaman dan sukses. Kita berada di comfort zone. Pada saat ayahbunda memberikan fasilitas kendaraan, uang saku yang cukup dan bahkan melimpah. Pada saat ilmu yang didapat di sekolah dan kampus gampang karena biaya kuliah setiap semester tinggal meminta ke orangtua. Pada saat bisnis sudah terasa sukses, sudah tidak capek lagi dan seterusnya. Anda harus berubah. Tetap harus melakukan perubahan, karena hukum kurva S akan segera menghampiri apabila kita terlena. Apabila jalan yang didaki semakin mudah, sudah tidak menanjak lagi, artinya hati-hati, sebentar lagi Anda akan menemui jalan mendatar, dan kemudian akan menurun. Melompatlah ke kurva S yang lain sekarang juga!Anda coba antisipasi beberapa hal yang kira-kira terjadi dalam beberapa bulan, beberapa tahun dst. Berikan alternatif solusi dan rencakan apabila hal tersebut terjadi apa opsi yang akan diambil. Jika kuliah, belajar dengan baik, pikirkan ilmu yang akan didapat harus berguna dan harus digunakan. Bergaul dengan entrepreneur, orang yang bermotivasi tinggi (mencari jaringan). Banyak bertanya, ambil kesempatan-kesempatan untuk pembelajaran. Rugi, salah, kacau, itu tidak masalah karena Anda toh bisa belajar dari kesalahan dan pengalaman. Pikirkan beberapa tahun lagi mau jadi apa.
2.Turn around. Sudah hampir terlambat, persoalan-persoalan mulai pelik. Orangtua pensiun, uang saku dikurangi. Kuliah sudah semester Akhir dan perlu skripsi. Anda tetap punya waktu cukup dan ruang yang luas untuk berubah. Dan memutar arah. Jangan sampai terlambat menyadari. Segera cari solusi jangka menengah. Ada pihak ketiga yang bisa diandalkan, misalnya mencari beasiswa, iseng-iseng magang dan cari jaringan (networking) dan belajar bisnis dst. Selesaikan skripsi dan tugas akhir dengan cepat biar dapat ijazah. Dalam waktu yang agak singkat, dengan keyakinan yang tinggi, anda bisa putar arah. Ambil kursus, sertifikasi dan bekerja freelance, coba-coba belajar bisnis dari entrepreneur, dst.
3.Manajemen Krisis. Ayah pensiun, Ibu sakit, adik-adik mau sekolah, biaya kuliah sudah nunggak. Anda bisa mengambil keputusan strategis, berhenti kuliah, pindah kuliah, cuti dan seterusnya. Memang lebih sulit, dan pengelolaan diri harus dilakukan dengan maksimal dan radikal. Jangan khawatir, krisis sebenarnya justru memberikan peluang dan kesempatan bagi mereka yang berpikir jernih dan berani. Pada saat krisis, mayoritas orang cenderung bertindak dengan penuh keragu-raguan dan kacau. Namun orang yang jernih dan punya keberanian akan tampil mengambil kesempatan, memimpin diri sendiri, mengambil alih peran pemimpin bagi yang lainnya dan bersikap matang, serta dapat mengembalikan krisis kepada “keteraturan”.
Dari tiga strategi tersebut, maka kita harus terus melakukan lompatan-lompatan agar tidak “jatuh”. Sering melakukan lompatan akan mengakibatkan kurva S menjadi seperti ini :
Dalam kehidupan, kita akan selalu mencari kesuksesan dan dalam karier, hidup dan meminjam istilah Mas Romi Satriawahono—perdjoeangan, sebelum menukik turun, ambil lompatan ke arah yang lebih mendaki. Apabila pada suatu waktu ternyata kurva S yang sedang kita jalani akan menurun, segera melompat. Dan mana yang terbaik apakah melompat atau membuat “jembatan” menuju kurva S yang baru? Jembatan bisa Anda buat dengan cara membuat garis lurus ke arah kurva S baru. Artinya Anda tidak perlu menunggu hingga “puncak” atau “titik jenuh” atau “maturity” baru mau melompat. Prediksi kemungkinan terbaik untuk “pindah” dalam hal ini, bisa berarti pindah : karier, pindah : orientasi, pindah : hijrah ke yang “lebih baik” dari yang sekarang. Dan tidak ada yang bisa menolak itu, sebab alasan yang ada logis dan masuk akal. Apabila Anda merasa tidak berkembang, maka carilah tempat yang penuh tantangan, yang memungkinkan untuk berbuat lebih banyak dan mendekati kesuksesan pribadi, apapun definisi kesuksesan yang Anda inginkan. Segeralah melompat!
Semoga Sukses!
unggul sagena
president@unggulcenter.org (c)2009




ijin copt pak,,,,, krennnnn.
ijin copas pak..menarik