Menjawab Dominasi Positivisme dan Kelinglungan Post-Positivisme Sebagai “Ilmu Sosial Modern”

https://www.unggulcenter.org/menjawab-dominasi-positivisme-dan-kelinglungan-post-positivisme-sebagai-%e2%80%9cilmu-sosial-modern%e2%80%9d/

Kemalasan membaca, kurangnya rasa keingintahuan dan berpikir para mahasiswa, para dosen–bahkan Profesor di FISIP UI nampak dari statisnya buku pengantar yang diberikan. Di antropologi, misalnya, selalu buku Haviland, dan Haviland lagi yang dijadikan panduan belajar. Sama halnya di sosiologi dengan buku Kamanto-nya, ataupun di politik dengan buku pengantar karangan Miriam Budiardjo terus menerus. Pada akhirnya dapat dinilai bahwa FISIP tidaklah layak sebagai sarana pendidikan, tetapi lebih tepat sebagai sarana pengindoktrinasian,lebih jelas, bahwa melalui FISIP telah terjadi lokalisasi doktrin-doktrin. Pola model seperti ini, yaitu yang mengikuti salah satu alur pemikiran positivis, bahwa semuanya dianggap (menjadi) statis. Statis, yang terjadi tidak hanya karena dipengaruhi oleh keterbatasan pengetahuan masing-masing dosen dan profesor tetapi faktor terbesar yang membuat kestatisan itu terjadi adalah karena lebih dominannya rasa ketakutan—takut dicopot sebagai dosen, takut dikritik balik, takut dialienasikan oleh dosen-dosen “primitif”, takut kepada “senior”, yang bukan tidak mungkin salah satunya muncul sebagai dampak OPT/ Sarasehan jurusan-jurusan diawal masuk kampus.

Perlu diketahui, bahwa wajib hukumnya diketahui oleh mahasiswa FISIP, terlebih mahasiswa baru bahwa di kampus ini ada semacam kesepakatan intelektual yang “diimani” yang menyatakan bahwa ilmu itu bebas nilai, kondisinya umum meskipun disatu sisi saya yakin ada beberapa dosen yang sudah lebih tercerahkan sehingga secara pribadi keluar dari “kesepakatan intelektual” tersebut. Kesepakatan intelektual itu sebetulnya lebih cocok jika disebut “lawakan intelektual” karena sangat lucu, tidak mencerminkan jiwa yang sudah “tercerahkan”. Bukankah pernyataan bahwa “Ilmu itu harus bebas nilai” sesungguhnya merupakan sebuah nilai?

Ilmu harus bebas nilai merupakan ciri utama positivis, dan itu berarti positivis tak lebih dari pelawak-pelawak intelektual. Ibarat seorang pengusaha, maka positivisme (dalam ilmu pengetahuan) seperti pengusaha yang rakus dan senang memonopoli atau ibarat negara, ia seperti amerika serikat yang bertingkah seperti polisi dunia. Positivisme banyak dipengaruhi oleh filsafat Newtonian dan Cartesian yang merupakan master fisika klasik, yang sebenarnya telah digantikan oleh Einstenian dan fisika atom. Newtonian memberikan inspirasi bagi positivis untuk melihat segala sesuatu yang statis, manusia itu sama dengan mesin raksasa serta dari Cartesian positivis mendapat inspirasi untuk menghitung/me-matematikakan segala sesuatu dan memisahkan bidang nalar (Res Cogitans) dan bidang materi (Res Extensa).

Kesimpulannya positivisme tak lebih dari sebuah paradigma yang dikembangkan pada awalnya oleh ilmuwan-ilmuwan Eropa sebagai wujud euphoria kematian tuhan. Dan gereja memiliki saham besar terhadap terjadinya hal ini. ‘Nilai’ yang selama ini dianggap positivis tidak ada sebenarnya adalah agama. Ketika positivis mengatakan bahwa ilmu harus bebas nilai berarti dimaknai bahwa ilmu harus bebas dari doktrin-doktrin agama. Hal ini terjadi karena kaum positivis kecewa berat terhadap doktrin gereja yang tidak sesuai dengan temuan ilmiah, padahal pada kenyataannya doktrin gerejalah yang salah (ingat kasus Galileo Galilei dengan teori heliosentris nya). Akhirnya mulailah terjadipelecehan terhadap agama dan tuhan tentunya. Gereja harus minta maaf kepada agama lainnya sebab “karena nila setitik rusak susu sebelanga”.

Positivisme berawal dari mimpi yang ruhnya adalah kesombongan seorang manusia bernama Auguste Comte. Ia berusaha mensejajarkan sosiologi dengan ilmu pengetahuan alam lalu muncul buku Course de Philospphie Positive yang didalam buku itu terdapat “hukum kemajuan manusia”. Comte berpandangan bahwa manusia melewati tiga jenjang yang mendaki; jenjang teologi, jenjang metafisik, dan terakhir pada puncaknya jenjang positif yang doktrin utamanya kurang lebih berbunyi “ singkirkan dua jenjang sebelumnya maka niscaya engkau akan menjadi sejatinya manusia yang beradab, modern”. Pemikiran positif Comte itulah yang menjadi cikal bakal positivisme.

Bila saja Comte hidup setelah fisika modern berkembang, khususnya fisika atom, diabad XX, Comte pasti akan merubah posisi penjenjangannya menjadi terbalik: pertama jenjang ilmu pengetahuan, lalu jenjang metafisik, dan terakhir jenjang teologi. Namun Comte telah tiada, ia meninggalkan bid’ah sayi’ah yang membuat manusia modern cenderung ‘meludahi tuhan’ hingga jika mereka jujur dan sadar sesungguhnya mereka telah menjadikan diri mereka sendiri (atheis), pemikiran manusia lainnya (isme), materi atau harta, pangkat atau jabatan, suami, istri, anak,perniagaan sebagai tuhan-tuhan baru.

Pada dasarnya kelemahan positivisme sudah lama sudah banyak diketahui oleh banyak ilmuwan. Oleh karena itu bermunculanlah paradigma-paradigma berpikir baru dalam ilmu pengetahuan, misalnya paradigma konflik, social behaviorism, structure functionalism, critical theories, constructivism, intrepretivism, dan lain sebagainya. Semuanya memang nampak berbeda tetapi memiliki satu nilai yang sama dengan positivisme yaitu “Tuhan dilarang ikut campur” alias bebas nilai.

Ditengah maraknya parade paradigma tersebut muncullah sosok Post Modernisme yang seperti penengah, juru selamat atau ratu adil, yang pada awalnya ilmuwan cenderung terkesima dan terpukau karena post modernisme cenderung nampak arif dan bijaksana lagi demokratis dan adil, ia tidak membenarkan namun juga tidak menyalahkan paradigma manapun. Setelah merenung agak lama, barulah beberapa ilmuwan tersadar bahwa post modernisme tidak menjawab apapun. Post modernisme tak lebih sebagai gerakan pemikiran ilmuwan linglung yang berlindung dibalik jubah kearifan, kebijaksanaan, demokrasi, keadilan, dan bahkan sikap kedewasaan dalam berilmu. Tapi tidak menjawab apa-apa.

Post modernisme sebenarnya indikasi puncak dari the end of Positivism, dan paradigma alternatif lainnya yang melarang tuhan untuk masuk dalam referensi ilmu pengetahuan. Oleh karena itu perlu dideklarasikan Post dari Post-Modernisme. Artinya bahwa menempatkan tuhan sebagai sumber ilmu pengetahuan dalam segala bidang kehidupan, tetapi tentu bukan tuhan yang karena doktrinnya galileo diberi hadiah tahanan rumah dan dipaksa mengingkari kenyataan yang sebenarnya.

Gagas Pemikiran demikian sebenarnya sederhana, suatu hal yang biasa, yaitu sebuah konsekuensi dari perjuangan. Tuhan yang saya maksudkan adalah Allah Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia. Saya berlindung kepada Tuhan yang menguasai Subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang-orang yang dengki apabila ia dengki. Saya berlindung kepada Rabb manusia. Raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) syetan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan kejahatan kedalam hati manusia, dari golongan jin dan manusia. Muhammad SAW adalah sejatinya suri tauladan bagi saya, walau saya sadar saya tak akan pernah bisa persis sama dengannyakarena kelemahan yang ada pada diri saya. Al Qur’an adalah ‘gudang teori’ yang pasti kebenarannya bagi masa lampau, kini, dan masa depan.

Memang, harus diakui positivisme banyak membawa souvenir abad ke–20 yang bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Namun saya hendak mengajak untuk lebih merenungi sisi buruk yang ditimbulkan oleh positivisme bagi manusia. Pada dasarnya ada satu kaidah dasar dalam mengembangkan ilmu pengetahuan yang diajarkan Rene Descartes (Cartesian), kita harus berangkat bukan dengan kepercayaan , tetapi dengan keraguan. Tetapi positivisme dengan praktek pengembangan ilmu pengetahuan berkebalikan dengan pendapat Descartes tersebut, kita dipaksa untuk percaya kepada ilmlu pengetahuan dan meragukan semua firman Tuhan. Ini merupakan bentuk manipulasi intelektual positivis, karena—meskipun membuat gerah gereja—Descartes masih tetap mempercayai adanya Tuhan. Manusia memang cenderung mendramatisir segala sesuatu.

Bila budaya pengembangan illmu di FISIP masih seperti saat sekarang ini, maka berarti FISIP UI akan selamanya menjadi beo teori-teori barat dan secara tidak langsung menjadi antek-antek hidden imperialism barat. Adalah lebih baik menjadi kepala teri daripada menjadi ekor paus. FISIP UI sebenarnya bisa menjadi pelopor bagi terjadinya kuantum perubahan sosial di indonesia—bahkan dunia –bila ‘teori-teori sosial’ dalam Al Qur’an dikaji untuk diterapkan di masyarakat. Toh, masyarakat kitamayoritas muslim, ini sudah merupakan modal awal. Harus diakui pembangunan manusia indonesia selama ini justru mencabut nilai-nilai asli penduduk mayoritas, nilai-nilai barat (sekuler)dicekokkan kepada masyarakat dengan kedok ilmiah. Akhirnya yang terjadi adalah agama sebatas ‘alat’ untuk dapat disahkan sebagai warga negara dan agama dimanipulasi oleh segelintir manusia/politikus yang nampak shaleh untuk mendapatkan kedudukan. Wajar bila agama –di Indonesia—lebih menjadi cultural load bagi bangsa ketimbang mendukung pembangunan bangsa. Bila umat islam dididik dan disadarkan tentang keutuhan dan kemenyeluruhan agamanya niscaya kita akan saksikan ‘syurga’ di bumi.

Kapitalisme yang mengglobal sebentar lagi akan runtuh menyusul ‘saudara kandung’ nya yang berkarakter komunisme. Mengapa bersaudara kandung? Karena keduanya berasal dari rahim ibu yang sama, yaitu materialisme. Krisis yang melanda berbagai belahan dunia adalah pertanda akan runtuhnya sebuah peradaban dan akan lahirnya sebuah peradaban baru. Seperti yang dapat kita simak dari Arnold Toynbee berikut:

“…krisis-krisis besar selalu muncul mendahului transisi sentral dari satu peradaban ke peradaban baru. Krisis tersebut datang sebagai akibat ketidakmampuan kelompok masyarakat dominan dalam peradaban tersebut dalam menanggapi tantangan dari lingkungannya. Pamor peradaban tersebut menurun dan kemudian runtuh, namun ditengah krisis menjelang keruntuhan biasanya terdapat kelompok sosial minoritas yang mengembangkan budaya yang lebih adaptif terhadap tantangan baru. Kelompok minoritas mengembangkan institusi dan budaya baru untuk menghadapi tantangan, dan lahirlah peradaban baru.”

Mari bersama-sama kita mulai membangun serpihan peradaban islam dari kampus FISIP UI. Jangan silau oleh islamic character assasination yang dilancarkan AS melalui isu terorisme. Mulailah bersikap obyektif, kecuali islam melalui sumber ajarannya (Al Qur’an dan Sunnah) jangan samakan islam dengan kondisi umatnya di indonesia saat ini, karena kondisi umat islam saat ini adalah kondisi yang direkayasa oleh penguasa dan akibat penerapan teori-teori barat sekuler tentunya (para antropolog dan sosiolog harus mengakui bahwa mereka memiliki peran besar terhadap terjadinya hal ini). Bila langkah kecil kita untuk mengembalikan umat islam pada sumber ajarannya dilakukan saat ini maka mungkin dua puluh tahun lagi kita akan berada dua kali lebih maju dari masyarakat barat.

Roma atau eropa secara keseluruhan akan menjadi tanah air kita, bukan lewat pedang melainkan lewat pena (ilmu pengetahuan), zionisme akan hancur akibat perilakunya sendiri, ia merupakan sumber mata air kerusakan diseluruh muka bumi saat ini. Islam hadir untuk menyumbat mata air kerusakan tersebut. Bila hewan saja punya nilai (hidup berkelompok,berkeluarga, memiliki pemimpin), sungguh aneh bila manusia yang diberikan akal pikiran justru bebas nilai. Mari kita kampanyekan: “hanya manusia yang lebih rendah dari hewan yang bebas nilai!”

Mari menjemput masa depan!

“…wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).” (Q.S. Al Kahfi 18:10)

Solichin Al Arafat, solichinalarafat@unggulcenter.co.cc, (c)2003

About the Author: unggulcenter

Pengelola UC - Review Pengalaman Produk dan Perjalanan

You might like

3 Comments

  1. Hmm.. betul sekali kang, memang dari bacaan ini terkesan tendensius, tapi begitulah sebuah opini yang mengemuka pada tahun tersebut, oleh penulisnya.
    Yang menulis bukan saya, tapi memang ada beberapa hal yang saya kurang lebih sepeakat, tapi juga beberapa hal yang mungkin “menyerang” dan berlatar kekecewaan mendalam dari sang Penulis saya kurang sepakat. Makanya saya tulis juga dibagian akhir kira-kira tahun pembuatan oleh penulis (2003) semasa beliau berkuliah 🙂 kebetulan teman ini, tulisannya ada di PC saya, jadi saya minta ijin buat publikasikan dan buat accountnya di blog Unggul Center ini. 😛

    Boleh, boleh banget tulisannya kang. Nanti bisa saya post di blog ini juga deh! Trims banget yach.

    Boleh, boleh banget

  2. dalam banyak, saya lihat Kang Unggul gagal mendefinisikan apa yg sebetulnya jadi akar permasalahan di sini. tak hanya gagal, saya malah takut frame yg setendensius ini malah makin mengaburkan strategi yg bagaimana yg sebetulnya dibutuhkan dunia akademik & mahasiswanya, serta segenap elemen bangsa kita sekarang.

    sebentar.. saya sedang menyiapkan tulisan juga tentang hal ini. tetap berkorespondensi ya sobat. mari berdiskusi dgn sehat!!

  3. dalam banyak, saya lihat Kang Unggul gagal mendefinisikan apa yg sebetulnya jadi akar permasalahan di sini. tak hanya gagal, saya malah takut frame yg setendensius ini malah makin mengaburkan strategi yg bagaimana yg sebetulnya dibutuhkan dunia akademik & mahasiswanya, serta segenap elemen bangsa kita sekarang.

    sebentar.. saya sedang menyiapkan tulisan juga tentang hal ini. tetap berkorespondensi ya sobat. mari berdiskusi dgn sehat!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.