Bangkit! Empat Momentum Kebangkitan Bangsa Melalui Industri Kreatif TIK (Sebuah Renungan Hardiknas & Harkitnas di Bulan Mei 2010)

https://www.unggulcenter.org/momentum-kebangkitan-bangsa-melalui-industri-kreatif-tik/

Pengantar : Hari Tanpa Merah
Ada beberapa hari besar di negeri ini yang mungkin dilupakan meski diajarkan di bangku sekolah. Jawabannya pun mudah. Karena hari besar ini dikalender tidak dijadikan tanggal “merah”.

Satu,
Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928 pada Kongres Pemuda II melahirkan fenomena janji setia pada bangsa, tanah air, dan bahasa. Indonesia. Setiap tanggal 28 Oktober kita memperingati hari ini. Lalu, siapa diantara kita yang hafal Sumpah tersebut?

Dua, Pendidikan Nasional. Hari lahir Ki Hajar Dewantara, 2 Mei 1889 dengan semangat corsa “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo mangun Karso, Tut Wuri Handayani” ini ditasbihkan sebagai Hari Pendidikan Nasional. Terlihat, hanya kalangan pendidikan saja (baca : Sekolah) yang memperingatinya. Bahkan masyarakat hanya ingat lambang OSIS yang menempel di kantong seragam sekolah, kalau disebut “jargon” Tut Wuri Handayani.

Tiga
, Kebangkitan Nasional. Organisasi Modern Boedi Oetomo berdiri pada 20 Mei 1908 dikukuhkan sebagai tonggak kebangkitan bangsa dalam organisasi modern melawan segala bentuk penjajahan. Siapa yang tahu tanggal tersebut saat ini. Sedikit sekali.

Empat, Kebangkitan Teknologi Nasional. Sejak dinyatakan rampung dan terbangnya Pesawat N250 karya anak bangsa, per-tanggal 10 Agustus dijadikan hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas). Saat ini, siapa sih yang tahu, kecuali Kementrian Riset dan Teknologi? Host, sekaligus Undangannya!

Itulah hari besar tanpa merah. Ada benang merah yang menjadi lingkaran nyawa bagi peristiwa-peristiwa ini dan makna yang ingin disampaikan dengan memperingatinya. Tulisan ini tidak menyoroti diskusi mengenai keharusan menjadikan 4 hari besar ini menjadi “tanggal merah” atau tidak, hanya memberikan informasi dan opini bahwa ada hal-hal yang jadi terlupakan akibat adanya kekurang tahuan masyarakat akan makna pentingnya. Makna penting yang menyiratkan kata yang sama. Bangkit.

Benar, Bangkit. Bangkitnya Indonesia dari kecerai-beraian, menjadi satu tumpah darah, setiap Hari Sumpah pemuda, selalu kita cermati dan jadikan cermin jatidiri bangsa agar tidak terkoyak.

Bangkitnya pendidikan dan saat yang tepat melakukan refleksi, evaluasi, dan penyempurnaan sistem pendidikan nasional, tentu tepat dalam rangka memperingati Hardiknas.

Bangkitnya bangsa diperingati 20 Mei setiap tahun dan Bangkitnya teknologi bangsa di setiap 10 Agustus menyiratkan keinginan untuk selalu berusaha bangkit dari keterpurukan.

Empat peringatan ini menjadi salah satu momentum untuk mencoba untuk Bangkit, berdiri dari kondisi negeri yang carut-marut, terpuruknya perekonomian dan fatsoen politik yang terlanggar, korupsi, kolusi, nepotisme masih menjadi momok.

Bangkit dan Maju Melalui TIK
Setiap kebangkitan ada jamannya. Sepuluh tahun dari gaung millenium, hal yang paling menarik untuk dicermati adalah berkembang pesatnya dunia Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). TIK menggeser pola perilaku budaya tradisional, memberikan arti baru dari media sosial dan jejaring sosial, dan memecah hambatan-hambatan terkait jarak, waktu, bahkan bahasa dan budaya setiap individu.

Pentingnya peringatan 4 hari besar ini kita sudah tahu. Namun isu utamanya bukanlah peringatan itu sendiri, akan tetapi What Next? Apa yang bisa membuat kita : Bersatu (Hari Sumpah pemuda), Intelektual (Hardiknas), Bangkit (Harkitnas) dan Menjadi pemimpin di dunia industri global (Hakteknas). Momentum peringatan (perayaan?) hari-hari tersebut sangat tepat untuk berkontemplasi, bercermin dan mengevaluasi sejauh mana kita saat ini kita berada. Apakah “mencerdaskan kehidupan bangsa” dan “menyejahterakan rakyat Indonesia” seperti cita-cita para founding fathers ?

Nah, saat ini, sadar atau tidak, sebagai sebuah kontinuum, pendulum kebangkitan dan kemajuan ada pada Industri kreatif sebagai bagian dari dampak digitalisasi dan internetisasi dunia global. Industri kreatif memberikan sumbangsih besar anak bangsa dalam bersaing kreatifitas dan inovasi untuk menjadi pemenang kompetisi global, yaitu kompetisi kesejahteraan rakyat. Mengapa demikian? Sebab dunia kreatif bersentuhan langsung dengan proses penciptaan karya yang bernilai dan berdampak luas bagi peradaban manusia. Dus, berdampak pada perekonomian suatu bangsa.

Dunia industri kreatif menentukan sejauh mana sebuah bangsa memiliki “timbangan” intelektualitas dengan adanya dua unsur maha-penting yaitu “kreativitas” dan “inovasi” dan “timbangan” kemampuan ekonomi karena faktor interaksi bisnis dan pengembangan bisnis di era globalisasi dan CAFTA saat ini memungkinkan interaksi inter-negara dalam industri, melakukan exposure pasar baru di internet yang horisontal dan flat sehingga competitiveness menjadi “head to head” tanpa banyak barrier baik regulasi negara ataupun kultural. Di bisnis ini, antara apa yang disebut “produsen” dan “konsumen” bersifat relatif dan persaingan ini sudah dalam mekanisme pasar yang sangat luwes. Artinya, jika kita (pelaku industri di Indonesia) tidak kreatif dan tidak inovatif sama dengan kalah bersaing dan akhirnya tidak menunjang pembangunan bangsa yang justru saat ini lebih banyak disumbang dari industri kreatif terutama di bidang TIK. Nampaknya Pemerintah sudah mulai aware, sehingga peran industri TIK misalnya yang didukung MIKTI (Masyarakat Industri Kreatif TI Indonesia), dan berbagai event-event Kreatifitas TIK seperti INAICTA (Indonesia ICT Award), yaitu ajang penganugerahan terhadap kreativitas dan inovasi TIK karya anak bangsa. Juga beberapa award dan kompetisi lain yang mendorong produktivitas TIK antara lain Teknopreneur Award.

Era Ekonomi Kreatif dan Industri Kreatif TIK (Kreativitas Digital)
Merujuk Roy Sembel, Era ekonomi baru (new economy) yang dimulai sejak dekade 2000-an sangat ditunjang dengan intangible asset, yaitu adanya DML yaitu digitalisasi (mengadopsi teknologi informasi –sehingga sering juga disebut era TI), Mobilitas modal dan Liberalisasi yang menyulut revolusi informasi. Masa ini juga ditandai dengan masa ekonomi berbasis ilmu pengetahuan (knowledge economy) dan profesional yang bekerja berdasarkan informasi yang ada, mengubahnya jadi knowledge, dan mengambil keputusan berdasarkan knowledge yang dimiliki (knowledge workers) sebagai asset penting perusahaan. Knowledge inilah yang bersama dengan Skill (keahlian) & Attitude (perilaku) membentuk Kompetensi dan menjadi pintu bagi terciptanya mahakarya di bidang industri kreatif. Industri yang kadang belum dipahami juga oleh sebagian orang.

Industri kreatif bagi sebagian pendapat hampir sama dengan Ekonomi kreatif, misalnya asosiasi CEANS namun sebagian besar pendapat menyatakan bahwa Industri kreatif merupakan “bagian” atau “sub-sistem” dari Ekonomi kreatif yang lebih besar. Oleh karena itu, Ekonomi kreatif belum tentu industri kreatif karena ekonomi kreatif juga menghitung aktivitas perdagangan domestik maupun ekspor dari produk-produk kreatif. Sedangkan Industri kreatif sudah tentu ekonomi kreatif karena didalam setiap industri kreatif selalu terdapat proses penciptaan (creation) dan atau ada aktivitas Litbang/R&D produk dan pemasaran.

Industri kreatif sendiri memiliki 14 subsektor yaitu periklanan, arsitektur, pasar barang seni, kerajinan, desain, fesyen, video, film dan fotografi, permainan interaktif (game), musik, seni pertunjukan (showbiz), penerbitan dan percetakan, televisi dan radio, riset dan pengembangan, dan layanan komputer dan peranti lunak. Dari semuanya itu, erat kaitannya dengan dunia TIK baik langsung ataupun tak langsung misalnya games, animasi & multimedia periklanan dan pertelevisian, digitalisasi percetakan dan fotografi digital, serta yang paling kuat adalah industri peranti lunak (software development) itu sendiri. Oleh karena itu, seringkali disebut sebagai “kreativitas digital”.

Produk Industri Kreatif TIK (Kreativitas Digital)
Ide-ide kreatifitas yang dibangun oleh SDM berkualitas dan berpengetahuan membuat satu perusahaan dapat menungguli perusahaan yang lain. Bahkan di era saat ini, terdapat pengakuan publik bahwa pengetahuan (knowledge) lebih tinggi nilainya daripada produk itu sendiri. Pelaku industri kreatif menghasilkan karya yang unik, berbeda, dan mengejewantahkan keahlian dan intelektualitasnya pada produk tersebut. Dari situlah muncul wacana mengenai HKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) yang pernah penulis bahas di .

Dalam industri kreatif, kreativitas (creativity) dan inovasi (innovation) dalam membuat sebuah karya cipta memiliki nilai sendiri yang dapat menjadi pembeda (diferensiator) terhadap produk sejenis lain. Dan ini tidak boleh diduplikasi sebab nilai-nilai pengetahuan dan kreativitas inovasi tidak dapat disamakan dengan pembuat produk yang sama (pembajak). Produk industri kreatif sangat erat dengan keberadaan TIK.

Industri kreatif mampu menciptakan produk berbasis teknologi yang memberikan solusi kebutuhan yang diperlukan oleh masyarakat. Sebagian besar Industri kreatif yang maju adalah berbasis TIK. Hal ini selain didukung perkembangan teknologi informasi, juga dunia pemasaran, dunia sosial dan dunia politik dst sudah sangat bersentuhan dengan TIK. Mulai dari Geliat media sosial dan jejaring sosial yang merubah kultur masyarakat, dan kemudian dimanfaatkan untuk pemasaran dan bisnis, hingga pemanfaatannya (internet dan individu didalamnya –netizen) sebagai basis menggerakkan massa (vote getter) dunia politik. Intinya, praktis semua kegiatan yang melibatkan kepentingan individu maupun kelompok sangat terkait dengan dunia TIK.

Nah, pergeseran pola ekonomi-bisnis-perilaku ini perlu juga dibarengi dengan supporting actor yaitu pengembang produk TIK (developer, software house, social media engineer, ICT Product related), mulai dari yang sederhana semacam pembuatan website dan blog perusahaan bisnis, hingga software-software yang menjembatani kebutuhan pelaku bisnis kepada masyarakat. Selain itu, industri periklanan, Animasi, Multimedia, Robotik dan Telekomunikasi menjadi industri kreatif di bidang TIK yang perkembangannya sangat pesat dan menyedot perhatian masyarakat.

Di Dunia marketing, sudah sejak awal penggunaan media sosial semacam Facebook, Twitter, Blog dst menjadi tempat berpromosi dan berjualan. Inovasi teknologi seperti AR (Augmented Reality) atau dalam bahasa Indonesianya “realitas tertambah” yang di Indonesia sudah dipelopori Sosro untuk sistem 3 Dimensi produk kotak teh celup Sosro juga merupakan hal yang sudah bisa diterapkan. Koran Kompas juga sudah memakai QR Code dalam setiap terbitannya. Masyarakat juga sudah bisa membuat code sendiri melalui generatornya. Sangat menarik.

Kita boleh tahu, riwayat kartun asal negeri Malaysia, Upin dan Ipin, juga risalah Avatar besutan sutradara kondang James Cameron merupakan sebuah industri kreatif yang sukses. Dan ini menghasilkan karya intelektual (HKI) sekaligus nilai bisnis yang sangat tinggi. Mengapa demikian, sebab hasil karya dengan sentuhan multimedia hanya mampu diciptakan dari tangan dingin sang desainer kreatif. Industri iklan televisi, iklan media cetak, peranti lunak-peranti lunak inovatif pembelajaran, e-learning, hingga desain web perusahaan memerlukan tingkat independensi pribadi pada satu sisi (bisa personal ataupun perusahaan TIK) untuk menciptakan sesuatu yang bernilai “master piece” dan disisi lain memerlukan akseptabilitas dan apresiasi dari lingkungan.

Dari contoh tersebut diatas, apakah kita yang dalam faktanya tidak kalah bersaing dengan negara lain dalam hal kreativitas dan inovasi tidak terpecut dengan “ketertinggalan” tersebut? Apalagi trend penggunaan Free & Open Source sebagai tools industri kreatif yang berlisensi gratis sudah membuat cost industri kreatif itu sendiri menjadi lebih rendah. Tentu kita sangat sangat sanggup. Dan momentum empat hari “kebangkitan” seharusnya kita renungkan dan di tahun 2010 ini, Mulai bulan MEI ini, mari, kita bangkit, sebangkit-bangkitnya dan melalui industri kreatif, utamanya berbasis TIK, Indonesia bisa lebih maju dan mandiri.

Penutup : Momentum Bangkit, Maju dan Menjadi Respectful Country
Di sebuah parodi show di televisi, yaitu Republik Mimpi atau Republik BBM yang terkenal akan guyon dan sentilan-sentilannya kepada Pemerintah, Wakil rakyat dan figur politik lainnya, pun meneriakkan “Ayo kita BBM : Berani, Bangkit, Maju!”

Dan para pemuda pun bersumpah kembali untuk bersatu dalam dunia IT, dunia internet sehat, dunia persohiblogan dan dunia jejaring sosial yang menggurita dan meneriakkan satu kata, “Bangkit!” serta merta mendukung idealisme Kebenaran dan Keadilan, mendukung yang terpuruk dan terhinakan.

Serta Intelektual muda-intelektual muda bangkit dengan gayanya yang khas, gaul, berkarakter, social media minded, horisontalic dan catchy terhadap teknologi. Saatnya kita berteriak “Bangkit, Maju” dan tidak menjadi hanya korban dan konsumen dari gilasan dunia digital dan kecanggihan teknologi yang membuai dan membelenggu kreativitas.

Dorong kreativitas para pengembang di bidang ICT, meningkatkan pemanfaatan dan pertumbuhan TIK di semua lini industri, dan juga mempersiapkan pelaku TIK lokal untuk menghadapi kompetisi global. Dan yang terpenting lagi adalah karya kreatif yang sudah diciptakan dapat mempengaruhi denyut perekonomian secara positif, sehingga bisa dirasakan bahwa salah satu cara pencapaian tujuan kemakmuran bangsa dapat diciptakan melalui industri TIK, sebagaimana telah dibuktikan di berbagai negara yang telah lebih dahulu memanfaatkannya.

Ayo kita beramai-ramai memanfaatkan TIK untuk kemandirian dan kemajuan bangsa. Berusaha “menciptakan” karya sendiri dan melakoni dunia industri kreatif, multimedia dan multiwacana dalam ruang dan waktu yang sama, sejajar, horisontal, tanpa barrier antara generasi muda Indonesia dengan talenta-talenta lain di luar sana. Dan percayalah, tidak ada yang tidak bisa kita perbuat jika bersungguh-sungguh. Sudahkah Anda (dan Saya sendiri..) mengetahui makna empat hari bersejarah bangsa ini dan menyambutnya dengan sebuah tekad dan komitmen untuk Bangkit, dan Maju! Hit the Momentum!

president@unggulcenter.org

About the Author: unggulcenter

Pengelola UC - Review Pengalaman Produk dan Perjalanan

You might like

19 Comments

  1. Sebelumnya maaf, baru memperhatikan tanggal postingan. Entry yang diikutsertakan harus diposting pada bulan Mei. Jadi postingan ini tidak ikut di pooling. Mohon dimaklumi dan terima kasih.

    Salam,
    Paccarita AngingMammiri.org

  2. Terima kasih telah ikut meramaikan Entry Tematik Mei 2010. Pemilihan tulisan favorit akan dilakukan pada awal bulan Juni 2010. Tunggu info selanjutnya.

    Salam,
    Paccarita AngingMammiri.org

  3. Indonesia kini memang menunjukkan geliat yang cukup kuat tentang ekonomi kreatif. Tampangnya kemajuan bangsa ini akan ditopang oleh hal ini nih…

  4. *pegang kepala yg rada cenut2*

    seperti kang asep, saya juga masih dalam tahap menikmati hasil kreativitas para [encipta kreasi ajah… 😀
    saya pikir, memperingati suatu hari besar bukan berarti harus dijadikan tanggal merah *meski ga bo’ong, saya seneng banget kalo hari2 besar tersebut dibikin tanggal merah, libur gitu loh… 😀 *
    justru dengan mengadakan event tertentu yg sesuai dengan semangat/pemikiran dari adanya hari2 besar tersebut… *sok tau abis* 😛

    1. @ismi : yup, betul, mungkin kurang didalam artikel ini, maksud saya bukan menjadikan tanggal2 diatas menjadi tanggal merah, hanya perluasan informasi dan momentumnya agar kita “tersadar” bahwa maknanya besar dan itu perlu diperingati dengan sungguh-sungguh. Terutama dengan mencoba bangkit di era ekonomi kreatif yang bisa menjadi “kuda hitam”pengembangan perekonomian bangsa, tidak melulu “komoditi ekspor” yg saat ini malah sedang digedor oleh globalisasi via China-AFTA .. hmm..

  5. Saya masih sekadar menikmati hasil kreativitas para pencipta kreasi kang.. Belum bisa untuk menunjukkan hasil kreasi.. Tapi saya yakin, Indonesia banyak memiliki bibit-bibit Unggul Sagena (eh.. kebablasan..) untuk mencipta kreasi2 yang unggul sagena juga… 😀

  6. mantaph bos…
    betul kata pak Soekarno,
    bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenang sejarah mereka,
    tapi memang kelihatannya hari besar yang tersebut diatas hanya diperingati di sekolah saja,
    yang lainnya pada kemana?
    dukung pak Unggul deh…..

  7. ya, generasi muda selalu bisa bersatu, bangkit, meningkatkan intelektualitas, menjadi bangsa yang menguasai Hi-tech (gaya ngomong Habibie) asalkan tidak diracuni oleh orang-orang tua yang terjebak dalam kubangan politik praktis, yang notabene hanya berorientasi pada kekuasaan dan hegemoni.

    yuk kita canangkan agar keempat hari besar itu dimerahkan. bikin gerakannya di facebook kang Unggul!

    jabat erat!

  8. Great posts, cuman ya itu IT Indonesia masih stagnan 🙂 Pemerintah kurang mendukung secara maksimal melalui framework makro, mungkin karena sebatas menganggap IT sebagai ‘project’, bukan sesuatu yang menjadi salah satu tulang punggung bangsa ke depannya. Menyedihkan. But anyway perjuangan harus jalan terus.

    Best regards,
    Sony AK
    sony@sony-ak.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.