Menjadi Pendidik. Hmm.. batin saya berkelana pada belasan tahun lalu, bahkan ingatan saya kepada masa kecil di sebuah pinggiran kota di sumatera. Satu sosok yang saya kagumi waktu kecil. Kakek saya. Beliau adalah guru Sekolah Rakyat (SR) jaman awal-awal kemerdekaan. Dan beliau guru yang disegani sebab di desa kami, sebelum kami pindah ke pinggiran kota. Ya, masih desa-desa juga sih suasananya hehe..
Saya paling ingat sebutan “Pak Guru Ahmad” ketika tamu-tamu yang datang berkunjung ke rumah kami menyebut kakek. Juga rotan sepanjang satu meter yang beliau suka pukulkan ke tangan-tangan murid, termasuk saya dan cucu-cucu yang lain hehe.. pedas minta ampun. Biasanya kalau pelajaran mengaji, berkali-kali hempasan rotan tipis (semacam bambu) itu pedas menghajar lengan dan jemari kami. Tapi saya kagum dan bangga. Ingin menjadi seperti beliau hehe.. bukan soal “kekuasaan” menghajar dan mengajar, tapi dengan demikian saya banyak sekali hafal dan paham berbagai pelajaran melalui beliau. Alhamdulillah, sampai kelar SD, saya tak pernah jauh dari juara 1 dan juara 2. Pasti, pasti banget, karena sistem disiplin yang beliau ajarkan..

Keinginan menjadi guru saya simpan dalam hati, karena pada waktu itu, saya diharapkan menjadi tulang punggung keluarga, dan guru memang identik dengan kemiskinan ala Umar Bakri. Selepas SD, saya masuk SMP di pinggiran kota. Namun karena daerah tempat tinggal saya ini kata orang gudangnya preman dan penjahat, begitu juga pendidikannya. Ya benar, setiap hari gak ada tanpa berantem, bolos, naik sepeda, dan kejadian pencurian di sekolah saya.
Namun itu tak membuat saya berhenti belajar. Didikan kakek terasa sekali, hingga saya mampu untuk masuk ke SMA favorit di kota. Kultur teman-teman di SMA ini juga membantu saya semakin berani untuk melangkah dan berani untuk berjuang ke kampus favorit di pulau Jawa. Alhamdulillah, setelah dua kali berjuang di seleksi mahasiswa perguruan tinggi negeri, saya diterima di jurusan yang bisa “diterima” keluarga, yaitu Administrasi negara, dengan harapan lulus langsung menjadi PNS hehe..
Pendidikan IT di Indonesia
Berkutat dengan studi pemerintahan dan otonomi daerah, saya menemukan fakta banyaknya daerah tertinggal dan otonomi pendidikan yang sedang dikumandangkan. Hal ini juga membutuhkan banyak sekali tenaga pendidik di daerah terluar, tertinggal dan terdepan negeri ini.
Namun apa daya, saya tak menemukan akses untuk sekedar “mengajar” di kampus saya. Peluang menjadi pengajar justru saya dapatkan melalui lembaga pendidikan non formal yang langsung saya iya-kan ketika membutuhkan staf untuk operasional pemasaran yang bisa disambi dengan mengajar. Bahkan lembaga ini mewajibkan stafnya, dari customer service dan office boy hingga manajer untuk merangkap mengajar di lembaga tersebut, sebagai bagian dari tambahan penghasilan yang “variabel” dan nilainya lebih besar malah, dari gaji pokok.
Lembaga yang saya bekerja ini adalah lembaga pendidikan TIK(Teknologi Informasi dan Komunikasi). Secara sederhana adalah kursus komputer. Nah, disini saya bersemangat untuk memacu diri mempelajari dunia IT, sebab langsung bisa diimplementasikan dan diajarkan ke banyak orang lain secara praktis.
Disela-sela kegiatan, saya sering berkunjung ke sekolah-sekolah untuk mengajarkan dan mengenalkan dunia IT ke para siswa. Apa Sebab? Karena selama ini ternyata masih banyak siswa dan bahkan guru yang menganggap IT itu adalah Facebook saja. Tidak dibarengi dengan kegiatan belajar. Hanya sekedar “rekreasi” di dunia maya. Ini menyedihkan karena ini menunjukkan ketidaksiapan bangsa ini menghadapi gempuran teknologi informasi dan menjadi konsumen semata untuk teknologi bangsa lain. Jadi, kesempatan ke sekolah saya dan teman-teman manfaatkan untuk sharing dan saling membuka wawasan mengenai IT agar kita tak tertinggal dan merugi.



Dalam hal ini, cita-cita saya mulai terajut dengan baik. Ya, walau bukan “guru” atau “dosen” saya adalah pendidik. Menurut Wikipedia, “Pendidik atau di Indonesia lebih dikenal dengan pengajar, adalah tenaga kependidikan yang berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan dengan tugas khusus sebagai profesi pendidik.”
Lebih lanjut, disebutkan kalau Pendidik mempunyai sebutan lain sesuai kekhususannya yaitu Dosen, Guru, Pengajar, Instruktur, Widyaiswara, Tutor, Fasilitator, Ustadz dan lain-lain. Ya, intinya disana ada unsur mengajarkan ilmu. Insya Allah, saya dan teman-teman yang bergelut mendidik terutama anak-anak di sekolah-sekolah SMK yang tidak mampu ini adalah pendidik. Amin!
Pendidikan IT di Indonesia dan Korea (Republik)
Rupanya memang menjadi pendidik, sebagai cita-cita saya masih diberikan kesempatan oleh Yang Maha Kuasa. Aktivitas saya di dunia pendidikan dan seringnya saya mengajar ke berbagai sekolah untuk pengenalan IT menjadi awal perkenalan saya dengan Relawan TIK Indonesia. Saya sangat tertarik dengan kegiatannya, apalagi, saya sudah sering mendidik ke sekolah-sekolah utamanya ke sekolah SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) untuk pendidikan IT dan perlunya pendidikan IT.
Sebagai relawan yang menjadi koordinator wilayah Jakarta Raya, yaitu meliputi Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) saya semakin bersemangat karena semakin banyak teman-teman yang memiliki interest yang sama. Menjadi relawan pendidik IT.

Yang menarik, ternyata fenomena Lab Sekolah dan Guru-guru yang non TIK (non IT) saat ini menjadi kendala dalam pengimplementasian IT di Sekolah. Hal ini jelas karena Lab komputer dan guru-guru hanya diberikan pelajaran IT seputar Office dan seterusnya, bukan memanfaatkan IT untuk kebutuhan mata pelajaran yang mereka kuasai. Sedangkan siswa, dapat belajar di luar ruang kelas. Jadi Lab Komputer sepertinya perlu dikaji ulang keberadaannya. Hal ini saya sempat utarakan juga ditulisan mengenai Membongkar Lab Sekolah.
Akhirnya kami tak hanya mengajari siswa, tapi punya VISI MISI lebih besar, bahwa ternyata, penting sekali kalau Guru-guru mata pelajaran untuk melek IT! Karena selama ini mereka tertinggal, ketinggalan dan tidak mau mengejar ketertinggalan.. selain dengan siswa, juga dengan sesama guru alias dengan Guru TIK (IT)!
Pemikiran ini ternyata sejalan dengan pendidikan di Korea. Loh? Kok tahu. Ya, sebab dalam dua bulan ini, ada Relawan IT Korea alias Korea IT Volunteer (KIV) yang disebar ke seluruh dunia dan di Indonesia, mereka ke Jawa Barat, Jakarta dan Lampung. Dari mereka, yang juga bermarkas di Bogor, saya mendapati bahwa pendidikan merupakan awal dari kemajuan bangsa mereka. Mereka punya sistem EDUNET yang sudah berjalan dan sekarang, not just Korean Wave semacam K-Pop yang tersebar dan mewabah di dunia, tapi teknologi asal Korea juga. Termasuk kultur mereka.

Ingat LG, Samsung, Hyundai, KIA? Hmmm.. siapa yang tak kenal. Industri itu didorong oleh Pendidikan yang modern. Dari pemaparan mengenai “Pendidikan di Korea” ternyata, pemanfaatan IT sangat-sangat diandalkan. Jadi tidak seperti di Indonesia yang mengandalkan Lab komputer dan bergantian menggunakannya, mereka memakai gadget dan laptop serta tablet untuk belajar! Penggunaan E-Learning sudah sampai membroadcast video-video belajar dari guru dan penggunaan kolaborasi internet dan aplikasi pembelajaran online. Masuk akal, karena konten pembelajaran itulah yang membuat kita maju. Bukan menggunakan internet sekedar berfacebook dan ngetwit, tapi dimanfaatkan untuk berbagai aplikasi-aplikasi pendidikan yang mobile, sehingga siswa disana bisa belajar kapan saja, dimana saja!
Kata salah seorang teman, kalau ada joke orang sunda dilepas dikebon bisa survive (karena hobi makan sayur dan sambal hehehe..) maka orang korea di lepas bisa survive asal ada WIFI. Yup, laggi-lagi terbukti, ketika ngobrol dengan berbagai mahasiswa Korea yang tergabung dalam KIV ini, saya mendapati mereka sudah well prepared untuk ke Indonesia, dengan berbagai aplikasi yang ditanam di notebook dan terutama gadget mereka misalnya kamus terjemahan, e-book, pun grups Facebook untuk mereka berbagi cerita di negeri orang. Jadi sebenarnya simpel, Anda tidak harus di bidang IT, kuliah IT dan belajar IT! (Seperti pelajaran TIK di sekolah), namun yang penting adalah bagaimana memanfaatkan IT itu untuk belajar! Beda loh maknanya hehe.. ini yang saya serap dari Korea.
Indonesia Bisa Seperti Mereka
Inspirasi inilah yang membuat saya semakin yakin, jika pendidikan berbasis IT harus menjadi prioritas bangsa ini. Aktivitas saya sebagai pendidik pun menjadi vital. Apa sebab, karena minimnya sosialisasi dan diseminasi benih-benih pola pendidikan berkarakter dan berbasis IT di sekolah-sekolah di Indonesia (biasanya masih mengandalkan Lab Komputer) maka banyak orang-orang yang perlu segera secara sukarela memberikan informasi ke sekolah-sekolah. Agar mereka paham bahwa tidak bisa, dan sebenarnya percuma melarang anak siswa memakai hape, menggunakan gadget, tapi seharusnya penggunaannya yang dibatasi hanya untuk kegiatan pendidikan!




Nah, sebagai Pendidik, kita tak terbatas untuk mengajar di kelas mana, ruang mana, tingkat pendidikan apa, siapa yang diajar.. bebas saja, dengan tujuan diseminasi pengetahuan… yang menjadi garis bawah adalah penting dan pentingnya mengajarkan “melek IT” dan “memanfaatkan IT untuk belajar” bagi semua orang di negeri ini.. agar menjadi bangsa yang maju dan berdiri sejajar denganbangsa lain.
Hal yang terjadi, saya dan teman-teman Korea pun mengajar kelas-kelas berbeda. Mulai SMP, SMA/SMK hingga Mahasiswa D1… juga Guru-guru NON TIK. Alias guru-guru yang tidak “melek IT”. Ini penting, sebab pemanfaatan TIK di Sekolah (pendidikan) harus SESUAI dengan peruntukannya.. bukan anak-anak disuruh semata-mata belajar IT (TIK) tapi juga semua elemen memanfaatkan IT. Menurut salah satu pakar dan penasehat kami, Relawan, ini dia contoh kesalahan bangsa ini :

Jadi, penting sekali adanya relawan pendidik di negeri ini. Saya berandai-andai, apabila Sampoerna School of Education (SSE) ini sudah ada dari dulu, mungkin tak berpikir dua kali, saya langsung ikut belajar disini, karena saya yakin ini lah yang dibutuhkan bangsa. Banyaknya pengajar, pendidik dan masyarakat yang sadar pentingnya pendidikan untuk masa depan anak-anaknya.
Menjadi pendidik bisa diperoleh secara formal misalnya Sekolah pendidikan seperti SSE atau STKIP dan jurusan pendidikan di universitas. Namun, bisa juga seperti saya, yang penting, yakin, punya mimpi dan cita-cita, dan dimanapun Anda berada, bisa menjadi pendidik. Apalagi peer kita besar, mendidik semua elemen dan semua tingkat. Mulai dari formal di sekolah, hingga non formal di masyarakat, bahkan ibu-ibu komplek pun kita bisa ajarkan bagaimana menggunakan Facebook dengan baik dan aman kan?
Saya sendiri membuktikan, dapat secara langsung mendidik masyarakat melalui kegiatan relawan (voluntary) dan kebetulan, tema pendidikan yang saya sampaikan ke masyarakat adalah tema yang sangat relevan, sangat urgent dan membutuhkan keahlian dan kesungguh-sungguhan, yaitu bidang IT..
Karena itu, saya mengajar kita semua untuk bercita-cita mendidik negeri ini. Bisa saja Anda nanti tidak diberikan kesempatan untuk mendidik secara luas, namun diberikan kesempatan yang juga cukup mulia, mendidik anak-anak sendiri untuk menjadi cerdas, pintar, maju dan berkarakter, karena apa yang dilakukan Korea bukan ujug-ujug juga, tapi sudah ada grand design yang berkolaborasi bersama pemerintah, swasta dan masyarakat itu sendiri yang sadar arti penting pendidikan!

Di Dunia yang berubah (changing world) ini, IT adalah faktor yang sangat vital. Pendidikan adalah faktor lebih vital. Dan pendidikan IT adalah sintesa bagaimana suatu bangsa berubah menjadi adidaya. Dalam dunia yang berubah ini, peran Edukator (pendidik) sangat dibutuhkan. Dan itu adalah kita semua. Anda, kamu, kita.
Peran kita semua sebagai Edukator, Fasilitator, Volunteer, semua demi pendidikan bangsa dan generasi muda penerus bangsa. Ini penting, sepenting nama besar “bangsa Indonesia” itu sendiri yang berkibar karena intelektualitas para pendiri bangsa menuntut ilmu setinggi mungkin dan mampu membuahkan kemerdekaan!
PS : Berapa kata “penting” yang saya tulis? Nah, itu melambangkan bahwa memang Penting dan Penting! Menjadi Relawan pendidik IT di negeri ini!

pendidikan berbasis IT memang tampak masih jadi kebutuhan tertier bagi siswa di desa-desa. padahal sebenarnya IT bukan lagi sebuah pilihan melainkan keharusan. semoga fajar perubahan di dunia pendidikan Indonesia segera menyingsing 🙂