Gejak gejuk gejak gejuk, kereta melaju…
Itu penggalan lagu dangdut populer berjudul kereta malam yang terngiang-ngiang ditelinga. Apalagi kalau bukan karena saya, malam itu 15 September 2016, sedang berada di kereta malam menuju Festival Teknologi Informasi dan Komunikasi (Festik) 2016 di Graha Pustaka, Yogyakarta 16-17 September 2016. Tema kali ini CANDORI bacanya “kenduri” atau “Can do RI”. Itu PERNYATAAN, sekaligus PERTANYAAN.



Menginap di Hotel Wijaya, selemparan batu dari venue acara, saya punya banyak waktu berinteraksi dengan teman-teman yang hadir dari sekitar 29 provinsi se Indonesia. This will be awesome. Mulai dari yang hanya satu orang dengan segala dana upaya sendiri, hingga serombongan naik bis dari desa-desa nun jauh di pelosok jawa.


Desa? Ya, saya berharap, DESA yang saat ini adalah desa yang melek IT, yang memanfaatkan IT dan bisa produktif dengan IT sehingga ekonomi mereka meningkat. Disitulah peran Relawan TIK, si penyelenggara FESTIK ini bersama dengan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kominfo menjadi akselerator, pendorong, sekaligus pelaku.
Esoknya, lebih banyak yang kami ketahui, dapatkan dan pada akhirnya, untuk menambah GAS dalam edukasi literasi TIK ke masyarakat. Tentu, dengan beragam acara yang menambah pengetahuan dan skill berupa seminar dan workshop terkait IT dan pengaplikasiannya di masyarakat.


Apalagi, pembukaan FESTIK ini dihadiri oleh banyak undangan termasuk beberapa bupati, staf ahli menteri, pejabat kementerian dan pejabat daerah, juga Wakil Gubernur Jogja, Sultan Paku Alam yang menunjukkan dukungan banyak pihak untuk pengembangan TIK di tanah air dan peran relawan sebagai penggeraknya.

Ada banyak kegiatan dalam dua hari ini. Selain Festival, juga ada Musyarawah Nasional (Munas) Relawan TIK yang menentukan langkah relawan dalam empat tahun kedepan. Selain itu, belasan workshop dan seminar mengenai penggunaan TIK, baik untuk guru, UKM, masyarakat umum, dan pengembangan kepribadian terkait penggunaan sosial media, internet dan sejenisnya.
Hari itu pula, saya memahami, kalau kita ngga perlu bertanya APA. Sebagai relawan, kita hanya perlu bertanya MENGAPA kepada diri sendiri, untuk apa, dan kemudian bertanya BAGAIMANA menjalankannya. Ini yang akan saya tuliskan, karena ini merupakan hal baru bagi saya, juga mungkin para pembaca, dan kalian relawan TIK diluar sana.
Jangan Tanya APA. Itu kata pengalaman dua hari ini.
Hal ini terkait dengan Revolusi Mental, misalnya. Sesi dari Mohamad Sobary, budayawan yang membuka mata kami mengapa kami tak perlu nanya-nanya apa itu revolusi mental. Jalankan saja sesuai yang dimampu, mengubah diri dan masyarakat dengan pengetahuan dan ketrampilan yang dipunyai.

Lalu, ada Jogpass saya lihat. Ini hasil karya kolaborasi untuk kota Yogya dari para pegiat TIK, teman-teman semua. Sistem yang seperti busway bai de way ani way di Jakarta ini tak kalah apik dengan Trans Jakarta yang sudah keren, trutama beberapa bulan belakangan ini.
Ada lagi, ada lagi. Festik kan judulnya KENDURI atau CAN DO RI. Tau artinya? Apa itu? Ngga usah ditanya. Artinya beda-beda. Kalau ditanya barangnya, juga berbeda. Kenduri bisa kawinan, hajatan, cerita-cerita apapun. Itu Indonesia banget kok. Beda-beda juga implementasi di berbagai wilayah dan suku di nusantara.
Lalu, Can do RI. Apa yang bisa kamu lakukan untuk Republik Indonesia? Bukan apa itu candori. Just do it, after asking yourself out.
So, benar, mau revolusi mental, mau candori, mau relawan TIK, ngga usah tanya APA. Bagi Relawan TIK, kamu kerjakan saja yang kamu bisa. Terkait tujuan dan visi dari Relawan TIK itu sendiri. Kalau sudah melenceng, akan ada yang rela meluruskan kamu! Catat!

Merdeka dengan Relawan TIK, semoga TIK Indonesia dapat mengejar KEMAJUAN dari negara lain. Bukan mengejar KETERTINGGALAN, karena ketertinggalan itu bekas nya orang yang maju, kok dikejar, kata Bang Sobary!