Entah kenapa, di televisi lokal, beberapa pekan ini, sering sekali kita lihat iklan-iklan layanan masyarakat oleh Pemerintah dan lembaga-lembaganya. Kalau di awal-awal dulu, iklan Kemendiknas dengan “sekolah gratis” dan “BOS (Bantuan Operasional Sekolah)” nya, kali ini lebih beragam.
Tercatat, Mahkamah Konstitusi dengan tema iklan orang berantem di ring tinju, Kementrian Kehutanan dengan tema wayang dimana ‘gunungan’ nya bolong akibat pembalakan liar (penebangan hutan sembarangan), Komisi Penanggulangan Aids (KPA) dengan menampilkan perempuan ibu muda yang sedih anaknya terkena Aids, juga beberapa iklan lain misalnya Beberapa versi iklan untuk mencintai “produk Indonesia” oleh Kementerian Perdagangan. Termasuk juga Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo). Lembaga-lembaga non kementerian juga banyak. Jasa Raharja, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) adalah salah satunya. Dari semua itu, yang paling panjang adalah iklan berupa sebuah “update” bertema teknologi oleh Kementrian Riset dan Teknologi (Kemristek) dengan durasi kira-kira 15 menit. Berita “update” mengenai Cimahi Open Source (I Like it!!) dan Ristek di IndoDefence 2010.
Panjang iklan juga bervariasi, antara 5 detik hingga 15 detik. Lembaga-lembaga dan kementrian (dulu departemen) seakan berlomba-lomba untuk beriklan. Juga, ehm, sepertinya, berlomba-lomba juga para menteri muncul di Iklan hehe. Dulu memang bukannya tak ada. Pernah, iklan-iklan ala Mbak Tutut dengan kampanye Aku Cinta Rupiahnya ketika krismon (krisis moneter) yang akhirnya berujung kejatuhan sang babeh.
Masalah tokoh pemerintahan yang muncul sebagai “bintang iklan” mungkin bisa banyak analisanya. Ada yang bilang, agar ngetop, biar dibilang sukses dan “merakyat” dan bisa dipertimbangkan lagi di tahun-tahun ke depan untuk rekam jejak. Juga pendapat yang melihat, pola penayangan iklan ini yang dilakukan di akhir tahun (menghabiskan anggaran?) dan didekat-dekat dengan isu reshuffle (agar dibilang sukses dan diketahui rakyat sehingga SBY tdk bisa ‘seenaknya’ menggusur jabatan). Wajar memang.
Ada juga yang mencibir, iklan ini sekedar menghabiskan anggaran, sebab efektivitasnya dinilai kurang dan tidak bernilai bisnis. Buat apa coba, akhir tahun jor-joran iklan telvisi? Juga, ada yang mengambil sudut pandang budaya, dan sosiologis, kebiasaan patron-klien dan ABS (Asal Bapak Senang) era Soeharto, dengan menunjukkan bahwa si A atau si B si bintang iklan yang juga tokoh politisi-birokrat, adalah sang bapak (atau ibu) yang menjadi junjungan, pimpinan, panutan.
Juga menegaskan dengan bahasa komunikasi bahwa yang bersangkutan adalah orang yang berdedikasi di lembaganya. Untuk rakyat. Bahkan, Pak Tifatul, Menkominfo, selebritis twitter yang sering diplesetkan menjadi Twitfatul, Om Tiffy atau Tif Semriwing ikut muncul di layar kaca. Tokoh-tokoh yang sebagian kita kenal, sebagian tidak ini mengingatkan saya kampanye-kampanye Pemilu dan Pilkada. Penuh PENCITRAAN.
Memang bukan hal yang buruk juga, berusaha sosialisasi program, melalui media televisi. Sebab, televisi memang masih menjadi media konsumsi nomor satu di negeri sinetron ini. Jauh diatas media lain seperti radio, media cetak maupun internet. Belakangan ini, sosial media.
Kampanye penyadaran, dan dengan tema yang berjudul “Iklan Layanan Masyarakat” ini memang diperlukan juga. Tapi plis, jangan lebay. Keseringan, kita -penonton- malah mencibir, ya apalagi kalau bukan masalah ANGGARAN iklan. Apalagi kok, di akhir tahun ini ramai sekali. Jangan-jangan memang pola menghabiskan anggaran yang selama ini “dianut” oleh instansi pemerintahan yang dilakukan. Daripada ‘kembali ke Pusat’ lebih baik dibagi-bagi dan habis.
Lalu, jika memang perlu fair, tentu KPI (Key Performance Indicator) nya apa sih itu iklan. Sekedar kegiatan Public Relations (PR)? Tentu perlu juga dikelola dengan baik. Bukan sekedar hamburkan uang terus outputnya kurang jelas. Apalagi jika dibenturkan dengan masalah sosialisasi yang lebih “lapangan” dan “langsung” alias program-program riil dan berdampak langsung di masyarakat, bukan sekedar iklan.
Anda tentu masih ingat iklan Sekolah Gratis dengan mengambil set ala “laskar pelangi” yang akhirnya justru bumerang. Sebab kenyataan tak seperti yang didengungkan. Mudah-mudahan iklan-iklan televisi (TVC) ini selain dibuat professional, juga bukan hanya untuk pencitraan, tapi memang di lapangan, itulah kenyataan.
Repot juga ya pemerintah, berbuat itu dicibir habis-habisan, berbuat ini juga dihujat hancur-hancuran…. 😐
Jadi pengayom masyarakat memang harus tahan banting…. 🙂
Berjuang terus! ^__^
Berbaik sangka saja
makin lama makin baik
makin lama makin dewasa 😀
Selamat Tahun Baru 1432 H
amin.. dan mudah2an anggaran sosialisasi via ATL (Above the Line) melalui TVC, juga BTL (Below The Line) alias langsung juga ke masyarakat..
BOS = Bantuan Operasional Sekolah Pak..bukan Biaya 🙂
oke.. edited.
ada satu lagi iklannya… (baru2 ini) yaitu apel krowak, hahaha
hmm iya juga, yang penting pesannya sampai. Mungkin gaya bahasa birokrasi dalam iklan perlu ditinggalkan. Model jaja mihardja itu pesannya sampai hehe..
Nah, beberapa iklan –pemerintah–yang tanpa pejabat sepertinya lebih enak dilihat bukan? Hehehe..
saya sih menilai bahwa pemerintah juga perlu diberikan porsi yang wajar utk mengiklankan kebijakannya. boros anggaran? gak juga, iklan-iklan pemerintah itu masih lebih murah biayanya, lihat aja kualitasnya. yang penting pesan dengan bahasa kerakyatannya sampai. tapi saya juga bingung, apa relevansinya ya kalo sang menteri turut jadi bintang iklan =))
Nah.. itu baru betul! Ngga perlu artisnya diganti orang pemerintah hehe.. saya juga suka itu iklan, lucu dan mengena!
Jasa Rahardja jadi Jaja Mihardja hehe
hehe cuma iklan. karena sudah dianggarkan, jadi harus dibuat.
tapi dari semua iklan yg ada, yg aku suka adalah iklan yg dibintangi JAJA MIHARDJA :D, kocak aja :p