Peringatan Sumpah Pemuda yang ke-83 menjadi istimewa, karena bertepatan dengan perhelatan “Kopdar 1000 Blogger Nusantara” di Sidoarjo, Jawa Timur, 28-30 Oktober 2011. Lengkap dengan narasumber internasional seperti Penn-Olson, situs pewarta warga (citizen journalism) asal Singapura dan Google South East Asia. Tepat ketika para blogger (penggiat blog) se-Indonesia mengernyitkan dahi, mengapa di Area Lumpur?
Sidoarjo memang lebih dikenal oleh lumpurnya. ‘Kecelakaan’ yang melibatkan perusahaan besar Lapindo Brantas –yang tak perlu dibahas lagi ikhwal mulanya, kecuali gambaran rumah-rumah terendam lumpur hingga atap. Apa sebab, karena adanya peran media arus-utama (mainstream) yang mendominasi informasi yang bahkan, penggiat blog (blogger) dan pewarta warga (citizen journalist) bisa terkecoh, larut dalam suasana kebatinan yang sarat kepedihan, jika tak melihat sendiri situasi dan bagaimana rakyat Sidoarjo bangkit dan menghadapi semuanya. Pun bisa terkecoh, dengan adanya media arus-utama yang lebih suka istilah “Lumpur Sidoarjo” alih-alih ke sumber masalah, “Lumpur Lapindo”.
Dalam sambutannya pada pembukaan acara ini di Convention Hall, The Sun City, Sidoarjo, Wakil Bupati menyatakan bahwa Sidoarjo tak sama dengan lumpur, dan Anda tak mendapati keadaan sulit berjalan-jalan karena seluruh kota/kabupaten terendam. Sesuatu yang dikhawatirkan para blogger peserta, baik secara bercanda maupun secara serius, dalam arti sudah tertanam pada pikiran kita semua –akibat media arus-utama, bagaimana lumpur seperti ‘menerjang’ Sidoarjo sebagai air bah ala Tsunami. Apalagi konsep perbedaan wilayah secara adminsitratif adanya Kota Sidoarjo dan Kabupaten Sidoarjo yang secara umum belum diketahui oleh masyarakat, sehingga Sidoarjo, wholefully, identik dengan lumpur panas.
Noam Chomsky (1997) dalam “Whats Make Media Mainstream” menyebutkan adanya dua hal dalam media arus-utama, yaitu ada Propaganda –kata yang pertamakali digunakan “netral” pada Perang Dunia pertama, sebagai istilah melakukan/menyebarkan Informasi. Kedua, adanya Kehumasan alias Public Relations yang menyebabkan media menjadi “mainstream”. Dengan demikian, dia disebarkan melalui saluran distribusi terbesar dan (informasi itu) sampai pada masyarakat dengan proporsi yang terbesar. Media arus utama ini lazimnya kita kenal dengan televisi, radio serta koran dan majalah baik cetak maupun digital (situs internet). Disanalah istilah “Lumpur Sidoarjo” terbangun, menafikan akar-masalah, “Lumpur Lapindo” sebagai permainan kata di dunia media arus-utama atas kepentingan pencitraan.
Hal berbeda dengan penyebaran informasi model pewarta warga. Sifatnya yang personal dan skupnya yang kecil membuat ia seakan terpinggirkan dan kadang tidak menjadi rujukan utama. Padahal, dalam berbagai kesempatan, informasi via microblogging twitter misalnya, merupakan informasi yang ditunggu-tunggu oleh para jurnalis media arus-utama. Mereka ada di-linimasa twitter dan menunggu spread-out berita dan breaking news dari jemari orang biasa, yang akan ditindaklanjut dan justru menjadi rujukan awal (source of journalism) dikarenakan fungsinya yang real-time sehingga menjadi ‘pewarta utama’ atas sebuah kejadian.
Menurut seorang jurnalis lepas, Mark Glaser (2006), ide dasar dari konsep pewarta warga adalah orang-orang yang tanpa pelatihan jurnalistik profesional dapat menggunakan berbagai alat teknologi moderen untuk melaporkan dan menyebarkannya secara global di Internet. Ini bisa melalui sarana Blog pribadi, akun twitter, akun facebook dan jejaring sosial lainnya, serta di berbagai forum di Internet dan video berbagi seperti Youtube dan Slideshare untuk berbagi tulisan.
Disini terlihat betapa blogger, sebagai penggiat blog sekaligus sebagai pewarta warga sangat diperlukan untuk mengimbangi media arus-utama dalam pemberitaan. Akan dan harus menjadi penyeimbang dan atau pelengkap yang “bersama satu tujuan” dengan jurnalis media arus-utama, sebagaimana Dan Gilmore dalam buku “We the Media : Grasroots Journalism By The People, For The People” (2004).
Jalan menuju kesana tak terlampau jauh, sebab keterlibatan pewarta media arus-utama dalam komunikasi dan komunitas di dunia internet dan media sosial sebagai pribadi/personal, menjadi salah satu cara untuk berkolaborasi. Kita pun sudah jamak menemui “wartawan” sekaligus “blogger” dengan interaksi yang cukup intens dalam menyebarkan dan mendapatkan informasi.
Akibat kolaborasi cair antar identitas dalam dunia maya ini, para blogger yang juga penikmat media arus-utama, menuliskan ikhwal lumpur dengan konteks personal dengan ‘keberpihakan’ kepada korban lumpur. Namun tetap merasa terkejut (atau terkecoh) ketika mengetahui kalau Sidoarjo ternyata tak terendam lumpur total. ‘Hanya’ beberapa kecamatan di luar Kota (Kabupaten, sebelah selatan sekitar 12 km) sekian persen dari Sidoarjo. Walaupun secara statistik, lumpur ini meliputi 16 desa di 3 kecamatan dan terhitung lebih dari sepuluh ribu rumah direndam lumpur. Ini hal yang luput dari kegiatan pewarta, sehingga menjadi efek yang kurang baik bagi iklim investasi di Sidoarjo.
Ajang ‘Kopdar’ di Sidoarjo ini juga bentuk kejelian dan ide brilian Blogger ‘daerah’ untuk memberikan informasi dan edukasi, dus propaganda (dalam arti netral sebagaimana ditulis diatas) untuk blogger se-indonesia mewartakan kisah jujur mengenai kondisi lumpur dan kondisi Sidoarjo yang pasti berpengaruh kepada konsep pariwisata dan iklim investasi daerah ini. Misalnya pandangan mata dampak bencana lumpur ribuan warga dirumahkan akibat pabrik terendam, lahan pertanian dan kantor pemerintahan, sekolah dan rumah ibadah rusak dan pindah, belum lagi dampak lingkungan.
Sekaligus memberitakan hal positif semisal pembangunan yang terus berkelanjutan, usaha-usaha yang mulai dirintis, dan kebutuhan investasi strategis lainnya agar Sidoarjo tak larut dalam duka. Toh, bencana ini hanya sekian persen dari potensi Sidoarjo yang perlu lebih difokuskan. Better light the candle than cursing the darkness. Selain, para peserta menikmati acara dan melakukan kontemplasi mengenai makna Hari Sumpah Pemuda. Merenungkan “Sidoarjo” sebagai inspirasi penulisan dan simbol perlawanan terhadap arogansi korporasi dan kekuasaan yang luput dari perhatian. Juga geliat kebangkitan ekonomi dan pariwisata (termasuk pariwisata lumpur) yang luput dari pemberitaan.
Komunitas blogger dari ujung barat sampai ujung timur Indonesia hadir, mega-partisipan kurang lebih 1200 peserta, meneriakkan dan meredefinisikan bahwa Hari Sumpah Pemuda memiliki makna, dengan pemuda menulis akan menjadi inspirasi perubahan. Tak hanya tampil budaya lisan kritik, tapi budaya tulisan kritis! Atau, kombinasi lainnya, melakukan perubahan kemudian menuliskannya. Hal ini sesuai dengan kalimat dari Benjamin Franklin, “Either write something worth reading or do something worth writing”. Jadi, saya rasa, 1200 pewarta (blogger) ini segera akan menulis sesuatu tentang Sidoarjo, dan itu tak akan berisi “Saya berada di Sidoarjo, daerah lumpur.”
ps : tulisan dengan gaya bahasa semi formal ini dimaksudkan untuk dikirim ke media cetak nasional dalam rangka memperingati hari sumpah pemuda. Namun karena kelalaian penulis, maka tulisan ini tak sempat terkirim, jadi pembaca bisa menikmatinya di blog ini 🙂
lapindo itu tidak sesederhana luas wilayah kabupaten Sidoarjo. Secara wilayah, bolehlah area lapindo gak ada seujung kukunya Sidoarjo. Tapi ini soal hajat hidup orang banyak, soal musibah, soal kelalaian beberapa pihak…tak bisalah diukur dengan luas wilayah….
@hariesaja : ya betul. Tapi sudah 5 tahun diekspose. Udah ranahnya media mainstream. Skrg mereka mau bangkit, tapi ketutup berita lumpurnya, bukan berita positif lainnya. Harus berimbang. Skrg saatnya memberitakan hal positif, tak hanya melulu negatif.
Saya rasa, betul, masy Sidoarjo tetap butuh solusi lumpur ini, dan on progress dikawal banyak teman LSM dan masyarakat, tapi mereka juga butuh pembangunan, dan itu didapat dari investasi, pembangunan baik fisik maupun nonfisik, bukan relokasi masyarakat saja.
tetep lebih ajaib daripada komodo 🙂