Tiba-tiba sebuah sms masuk. Dari mas Edi Susilo, kandidat doktor agama, teman satu tim di kelompok 10 Pulau Karas. Isinya menggelitik dan membuat tersenyum. Diterima menjelang siang, pukul 11.00 WIB, Mas Edi menulis, “untuk kelompok 10, makan siang di mba ochie ya silakan diambil hehe…”
Seketika diriku tersenyum. Mengingat kembali dua pekan pengayaan alias program kepemimpinan yang diselenggarakan oleh LPDP selaku pemberi beasiswa yang kini bernama resmi Beasiswa Pendidikan Indonesia ini.
Ya, awalnya memang berat, bahkan banyak dari kami yang pastinya menggerutu, kalau mau beri beasiswa ya sudah berikan saja. Setelah itu selesai. Tak perlu pakai acara dua pekan karantina segala.
Namun beasiswa LPDP ini bukan sembarang beasiswa. Ini duit negara yang dikelola oleh LPDP di rekening sendiri, dan bertujuan menjadi beasiswa untuk anak bangsa dengan alumni yang banyak yang kelak menjadi pemimpin negeri ini. Pulang membangun. Untuk itu butuh saling kompak, saling kenal dan juga meningkatkan jiwa sosial dan cinta tanah air. Itulah mengapa Kemenkeu mesti buat pengayaan ini. Agar mental tersebut ada, dan pilar integritas, nasionalisme dan kontribusi ke negara itu ada dan dipelihara, sekaligus SDM nya dikelola.
Akhir kata, program ini sangat bagus, dan akan menjadi program yang Insya Allah melahirkan banyak alumni intelektual yang segera kembali ke Indonesia, atau kembali ke daerah asal, untuk membangun negara ini, menjadi pemimpin di bidang masing-masing.
Lalu, setelah satu hari berlalu dari penutupan dan penandatangan kontrak beasiswa di Gedung Kementerian Keuangan, semua kembali ke aktivitas. Persiapan masuk universitas. Untuk yang dalam negeri, sepertinya Senin, 2 September perkuliahan di mulai, dan untuk yang LN juga sama.
Hari ini, satu hari setelah selesai PK4 (Program Kepemimpinan Batch 4) di Resort Panjang Jiwo Sentul, Pusat Pelatihan RINDAM JAYA TNI AD, dan outbond dan camping di Hambalang dan Air terjun bidadari, saya dan beberapa teman pagi ini bertemu di kampus IPB, upacara dies natalis.
Esok, kami kuliah, dan hmmm.. apa yang terjadi selanjutnya, kenangan PK4 tak akan dilupa, dan kekompakan batch 4 yang “sersan alias serius tapi santai” dan kelompok 10 yang kompak dan tak perlu pengakuan kekompakan karena hanya perlu kami sendiri yang mengakuinya .
Salam kompak dan markipul, mari kita pulang!
salam.mba,apa selama program LPDP kita diperbolehkan berkomunikasi via hp dengan keluarga?
boleh banget 🙂 boleh ajak keluarga juga asal bayar kamar sendiri. Misalnya bawa bayi n keluarga jadi tdk bs ditinggal. 🙂 yang penting komunikasikan ke pihak panitia 🙂