Beberapa hari ini muncul infografis mengenai hasil survey dari Indobarometer mengenai Kepuasan Publik terhadap kinerja menter-menteri di kabinet kerja Joko Widodo – Jusuf Kalla. Salah satu berita ada disini dengan tajuk “Mayoritas Publik tak Puas dengan Menteri Jokowi”
Saya termasuk surprise dengan infografis yang menunjukkan angka-angka merah dan tanda minus. Misalnya, Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastusi – 77.9 persen wow. Dan beberapa menteri lain gambarnya muncul, sedangkan list dibawahnya menunjukan minus menteri-menteri yang lain juga sama.
Info ini lumayan membuat pembaca (yang tak jeli), terperangah. Selain memakai warna merah, sebagaimana “rapor merah”, juga notasi minus di depannya.
Beberapa waktu kemudian, saya mendapat pula info lain, dengan survey yang sama. Yang ini tak memakai angka dengan warna merah dan minus. Namun menunjukkan bahwa “masih ada” menteri yang dianggap berkinerja baik. Salah satunya, misalnya, Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastusi sebesar 77.9 persen.
Sama data, rasa beda.
Karena pembaca berita pertama (yang minus) mendapatkan bahan bakar untuk share “buruknya” pemerintahan. Sedangkan pembaca berita (status) kedua, akan mendapatkan kelegaan dengan berdirinya para menteri yang prominent dengan kinerja yang masih dapat diandalkan.
Dari data Indobarometer ini pula, bayangkan, Anda melihat -77,9 persen akan merasa kaget dan ini terburuk. Apalagi jika Anda penentang gaya koboi si Ibu Susi. Bayangkan pula, dengan membaca kinerja 77,9 persen, Anda yang menyukai gaya slonong boy (woman) ibu Susi akan merasa pilihan Anda tepat dan Ibu Susi memang keren. Begitu pula dengan menteri-menteri lain.


Jadi, tergantung mana yang akan kita hilight dan kita bold. Lalu, yang mana pula yang akan kita share di media sosial?
Tentu bagi saya, ini menarik. Karena setiap jamaah fesbukiya yang melakukan like dan share akan pula tunjukkan (secara umum yaa) dimana posisi mereka. Pro Pemerintahan atau Kontra Pemerintahan. Bahkan, ada dari bahagian itu yang secara ekstrim disebut haters vs fansboy.

Fenomena ini sebenarnya bukan barang baru. Malah cenderung dimanfaatkan oleh berbagai kepentingan. Saya teringat buku legendaris karya Huff, How To Lie With Statistics. Bisa kamu download full disini. Disitulah pertama kali saya mengenal bagaimana statistik dapat sedemikian rupa ditampilkan sesuai keinginan. Dan semua secara metode ilmiah sebenarnya bisa dipertanggungjawabkan. Berbohong, dalam arti bagaimana menyajikan laporan sesuai dengan keinginan sehingga ada yang diuntungkan. Misal, penyandang dana penelitian.
Demi menjunjung tinggi academic stand point dan juga merepresentasikan kekritisan tanpa terjebak, saya share tulisan ini aja yang sudah saya bekali dengan gambar seadanya yang menggambarkan kedua informasi diatas. Dan saya cukup senyum saja, bahwa inilah realita media. Kita sebagai pengguna perlu membaca dengan tepat dan tak serta merta kegirangan maupun tersinggung! karena semua data sama!
Selamat mencerna semua berita dan informasi di dunia sosial media dan jejaring sosial, you are what you share #eh
Salam netizen!