Imunisasi dalam Sorotan
Sebenarnya sudah lama saya tak mendengar kabar mengenai Imunisasi. Jangankan kabar, mendengar kata imunisasi sendiri kebayang jaman SD yang disuntik di lengan. Hmm.. pengalaman yang nggak mengenakkan deh. Hihi.. Padahal perlu dibedakan Vaksinasi dengan Imunisasi loh. Imunisasi adalah pemindahan atau transfer antibodi (daya tahan tubuh) secara pasif. Antibodi diperoleh dari komponen plasma donor yang sudah sembuh dari penyakit tertentu. Sedangkan Vaksinasi adalah pemberian vaksi (antigen dari virus/bakteri) yang dapat merangsang imunitas (antibodi) dari sistem imun di dalam tubuh. Jadi semacam memberi “infeksi ringan”. [Pedoman Imunisasi di Indonesia hal. 7, cetakan ketiga, 2008, penerbit Depkes].
Secara umum, Imunisasi dan Vaksinasi biasanya dianggap sama, jadi ya saya juga pada tulisan ini menggunakan hal yang umum saja. Imunisasi biasanya dilakukan pada waktu balita, sedangkan pada waktu dewasa, Imunisasi bisa by request untuk kegunaan tertentu. Vaksinasi dilakukan kapan saja ketika dibutuhkan. Misalnya untuk jamaah haji yang divaksin Meningitis untuk mencegah penularan Meningitis Meningokokus antar jamaah haji yang sudah dilaksanakan oleh Pemerintah Arab Saudi sejak tahun 2002.
Tapi baru-baru ini, membaca kalimat Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Badriul Hegar di Koran Tempo, 19 Juli 2012 kemarin saya ikut-ikutan “marah”. Apa sebab, karena ternyata di Indonesia, banyak sekali anak Indonesia yang meninggal karena penyakit yang seharusnya bisa dicegah, dan dengan mudah dan murah pula yaitu Imunisasi. Adanya 530 anak di Jawab Timur terserang Difteri dan 24 diantaranya meninggal merupakan tamparan keras bagi kita dalam program Imunisasi.

Sorotan mengenai Imunisasi saat ini terjadi karena beberapa sebab, antara lain seperti disinggung di atas, yaitu adanya wabah Difteri di Jawa Timur yang membuat pemerintah “terpaksa” menganggarkan Rp 20 milyar untuk menanggulanginya. Informasi dari Dr. Andi Muhadir, MPH selaku Direktur Surveilens, Imunisasi, Karantina, dan Kesehatan Matra Kementerian Kesehatan RI menunjukkan kalau Indonesia menghadapi masalah akses di Indonesia Timur, perbatasan dan kepulauan.
Nah, kasus Jawa Timur merupakan “daerah kantong” wabah dimana cakupan secara provinsi imunisasi tinggi, tetapi di tingkat desa rendah. Ini adalah KLB (Kejadian Luar Biasa) sehingga perlu penanganan segera. Jika tidak ditanggulangi, selain efeknya bagi anak bangsa adalah kematian, juga secara internasional merugikan, sebab akan ada travel warning karena negara lain takut warganya tertular penyakit ketika berada di Indonesia.
Imunisasi dan Pro Kontranya
Memang, sepertinya Imunisasi tidak berguna. Karena so what, setelah di Imunisasi, ya seperti apa adanya. Nggak ada efek, malah kadang demam sehabis imunisasi. Bahkan ada yang menyebut-nyebutnya tidak halal. Alamak. Padahal, imunisasi sendiri sebenarnya usaha agar kita kebal. Imun artinya kebal. Dengan cara disuntikkan Vaksin sehingga anak-anak kebal terhadap penyakit seperti Campak, Polio dan sejenisnya. Cukup sekali seumur hidup. Jadi kenapa harus repot, dan ragu, dengan mengorbankan masa depan anak. Imunisasi penting sekali, agar anak Indonesia sehat. Berikut salah satu video kampanye Imunisasi di Indonesia oleh UNICEF :
Imunisasi sebenarnya investasi orang tua kok. Agar anaknya tidak sakit dan kebal dari penyakit tertentu yang dapat mengancam jiwa si buah hati. Contohnya polio dan campak. Tentu tak ada yang mau salah satu anggota keluarganya terkena. Yang artinya perlu dilakukan Imunisasi. Imunisasi ini sendiri ternyata dilaksanakan di ratusan Negara di Dunia dan terbukti efektif dan dilaksanakan pun secara berkelanjutan.


Penyebab lain mengenai heboh Imunisasi ini adalah masalah pro-kontra mengenai apakah Vaksinasi dan Imunisasi ini aman, dan juga “halal”. Hmm.. faktanya Bio Farma selaku perusahaan BUMN yang memproduksi vaksin untuk imunisasi di Indonesia juga mengekspor vaksin buatan mereka ke 120 negara, termasuk 36 negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam seperti Iran dan Mesir. Bio Farma sendiri adalah BUMN yang berlokasi di Jalan Pasteur, Bandung dengan 98,6% karyawannya adalah muslim dan pembuatan vaksin-vaksinnya diawasi ketat oleh ahli-ahli vaksin di BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) dan WHO (World Health Organization).

Pro-kontra imunisasi dan vaksin ini menurut saya sudah tidak diperlukan lagi. Berbagai Majelis Ulama di dunia sendiri mengeluarkan “mubah”, atau ‘makruh” dikarenakan keadaan mendesak, sangat perlu untuk memberantas penyakit dan menggunakan dalil “hukum berobat”. MUI sendiri berdasarkan fatwa MUI bahwa vaksin haram tetapi boleh digunakan jika darurat. Bisa dilihat di berbagai sumber salah satunya cuplikan wawancara antara Hidayatullah dan KH. Ma’ruf Amin selaku Ketua Komisi Fatwa MUI. Sumbernya antara lain disini.
Jadi, selama belum ada alternatif lain, diperbolehkan untuk imunisasi dan vaksinasi. Tentu jika benar ada indikasi “enzim babi”. Seandainya tidak pun, karena saat ini kalau tidak salah sudah ada lagi press release bahwa penggunaan babi adalah di dalam sebagian kecil prosesnya saja, dan untuk vaksin tertentu yaitu vaksin yang pernah bersinggungan dengan tripsin pada proses pengembangan maupun pembuatannya seperti vaksin polio injeksi (IPV) dan meningitis. Ketika panen bibit vaksin tersebut bersinggungan dengan tripsin pankreas babi untuk melepaskan induk vaksin dari persemaiannya kemudian dicuci dan dibersihkan sehingga pada vaksin yang disuntikkan tidak mengandung tripsin babi. Atas dasar itu maka Majelis Ulama Indonesia berpendapat vaksin itu boleh dipakai, selama belum ada penggantinya. Contohnya vaksin meningokokus (meningitis) haji diwajibkan oleh Saudi Arabia bagi semua jemaah haji untuk mencegah radang otak karena meningokokus.
Di Indonesia, adalah Bio Farma, perusahaan legendaris tingkat dunia yang memproduksi vaksi ini. Tak hanya untuk dalam negeri, perusahaan milik negara (BUMN) ini juga menjadi pengekspor vaksin tingkat dunia dan menjadi perusahaan pilihan terbaik dalam hal vaksinasi dan imunisasi. Beruntung Indonesia memiliki BUMN kelas dunia seperti ini, yang memiliki tujuan penting yaitu mencapai MDG (Millenium Development Goal) yang keempat, yaitu menurunkan angka kematian anak. Sungguh mulia dan memang patut kita dukung bersama.
PT. Bio Farma sendiri melalui Bpk Iskandar, Apt MM, Direktur Perencanaan dan pengembangan yang mengatakan bahwa memang betul enzim tripsin babi masih digunakan dalam pembuatan vaksin, khususnya vaksin polio (IPV). Tapi hanya bersinggungan dalam salah satu proses dan yang hanya merupakan unsur turunan dari pankreas babi dan tidak terdeteksi lagi. Sebab Enzim ini mengalami proses pencucian, pemurnian dan penyaringan. Mungkin Analogi berikut yang disampaikan Pak Iskandar bisa masuk akal. Air PAM yang dibuat dari air sungai yang mengandung berbagai macam kotoran dan najis, namun bisa menjadi bersih dan halal setelah diproses. Nah, analogi yang sama tentu bisa dipakai untuk enzim tripsin ini.
Bio Farma ini juga bekerja sangat profesional dan higienis sesuai standard internasional dan diawasi WHO dan BPOM. Jadi menurut saya memang sangat menjunjung tinggi kebersihan. Apalagi, 98% karyawan juga muslim kok! Hehe.. masa sih ngerjain “proyek” nyuntik muslim dengan “najis”.. Dan dalam hal ini, Alhamdulillah saya menyaksikan sendiri dapat berkunjung ke Bio Farma dan melihat proses “pengembangbiakan” vaksin ini. Perusahaan Bio Farma ini membanggakan karena menjadi perusahaan bangsa yang berkualitas internasional.



Jadi, penggunaan Vaksin dan Imunisasi ini mutlak diperlukan. Itulah yang dilakukan salah satunya oleh pemerintah Arab Saudi untuk melindungi jamaah haji dari virus dan penyakit, yaitu Meningitis. Pada musim Haji tahun 2000 lalu, sebanyak 14 orang jamaah haji Indonesia tertular penyakit ini. Enam orang dari 14 penderita meningitis tersebut meninggal di Arab Saudi dengan penyebab kematian Meningitis. Angka tersebut bertambah pada tahun 2001 menjadi 18 penderita dan enam di antaranya meninggal di Arab Saudi. (Republika, Jumat 12 Juni 2009). Selain, itu, juga menjadi kewajiban kita yang mengikuti kebijakan Ulil Amri (pemerintah/penguasa) dalam hal kewajiban Imunisasi untuk setiap warga negara melalui program Imunisasi Nasional.
Nah bagi yang mau info-info lebih lanjut tentang imunisasi, bisa cek Website tentang Infoimunasi, atau langsung aja memfollow akun @infoimunisasi di twitter dan akun Facebook Infoimunisasi yaa… puas-puasin deh tanya-tanya disana biar semua jadi tidak ragu mengenai Imunisasi dan bahwa Imunisasi itu Halal dan diperlukan agar bangsa ini bisa mandiri dan berdikari di masa depan. Jangan mau ketinggalan dari bangsa lain dalam penyerapan teknologi terutama teknologi kesehatan terkini!

Bercerita tentang Imunisasi
Tulisan ini mungkin hanya sedikit dari yang bercerita mengenai Imunisasi. Hanya sekelumit catatan agar kita semua tidak menentang. Imunisasi untuk anak negeri harus didukung dan menjadi prioritas. Dengan generasi yang kebal terhadap penyakit yang membahayakan seperti ini, maka Indonesia bisa menjadi negeri yang memiliki SDM yang sehat, cerdas dan mampu berkarya nyata. Jika dikaitkan dengan keinginan bangsa ini untuk berdiri sejajar dengan bangsa lain di kemudian hari, dan tak hanya menjadi konsumen dan pasar dari produk luar negeri, hmm cocok sekali.
Negeri ini bisa maju dengan Berdikari (Berdiri diatas kaki sendiri). Berusaha dengan segala sumber daya yang ada. Kita akan lebih baik dari Jepang dan Korea yang sumberdaya alamya terbatas namun bisa maju. Juga bisa mengalahkan Cina jika pemberantasan korupsi dan mental korupsi hapus dari anak-anak kita yang akan bisa maju dan bahkan menjadi leader di Asia. Sama halnya dengan Berdikari, anak-anak bebas polio, campak dan secara harfiah, memang benar-benar dapat berdiri dengan tegap dan tegak!


Saya ingat pengalaman waktu disuntik cacar ketika sd. Sampai saat inipun masih ada bekas suntik cacar itu.
Wah ngambil napas gw abis baca ini. Abis postingnya panjang, hehehe…
Tapi tulisan sampeyan keren.
membaca tulisan2 yg pergi ke Bandung, memang ternyata bio farma itu kereeen 🙂