Nasi Imbi Nasi Alo Legenda Brotherhood di Kantin FISIP UI

https://www.unggulcenter.org/nasi-imbi-nasi-alo-legenda-brotherhood-di-kantin-fisip-ui/

Kembali lagi ke Kampus perjuangan ini, berjuang hidup sebagai mahasiswa maksudnya, langsung saya ngibrit ke Kantin FISIP UI. Nama kantinnya TAKOR alias Taman Korea. Ternyata, ada kantin lain disekitar, dan juga kantin fakultas sebelah yang mepet banget ke FISIP. Ya, lama tak kembali ke kampus, inget-nya memang hanya Takor.

Dulu sih, di dalam hutan menuju FISIP dan Psikologi juga ada MAK ATUN yang makanannya buanyak, bisa ambil sendiri dan harganya suka-suka. Kita bilang ini itu, harganya sekian, besok menu sama, harganya beda. Hehe.. Masaknya juga unik, memanfaatkan hutan, pakai kayu bakar. Ini favorit para supir yang ngaso nungguin anak majikan kuliah di FISIP yang katanya tajir-tajir. Tapi udah digusur pihak kampus. Maklum, kabarnya hutan bukan tempat usaha hahaha..

Kantin Takor ketika saya makan, bulan November 2015. Dulu tak seluas ini dan bagian saya duduk ini ngga ada, beberapa tahun kemudian ada tapi masih bawahnya tanah. Skrg sudah full semen dan ada colokan listrik pula untuk buka laptop sambil diskusi.
Kantin Takor ketika saya makan, bulan November 2015.

Dulu Takor ini juga terbilang baru ketika saya masih jadi mahasiswa. Masi sempat makan di kantin lam yang bangunannya apa adanya. Namanya BALSEM alias di Balik Semak. Satu angkatan sama Kantin Sastra KANSAS yang juga berubah jadi KANCUT Kantin Kerucut di Fakultas sebelah. Di Kansas, ada Anjas Mara, Anjing Sastra. Sekarang jadi FIB.  Nah dari BALSEM yang digusur dipindah ke TAKOR, Kios penjual-nya sama, hingga sekarang. Orang-orangnya pun sama, para bapak dan ibu penjual yang layanin. Hanya skarang lebih modern pakai mesin kasir terpadu dan kios-nya rapi dibuatkan kampus yang higienis.

Sekarang sudah luas ni Kantin. Sisi tempat saya duduk ini dulu ngga ada. Dan di bagian tengah, dulu baru beberapa tahun saya lulus dibangun. Dan bawahnya masih tanah. Tempat yang rame di kanan ujung, itulah main area nya Takor. Tempat saya duduk ini lebih tinggi, naik tangga 1x. Ada colokan di tiangnya untuk buka laptop sambil diskusi kuliah. Lumayan lah improvementnya.

Menu sama. Yang favorit, selain Sate Ayam dan Es Buah, adalah olahan Nasi bersama lauk yang disebut Nasi Imbi dan Nasi Alo. Dua Nasi ini legendaris. Murah meriah tapi ngga mencret. Relatif murah untuk bikin perut mahasiswa kere kenyang. Ditambah Es Teh manis di kios yang sama, cukup Rp 3500 dulu, pas saya kuliah. Sekarang, Rp 9000 + Rp 3000 jadi Rp 12.000 dan itu hanya 4 kali lipat saja kenaikannya.  Padahal sudah lima belas tahun lalu saya makan dengan biaya tiga ribu lima ratus.

Nasi Imbi nasinya ya nasi putih biasa. Imbi itu sebenarnya adalah bumbu campur telur oseng dan ada bakso dan sayur daun sawi dan kubis.  Ada suwiran ayam kalau ga salah, tapi ga kerasa lagi kemarin hihi.. Jika kamu beli nasi goreng or mi goreng pinggir jalan, Imbi itu-lah yang ditumis duluan. Baru campur dengan mie atau nasi sehingga jadi nasi goreng dan mi goreng.

Nasi Imbi, menu Nasgor yang nasinya tidak digoreng
Nasi Imbi, menu Nasgor yang nasinya tidak digoreng

Konon, dulu seorang mahasiswa namanya Imbi minta nasinya “dipisah”. Jadi tidak dicampur dan jadi nasgor. Ini lah keluar kata Nasi Imbi. Nasi nya tetap nasi putih. Si bumbu, sayur daun sawi dan kubis serta topping-an bakso (kalau nasgor mungkin bisa tambah sosis, pete, ayam, ati ampela, seafood dan seterusnya).  Harganya lebih murah jadinya.

Nasi Alo, hampir sama. Konon pula, seorang mahasiswa kere lainnya, Alo panggilannya, ngga suka sayur. Jadi tanpa sayur. Nasi Alo lah jadinya. Itu jaman kantin masih di Balsem, dibalik semak. Oya, dulu Takor itu Namanya Yong Ma sumbangan Korea. Ada tamannya Taman Korea, tapi ya ublek ublek taman jadi gitu aja, Takor. Hilang itu Ikan-ikan Koi dan Teater kolam yang megah disebelahnya. Namanya sumbangan hehe.

Minumnya Es teh manis
Minumnya Es teh manis

Singkat kata, ini menu brotherhood kalau saya bilang. Murah dan paham kantong mahasiswa kere miskin dan perantau. Yang empunya brand juga mahasiswa kere, namanya Imbi dan Alo. Sekarang sih, orang mungkin ngga tau sejarahnya, dan tak pula suka dengan nasi ini. Ya, biasa aja sih, tapi enak karena empat sehat plus teh jadi lima sempurna. Daripada makan indomie instant.

Walhasil, kembali ke Takor, saya makan nasi ini, pastinya. Walau sekarang, kadang ngga kenyang karena berat badan yang sudah bapak-bapak perlu nambah menu lain. Sate Ayam biasanya hehe. Selamat bernostalgia dan terimakasih kepada Imbi dan Alo yang jadi menu komplit “sehat” makan siang selama beberapa tahun di kampus tersebut.

About the Author: unggulcenter

Pengelola UC - Review Pengalaman Produk dan Perjalanan

You might like

3 Comments

    1. wakakaka tua detected! hahaha.. gw aja cuman 1 tahunan makan di balsem n kansas dua-tiga taun kemudian kalau ga salah mncul si kancut kantin kerucut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.