Menikmati berbagai keindahan pantai di Sumbawa, salah satunya Pantai Maluk menjadi hal yang menyenangkan. Deburan ombak selain dinikmati langsung dengan telusur pantai dan sedikit berenang di pinggiran, juga bisa dengan menyantap kuliner di warung yang ada di tepi pantai ini.
Salah satu menu andalan yang wajib dipesan adalah Rarit. Yaitu sejenis dendeng sapi yang dimakan dengan sambal cabai merah bercampur garam sehingga rasanya pedas asin. Sekilas, sambal ini mengingatkan saya dengan asinan mangga dan jambu muda yang enak dicocol. Wuih, bikin lidah basah hanya dengan membayangkannya saja.
Bentuk dendeng ini juga tak persegi seperti biasa kita nikmati di warung makan Padang. Namun sudah dicabik-cabik potongan yang agak “scattered” sedemikian rupa sehingga dijumput dengan tangan untuk dimakan. Dan memang, tidak disediakan sendok sebagai default sajian Rarit ini. Jadi cabikan ini-lah yang dicocol ke sambal cabai. Enak sekali. Walau sedianya dimakan sebagai camilan, sepertinya tak haram untuk meminta nasi putih menemani.
Tambahan irisan mentimun melengkapi daging cabik ini. Cocok juga dicocol dengan cabai yang ada. Wah kalau saya ada mangga muda atau jambu air, bakal tambah asyik ya hehe.
Merasakan semilir angin pantai dan berpeluh sedikit dengan pedasnya rarit cocol sambal, pantas kiranya memesan jus dingin. Nah, yang cocok sebagai teman adalah jus buah naga. Buah naga merupakan komoditi yang cocok hidup di alam sumbawa yang kering dan panas. Karena Buah naga ini sejatinya adalah sejenis buah kaktus yang belakangan menjadi unggulan di pulau Sumbawa ini. Terutama ketika adanya Newmont Nusa Tenggara yang membantu pemberdayaan masyarakat melalui kebun Comdev Buah Naganya. Tentang comdev ada disini.

So, jangan hanya bayangkan, jika Anda ke Pantai Maluk, segera pesan Rarit ! Yummmy!


Duh, jadi kangen makanan yang satu ini mas unggul >,< aku kemarin abis banyak lho raritnya~ trus pas pengen nambah lagi udah abis katanya ahahah, kalau mau makan lagi harus balik ke Maluk, jauh banget euy~ 😀