Diabetes dan Pengalaman kami
Diabetes merupakan penyakit yang menjadi ingatan pertama saya terhadap kondisi Ayah saya. Beliau sekarang jari kakinya sebelah kanan tinggal empat. Akibat jempol kaki mengalami pembusukan akibat pendarahan. Ya, diabetes yang diderita beliau menyebabkan setiap luka menjadi keadaan yang mengerikan dan selalu diwaspadai. Belum lagi asupan yang dibatasi sehingga gula sangat diharamkan di menu makanan beliau.
Ayah saya ada di kampung. Sesekali saya menemui beliau, terutama ketika Lebaran dan saya ada rejeki mudik. Beliau yang dulu sehat gemuk, sekarang kurus sekali. Namun, dengan kesabaran dan konsistensi kami sekeluarga merawat, berangsur beliau mulai normal dan tidak sering kesakitan. Aktivitas yang beliau sukai, yaitu berkebun pun tetap bisa dilakukan, dengan kami berikan sendal karet yang menutup jemari hingga mata kaki. Agar tak rentan luka. Sebab, amputasi jempol kaki itu awal mulanya karena beling pecahan kaca di kebun yang menggores kakinya.

Apalagi, gejala diabetes seperti mudah merasa lapar dan haus, kaburnya penglihatan, sering buang air kecil, sering kesemutan pada bagian tangan dan kaki, juga penurunan berat badan menjadi gejala awal yang harus diwaspadai. Jika timbul luka, maka akan sulit disembuhkan, merupakan salah satu tandanya. Itu yang terjadi pada Ayah saya.
Saya sendiri, cukup ketar ketir. Karena katanya ada faktor keturunan. Badan saya juga tidak langsing, cenderung gemuk. Makin membuat saya khawatir. Apalagi, saya kurang olahraga.

Diabetes, Angka dan Fakta
Alhamdulillah, kesempatan Blogger Gathering bersama Sunlife di Plaza Indonesia, Sabtu 1 Oktober 2016 lalu memberikan informasi sangat berharga bagi saya. Untuk merawat orangtua dan juga menjaga diri dari penyakit ini.
Diabetes adalah suatu kondisi dimana kadar gula (glukosa) dalam darah tinggi.
Diabetes merupakan salah satu dari empat prioritas penyakit tidak menular (PTM) yang berbahaya. Ada sepuluh di dalam list yang berbahaya. Diabetes ada di nomer 3. Ada dua tipe diabetes yaitu tipe pertama (1) yang tidak diketahui penyebabnya, dan tidak dapat dicegah, serta membuat si penyandang sangat bergantung pada terapi insulin. Sedangkan tipe kedua (tipe 2) biasanya karena faktor keturunan. Ini biasanya paling banyak terjadi. Bisa mencapai 90% dari seluruh yang terkena diabetes.

Namun, diabetes ternyata bisa dicegah sebelum kena, dilawan ketika ada gejalanya, dan diobati ketika menjadi penderitanya. 80% dari aktivitas cegah ini sukses loh. Jadi, ini bukan masalah pelik, asal Anda cerdik. Nah, cerdik akan saya jelaskan ya dibawah ini.
Sebagai “tuan rumah”, acara dibuka dengan kata sambutan dari ibu Shierly Ge, Head of Marketing dari Sun Life Financial yang menegaskan bahwa kegiatan ini bertujuan sebagai wujud tanggung jawab sosial (CSR) Sun Life Financial Indonesia yang menyangkut tiga hal yaitu Kesehatan, Pendidikan dan Kemanusiaan. Saya salut dengan Sunlife, konsisten sejak lama soal kesehatan masyarakat Indonesia sebagai programnya. Tidak asal ada program saja.



Inti pokok acara ini adalah paparan oleh dua narasumber yang sangat berkompeten di bidangnya. Mereka adalah dr. Lili Sulistyawati, MM Direktur penyakit tidak menular dari Kementerian Kesehatan RI, dan Prof. Sidartawan Soegondo, Spesialis Edokrinologi. Saya tidak membahas satu persatu paparan mereka, karena benang merahnya saya bahas di tulisan ini, yang merupakan hasil rangkuman, interpretasi dan opini saya dari gelaran gathering kemarin itu. Thanks ya Sunlife Financial!


Pengetahuan tentang diabetes dimulai dari angka. Kita mulai dari yang global, yaitu yang dipaparkan oleh oleh narasumber, berdasarkan data Kementerian Kesehatan yang merangkum dari berbagai sumber valid, juga hasil riset sendiri. Ini bukan nakut-nakuti, tapi fenomena yang terjadi. Dalam skala global, 1 dari 11 orang dewasa menderita diabetes di tahun 2015, dengan merujuk persentase bahwa 8.5% persen orang dewasa terkena diabetes.
Fenomena ini mengkhawatirkan, karena jika tak dicegah, obati dan lawan, maka akan ada 1 dari 10 orang yang menderita diabetes di tahun 2040. Hal ini dilihat dari 415 juta orang dewasa yang terkena diabetes, naik 4 kali lipat dari 108 juta di tahun 1980an. Diperkirakan jumlahnya akan meningkat jadi 642 juta (IDF Atlas 2015). Itu, jika kita tidak bertindak dan beraksi!
Ya, Amit-amit, fakta juga menunjukkan bahwa 2 dari 3 kematian setiap tahunnya terjadi karena penyakit tidak menular (PTM). Diabetes, adalah top three dari PTM yang berbahaya dan menyebabkan kematian. 9 Juta kematian terjadi pada usia kurang dari 60 tahun dan 90% kematian akibat PTM terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia.

Yang jadi masalah, hampir 70% penderita PTM tidak tahu kalau dirinya sakit dan 30%-nya tidak berobat secara teratur di Indonesia. Termasuk diabetes. Ayah saya tahu kalau dia diabetes dari kencingnya yang dikerubuti semut. Makanya, diabetes sering disebut penyakit “kencing manis”. Saat ini, dengan telaten dan kesabaran, Ayah bisa kontrol penyakitnya. Masih bisa bercengkrama dengan anak cucunya. Saya tidak mau ini terjadi lagi, dan terjadi pada orang lain.
Atasi dengan Cerdik diri sendiri, Cerdik di Masyarakat
Lalu, jika melihat fakta diatas, apakah kita berdiam diri saja? Bagaimana mengatasinya. Bagaimana Ayah saya bisa sembuh, bagaimana saya yang keturunannya tidak terkena juga?
Menurut Narasumber, dan ini sudah diamini sebagai gerakan nasional untuk cegah, Obati, dan Lawan Diabetes, yaitu dengan “CERDIK”.
CERDIK di sini, artinya :
1. Cek kesehatan secara berkala, misalnya berat badan, lingkar perut, tekanan darah dan kadar gula darah.
2. Enyahkan asap rokok.
3. Rajin melakukan aktivitas fisik atau berolahraga.
4. Diet dengan kalori seimbang.
5. Istirahat yang cukup.
6. Kelola stres dengan baik.
Masing-masing CERDIK ini bukan sekedar jargon. Apa yang bisa kita lakukan dengan cerdik? Ada dua hal. Pertama untuk diri sendiri, misalnya dengan cerdik diatas. Kedua, tentu kita punya tanggung jawab sosial untuk mengkampanyekan cegah, obati dan lawan diabetes. Ya, percuma dong mengaku blogger kalau pengetahuan hanya disimpan untuk diri sendiri? Mau sehat sendirian?

Masyarakat dan organisasi masyarakat dapat membantu membuat dan memelihara lingkungan yang aman untuk aktivitas fisik, dan meningkatkan akses ke taman dan tempat bermain. Juga perlu menciptakan kesadaran tentang diabetes, komplikasi dan pencegahan. Misalnya dengan kampanya di beberapa komunitasnya untuk pengetahuan “Cerdik” ini.

Nah, kita juga bisa mengidentifikasi dan mendukung orang dengan profil baik di masyarakat yang dapat memimpin perubahan, tokoh masyarakat yang bisa kita informasikan untuk berbicara soal diabetes di masyarakat. Terakhir, kita bisa pula melakukan advokasi untuk aktivitas fisik dan diet yang sehat di lembaga pendidikan, tempat kerja dan organisasi dan komunitas kita!

Jadi, masalah diabetes bukan lagi hal yang pelik dan tak ada solusinya. Dengan Cerdik, kita bisa cegah, obati dan lawan Diabetes. Dengan cerdik di masyarakat, kita bisa mengubah keadaan di komunitas tempat kita berada. Informasi sekecil apapun, jika kita lakukan dengan konsisten dan terus menerus, akan berdampak besar.
Tak bisa kita hanya andalkan pemerintah. Sektor swasta dan masyarakat pun harus beraksi. Bagi blogger, tentu dengan menulis di dunia maya. Eit, blogger juga manusia. Ia pasti berada di komunitas dan organisasi, di tempat kerja, di keluarga. Info-info bermanfaat, advokasi diabetes menjadi relevan untuk dijalankan. Tidak hanya sekedar menghadiri event dan menulis, tapi juga ber-aksi, jangan menunggu ada anggota keluarga kita yang terkena baru kita be-reaksi!
Diet, diet … Jaga berat badan biar gak diabetes.
Tipsnya Jitu nih, makasih sudah berbagai mbk/mas..